alinea interactive report

Please Wait ...

BERJIBAKU HADAPI PANDEMI BANGKIT LEWAT PLATFORM DIGITAL

Pelaku usaha di Indonesia terpaksa menelan pil pahit saat Covid-19 pertama kali terkonfirmasi menjangkiti dua warga Depok, Jawa Barat, Maret 2020 lalu. Saat itu, pemerintah lalu memutuskan untuk menerapkan lockdown secara parsial di Jakarta yang diikuti oleh kota-kota lainnya. Penerapan lockdown bertujuan untuk mencegah penyebaran Coronavirus yang dengan cepat menular ke ribuan penduduk.

Lockdown atau yang biasa disebut dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mengakibatkan jutaan usaha terpaksa gulung tikar. Pusat perbelanjaan tutup, demikian juga dengan rumah makan dan tempat nongkrong.

gbr

Di tengah merebaknya Covid-19, platform digital dipercaya menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan usaha. CEO dan Founder Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan Tokopedia melakukan berbagai penyesuaian demi mengakselerasi pemulihan ekonomi di Indonesia. Salah satunya, dengan meniadakan selebrasi di Ramadan Ekstra, yang biasanya diadakan selama bulan Ramadan, dan menggantinya dengan kampanye #JagaEkonomiIndonesia yang lebih sesuai dengan situasi pandemi ini.

Melalui inisiatif tersebut, Tokopedia mendorong sebanyak-banyaknya masyarakat Indonesia, khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal mendapatkan panggung untuk menciptakan peluang secara daring dan memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan tanpa harus keluar rumah sekaligus menjaga perputaran roda ekonomi Indonesia yang terdampak pandemi.

gbr
} "
“Upaya yang dilakukan secara konsisten tersebut mendorong peningkatan jumlah penjual di Tokopedia. Kini terdapat lebih dari 9,9 juta penjual yang 94% di antaranya adalah penjual berskala ultra mikro,”

kata William melalui keterangan tertulisnya kepada Alinea.id, Kamis (17/12).

Angka itu menunjukkan ada kenaikan sebesar 2,7 juta dari 7,2 juta penjual sejak Januari lalu. Mereka memasarkan lebih dari 400 juta produk ke lebih dari 100 juta pengguna aktif setiap bulannya yang tersebar di 98% kecamatan di Indonesia.

Perusahaan juga melakukan berbagai kolaborasi, baik dengan pemerintah maupun pegiat usaha lintas sektor, untuk membantu pelaku usaha demi mempertahankan bisnis di tengah pandemi. Antara lain melalui #SatuDalamKopi, yakni program kerja sama dengan Kemenparekraf, Kemenperin, dan lebih dari seribu pegiat usaha kopi untuk mengusung industri kopi nusantara. Tokopedia juga mendukung program pemerintah #BanggaBuatanIndonesia untuk mengakselerasi adopsi platform digital bagi para pegiat usaha, khususnya UMKM, agar bisnis yang masih sepenuhnya dikelola luring, dapat beroperasi kembali lewat kanal daring.

Tak hanya itu, menurut William, Tokopedia juga bekerja sama dengan Pemkot Tasikmalaya guna mentransformasi pasar basah Pasar Cikurubuk Online. Lewat inisiatif ini, perusahaan mendigitalisasi pasar basah ke platform Tokopedia. Sejak diluncurkan pada April 2020, Pasar Cikurubuk Online sudah menjual lebih dari 22.000 produk dengan jumlah pedagang yang bergabung mencapai lebih dari 100 orang. Model ini akan direplikasi di beberapa daerah di Jawa Barat.

Segarnya bisnis ice cream online di era pandemi

Richwan Hartono memutuskan resign dari pekerjaannya di sebuah perusahaan sektor retail. Ia memilih banting setir menjadi wirausaha muda.

Awalnya, ia mencoba berbisnis dompet kulit. Namun usaha ini tak bertahan lama.

Akhirnya, sejak Desember 2019 lalu ia memulai bisnis ice cream dengan jenama Comeagain. Ide berbisnis di bidang beverage ini bermuara dari upaya menggabungkan keahliannya di bidang desain dengan sang mitra, Amie Tan yang berpengalaman di bidang pastry.

gbr Bisnis ice cream dipilih karena terinspirasi dari iklim tropis khususnya Jakarta yang seringkali terasa panas. Tak hanya itu, ice cream juga disukai segala rentang usia. Di sisi lain, Richwan juga memperkenalkan ice cream-nya dengan inspirasi dari lukisan, patung, hingga musik. Kenikmatan audiovisual yang dialihkan ke indra perasa.

Untuk modal awal, Richwan mendapatkan sebuah mesin dan tiga lemari es dari seorang kawan yang tidak lagi berbisnis ice cream. Beruntung, ia membeli aset itu dengan harga “teman.” “Gue tampung. Bekas, murah banget. Di bawah Rp20 juta. Memang ini proyek iseng. Tidak mau serius dulu awalnya,” ucapnya kepada Alinea.id, Selasa (8/12).

Untuk awalan, ia menyewa toko di sebuah pasar tradisional sebagai gerai pertama. Namun seiring waktu berjalan, Comeagain memperoleh banyak tawaran unik hingga akhirnya membuka tiga toko di berbagai mal. Total modal yang disiapkan pun tak tanggung-tanggung sekitar Rp200 juta.

Sayangnya, baru berjalan selama hitungan bulan, ice cream Comeagain terganjal pandemi. Toko-tokonya terpaksa tutup akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada Maret lalu. Namun, ia mengaku bisnisnya tidak terlalu terguncang pandemi Covid-19. Pasalnya, sejak Januari 2020 ia sudah membuka toko online.

Pada masa PSBB, Richwan mengalihkan seluruh penjualan ke toko online. Berbisnis secara daring ini mempunyai tantangan tersendiri yakni dari segi teknis pengiriman ice cream. Apalagi, jika ice cream harus diantarkan ke luar kota. Pesanan harus tetap membeku selama perjalanan dan sampai ke tangan pelanggan.

gbr

Menurutnya, pengiriman ice cream masih belum terlalu banyak dilakukan di DKI Jakarta. “Saat itu, lebih banyak toko ice cream yang pelanggan datang ke tempat, makan, bawa pulang. Kalau kirim-kirim dan berjualan online, masih sedikit yang main. Kami tergolong lumayan awal pindah ke arah sana,” ujar pria kelahiran 1991 ini.

Ia menyiasati penggunaan ice pack gel untuk menjaga ice cream tetap membeku selama perjalanan. Bahkan, untuk jarak pengiriman yang sangat jauh ia memanfaatkan biang es (dry ice) meski harganya cukup mahal. Soal biaya ini, Richwan tak mau ambil pusing demi kualitas ice cream tetap terjaga.

Yang terpenting, kata dia, para pelanggan tidak kecewa. “Kami sama ratain saja (harga). Jadi, pelanggan hanya beli sesuai harga ice cream, mau dekat atau jauh. Sekarang sih kurang lebih kami sudah tahu, jarak tempuh berapa, itu pakai berapa ice pack, ” ucapnya.

Adapun pusat pengiriman Tokopedia berasal dari lokasi toko ice cream-nya di Gandaria City, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Menurutnya, basis pelanggan bisa berubah seiring dengan lokasi pusat pengiriman di sekitar radius 4-10 kilometer.

Ia cukup terkejut karena banyak order yang berasal dari Depok atau Bekasi, Jawa Barat. Padahal, ongkos kirim bisa seharga ice cream.

Hingga saat ini, Richwan masih belum terpikir untuk membuka kembali toko offline-nya mengingat situasi pandemi. Namun, untuk sementara waktu ia membuka gerai di sebuah mal untuk bazar yang berlangsung dari November hingga Januari 2021 nanti.

}
Richwan mengaku lapak online membuat penjualan lebih mudah. Ia bisa bebas berpromosi melalui media sosial dan tidak terkesan memaksa calon pembeli untuk datang ke toko. Namun, meski tak terbebani biaya sewa, toko online juga harus memberikan berbagai promo dan gratis ongkir.

Untungnya, dari segi pemasukan dan pengeluaran, toko online ice cream lebih stabil daripada toko offline. Jika dirinci pengiriman per bulan bisa sekitar 300-500 transaksi. Ketika penjualan meningkat, per bulan bisa 600 kali order atau sekitar 20 kali per hari.

COKELAT PALING LARIS

Dari sekitar 15 varian rasa ice cream, cokelat merupakan yang paling diminati. Kebetulan, mitranya, Amie Tan, adalah pembuat resep, sekaligus seorang spesialis pastry cokelat. Varian rasa ice cream yang terbilang ‘aman’, seperti cokelat, vanilla, dan kacang, memang paling laris.

Ini berbeda dengan penjualan di toko offline. Calon pembeli bisa tertarik untuk mencoba varian ice cream yang unik seperti rasa timun. Beberapa ulasan pelanggan di Tokopedia yang mendeskripsikan dengan rinci bisa menumbuhkan keberanian calon pembeli mencoba varian rasa ice cream lainnya.

Berkat beralih ke toko online, Richwan bisa tetap mempekerjakan sebagian karyawannya. Ke depan, ia berencana melebarkan bisnis ice cream Comeagain-nya hingga ke luar kota.

cmgn

cmgn

Bisnis aromaterapi kian mewangi

Selepas menyelesaikan kuliahnya di Sidney, Australia, Albert (29) langsung terpikir untuk membangun usaha. Bermula dari kegemarannya pada perfumery dan aromatherapy, ia mulai membangun Euodia Home. Bisnis ini fokus pada penjualan fragrance diffuser, home and linen spray, soy scented spray, dan travel diffuser.

“Di sana (Australia) banyak produk-produk seperti ini. Pas pulang ke Jakarta, kok di sini jarang. Akhirnya titip-titip dan saya cek, kemudian sudah familiar, akhirnya coba bikin sendiri,” kata Albert kepada Alinea.id dalam wawancara daring Kamis (10/12).

gbr

Di tangan Albert, semua bahan aromaterapi diracik dalam 15 varian produk. Albert pula yang berinovasi menciptakan produk-produk baru. Kebetulan, keluarga besarnya sudah terlebih dahulu berbisnis home furniture. Akhirnya, ia mengolaborasikan bisnis miliknya dan keluarga besarnya yang masih satu irama dalam kategori peralatan rumah.

}
Di awal merintis usaha itu, Albert pun menghadapi berbagai tantangan.

Menurutnya, resep dasar berupa essential oil ini bisa diaplikasikan dalam beberapa jenis produk. Namun, meski memiliki aroma serupa essential oil, ternyata memiliki khasiat dan fungsi berbeda.

“Favorit pembeli Freesia Green Fragrance, itu kreasi pertama kali dari 2015. Wanginya fresh, tapi ada woody dan ada spicy dikit,” ulasnya.

Lulusan teknik kimia ini juga harus berpikir keras agar aroma dari masing-masing oil bisa menyeruak. Untungnya, Albert sudah mempunyai bekal ilmu perfumery sebelum merintis bisnisnya.

“Misalnya saya kasih note karena masing-masing aroma harus beda, seperti lemon, lime, bergamot, mandarin, itu semua kami harus bedakan,” tambahnya.

Ia meyakini essential oils dan aromatherapy akan menciptakan suasana yang nyaman dan menenangkan.

Albert juga menjamin produknya menggunakan bahan baku berkualitas dan aman. “Candle (lilin) pakai soy wax, berbeda dengan yang lain yang pakai parafin. Ini lebih aman, enggak terlalu berasap," ungkapnya.

Tutup Toko Karena Pandemi

Bisnis Albert terus berkembang hingga ia mampu membuka toko di mal-mal ternama kota besar seperti Medan, Surabaya, dan Bali. Namun, sejak ada pandemi Covid-19 Maret lalu, toko-toko itu terpaksa tutup. Otomatis penjualan pun merosot drastis.

“Sebelum pandemi, distribusi Euodia Home 80% ritel offline. Lalu saat pandemi, toko di Jakarta banyak tutup hampir sebulan jadi sales drop sekali,” ujarnya.

Penjualan offline ini, menurutnya, jadi urat nadi bisnis aromatherapy. Pasalnya, konsumen membutuhkan experience dengan mencium langsung setiap produk dan memilih aroma sesuai keinginan mereka.

Namun di tengah anjloknya penjualan, Albert pun tak patah arang. Ia memutuskan untuk mengalihkan penjualan ke toko online sejak awal pandemi. Untungnya, sejak Desember 2017, Euodia Home juga sudah bergabung di marketplace Tokopedia.

} "
“Sebelum pandemi sudah ada online, tapi penjualan lebih banyak dari offline sales. Selama pandemi toko tutup, maka penjualan dari offline bisa dikatakan kosong, sebaliknya online malah naik sekitar dua kali lipat dari sebelumnya,”

Albert
Owner Euodia Home

Lonjakan penjualan itu berasal dari para pelanggan loyal yang tetap setia mengonsumsi produk Euodia Home. Meski kegiatan experience atau mencium secara langsung kini tak bisa dilakukan, Albert mengaku tetap bisa menjaring pelanggan baru.

“Bisa jadi karena mereka lebih banyak di rumah, jadi ingin menciptakan suasana yang nyaman dengan aromaterapi,” sebutnya.

Soal experience yang kini hilang, Albert menyiasatinya dengan deskripsi produk di beranda Tokopedia. Review produk juga akan mengarahkan pembeli ke berbagai jenis aroma bernuansa fruity, floral, citrus, maupun woody.

“Kami ada ukuran macam-macam dari 50 mililiter (ml) yang tahan satu bulan sampai 500 ml yang tahan sampai satu tahun. Jadi kalau ada yang belum berani komitmen, kami sarankan yang 50 ml saja,” tuturnya.

KEUNTUNGAN
TOKO ONLINE

Albert termasuk beruntung. Ia bisa menutup penjualannya yang merosot drastis dengan penjualan di toko online. Sejak 2017, ia mengaku tertarik dengan Tokopedia.

“Saat itu, saya sudah pengguna Tokopedia. Platform ini sangat mudah digunakan dan fleksibel bagi semua orang dan saya sering pakai karena banyak promo-promo menarik, voucher, dll. Marketplace pertama saya join, ya Tokopedia,” jelasnya.

Selain Tokopedia, Euodia Home juga mempunyai webstore sendiri dan bergabung dengan marketplace lain sejak awal tahun. Menurutnya, toko online di marketplace terutama di Tokopedia sangat membantu para wirausahawan.

“Kami terbantu dengan sistem Tokopedia. Penerimaan pesanan yang jelas dan proses order tinggal pencet pick-up itu mempermudah sekali. Beda dengan sebelum (bergabung) ke Tokopedia, harus menanyakan via chat, cek ongkir, dan sebagainya," paparnya.

}
Di era new normal ini, toko Euodia Home di mal sudah kembali dibuka. Namun, khusus penjualan online, toko di Tokopedia berkontribusi hingga 75% dari total penjualan daring.

“Tokopedia selama PSBB menyumbang penjualan 80% secara keseluruhan, benar-benar dari situ,” tambahnya.

Kini, Albert menyebut jumlah order atau transaksi di Tokopedia stabil pada kisaran 100-120 transaksi. Adapun jumlah item atau produk berkisar 100-120 per bulannya. Lapak online juga membuat jangkauan produk lebih jauh. Tak hanya di pulau Jawa, Euodia Home melayani pengiriman ke Sumatera, Bali, Kalimantan, bahkan Papua.

Packaging kami rata-rata botol kaca, kami mitigasi dengan packing menggunakan bubble wrap dan box. Kalau ada kesalahan di jalan, sebagai seller kami pasti bertanggung jawab dan Tokopedia untungnya selalu menengahi kalau ada kejadian ini,” kata pria yang berdomisili di Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini.

gbr

Salah satu inovasi produk yang cukup laris di toko Tokopedia adalah paket hampers atau bingkisan. Dengan kisaran harga mulai dari Rp299.000 hingga Rp1 juta ini, pembeli dapat mengirimkan gift bagi orang tersayangnya. Permintaan ini pun semakin melonjak kala Idulfitri, Natal, maupun Imlek.

“Biasanya akhir tahun ada hampers, gift, akhir tahun naik dua kali lipat. Selain itu, Lebaran juga ada kenaikan, tapi Lebaran lebih sedikit, lebih banyak akhir tahun,” ujarnya.

cmgn

cmgn

Nikmatnya bisnis kuliner spageti ala Bruule

Bisnis kuliner sudah tidak asing lagi menjadi salah satu pilihan banyak orang yang terjun berwirausaha. Bisnis ini terus bergairah dan menjadi mesin uang bagi para pelakunya. Memang, setiap orang tak pernah lepas dari kebutuhan pokok, yaitu pangan.

Tidaklah mengherankan, usaha kuliner tumbuh subur di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Covid-19 yang terdeteksi ada di Indonesia sejak awal Maret silam memukul banyak pengusaha kuliner. Mereka terganjal pembatasan operasional sekaligus daya beli masyarakat yang menurun. Alhasil, pendapatan pun berkurang drastis.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat subsektor akomodasi makan dan minum (kuliner) minus 16,81% pada kuartal II-2020 akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Meskipun begitu, sejumlah pengusaha kuliner masih mampu bertahan dan mencetak laba melalui penjualan daring dan layanan pesan antar.

pic

Salah satu yang meneguk untung di tengah kondisi pandemi adalah pasangan suami-istri Reza Harisky (33) dan Sarila Mauriza Danubrata (31). Pasangan ini menjual panganan khas Italia, spageti sejak Maret lalu atau bersamaan dengan datangnya pandemi. Uniknya, spageti ini tak dihidangkan dengan saus bolognese seperti resep kebanyakan.

Makanan pasta yang hadir dengan merek “Bruule” itu memiliki ciri khas dipanggang dengan saus béchamel di atasnya. Saus putih nan gurih tersebut membuat hidangan spageti terasa lebih spesial.

Meskipun berisiko lantaran memulai bisnis saat pagebluk, namun pasangan ini tetap berani terjun ke dalam bisnis kuliner demi bertahan hidup. Reza menceritakan keluarga besarnya sudah lama membagi-bagikan spageti homemade-nya kepada teman, kerabat, dan sesama anggota keluarga besar secara cuma-cuma sebagai bingkisan atau hampers.

Seringkali, spageti racikan keluarganya mendapat pujian dari orang-orang sekitar karena kelezatannya. Mulai dari situlah banyak yang meminta agar spageti resep keluarga itu dijual.

gbr
} "
Ada dorongan juga, kenapa enggak kami jual? Tahun lalu kami mau jualan, tapi saat itu belum menjadi prioritas. Memasuki bulan Maret (pandemi), tidak semua orang beruntung, akhirnya kami mulai usaha dengan niat survive (bertahan hidup) dan melihat lingkungan sekitar kami juga terdampak Covid-19. Akhirnya kami buat ini bareng-bareng.

Riza Harisky - Owner Bruule kepada Alinea.id melalui sambungan telekonferensi.

Usaha itu sempat tak berjalan mulus karena keterbatasan modal saat awal berdiri. Mereka lalu memutuskan memproduksi sendiri spageti dari rumah di Jakarta Selatan guna menekan biaya. Minimnya modal juga disiasati dengan menawarkan pemesanan terlebih dahulu (pre-order) kepada konsumen. Pemesan harus mencatat order tiga hari sebelum delivery.

Menurut Sarila, produk spageti yang mereka jajakan merupakan modifikasi dari resep asli sang bude yang bergaya Barat. Agar sesuai dengan lidah orang Indonesia, Reza dan Sarila menambah cita rasa manis dan pedas pada spageti ala Bruule. Alih-alih memanfaatkan saus sambal, Bruule menggunakan cabai untuk menjaga cita rasa spageti.

“Memang di pandemi ada ketakutan kalau produk tidak laku. Sekarang orang sulit untuk makan di luar, namun karena kami merupakan makanan delivery (pesan antar), InsyaAllah ada yang beli lah,” ujarnya.

Selama pandemi pula, bisnis kuliner Bruule berkembang pesat. Kini Bruule telah mempekerjakan 47 orang yang terdiri dari 35 orang pegawai dapur dan 12 agen pemasaran yang tersebar di berbagai kota, yakni Bogor, Bekasi, Bandung, Tangerang, Surabaya dan Lampung.

Di wilayah-wilayah tersebut, para pelanggannya sudah bisa melakukan pre-order melalui pemesanan daring.

BERKAH JUALAN DARING

Sejak awal, pasangan suami-istri tersebut mengandalkan penjualan daring karena tidak memiliki toko secara fisik. Pada minggu-minggu pertama, Bruule memasarkan produknya hanya melalui media sosial.

“Awalnya kami benar-benar berbisnis dari rumah, masak di rumah, dan sistem pre-order. First delivery pada 28 Maret. Saat itu, total loyang per minggu 12. Semuanya full pemesanan melalui media sosial,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, usaha mereka terus berkembang hingga mampu menjual 300 loyang spageti berukuran sedang dan besar tiap harinya. Bila dirupiahkan, omzet mereka dapat mencapai Rp45 juta – Rp75 juta tiap harinya.



}
Lonjakan omzet ini terjadi setelah Bruule merambah lini penjualan via marketplace atau e-commerce, yaitu Tokopedia. Menurut Sarila, marketplace memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan media sosial semata.

“Kami join Tokopedia ketika bulan Juli dan permintaan market lumayan besar,” ujar Sarila.

Sarila menilai pemasaran melalui Tokopedia semakin mempermudah pelayanan pelanggan. Jika sebelumnya Bruule kewalahan lantaran harus menjawab ratusan pemesanan pelanggan melalui aplikasi pesan singkat, kini terbantu karena pesanan langsung masuk lewat platform.

“Dengan adanya Tokopedia, pekerjaan terbantu sekali karena lebih mudah. Pelanggan enggak perlu melakukan chat via aplikasi pesan singkat kepada admin terlebih dahulu untuk bertanya apakah produknya available (tersedia) atau enggak,” ujar Sarila.

Reza menambahkan, pemasaran melalui marketplace mampu mendongkrak pesanan yang diterima. Ia mencatat dari pesanan 300 loyang sehari, sekitar 40% hingga 50% di antaranya dijual melalui Tokopedia. Pengiriman dilakukan dari dapur produksi rumah mereka di Pancoran, Jakarta Selatan.

gbr
Sarila Mauriza Danubrata - Owner Bruule

“Kami melihat ada diskusi antara seller dengan tim Tokopedia, pengembangan usaha bareng-bareng, kolaborasi, dan itu sesuai dengan yang kami harapkan, layaknya mitra,” katanya.

Bruule semakin mengembangkan usahanya. Tak hanya melayani pre-order, bisnis yang baru berumur satu semester itu juga menjalin kerja sama dengan sejumlah kedai kopi di Jakarta untuk menjual produk-produknya, yakni Tujuhari Coffee, 7 Dials Coffee, Publichood Coffee & Roastery, dan Masalalu Café. Kerja sama penjualan dilakukan melalui sistem konsinyasi atau jual titip.

“Kami mau teman-teman di luar sana yang mau coba Bruule, kangen Bruule, atau pairing (memasangkan) makan spageti dengan kopi, bisa mudah mendapatkannya karena banyak pesanan yang masuk ke kami ingin produk ready stock, karena itu kami sediakan di coffee shop (kedai kopi),” jelasnya.

Libatkan influencer

Melalui media sosial yang dikelolanya, Bruule melibatkan sejumlah influencer dan selebritas untuk mempromosikan produk-produk mereka. Beberapa influencer yang pernah dan sedang digandeng adalah Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Tarra Budiman, Gya Sadiqah, Febrian Nindyo (HIVI!), Komeng, Fadil Jaidi, dan lainnya.

“Bruule itu awal banget kami kasih ke teman-teman dulu, dengan harapan kalau enak minta bantu untuk post. Kalau misalnya enggak enak, enggak usah post. Alhamdulillah, meski banyak influencer, tapi Bruule tidak mengeluarkan biaya sama sekali, kecuali untuk produk. Kami kirim ke orang untuk minta feedback apa kurangnya? Alhamdulillah, secara sukarela banyak yang willing to post (bersedia berbagi) untuk mengunggah Bruule,” beber Sarila.

Produk tersebut juga dapat dikenal oleh para influencer melalui promosi mulut ke mulut yang telah dilakukan sejak awal berdiri. Ia berpendapat kepuasan konsumen adalah strategi jitu untuk menggenjot penjualan sekaligus menjaga loyalitas konsumen. Menurut Sarila, Bruule hanya akan booming di awal bila mutu produk dan pelayanan tidak mampu memuaskan pelanggan.

gbr

Tak hanya promosi, Bruule juga selangkah lebih maju melalui kolaborasi dengan Nagita Slavina. Kerja sama dengan istri Raffi Ahmad itu menghasilkan produk baru, yakni Bruule Bomb Mama Gigi. Produk ini baru dipasarkan pertengahan September lalu melalui Tokopedia.

img

Bruule Bomb Mama Gigi berupa bola-bola daging yang dibalur dengan keju khas Bruule. Berbeda dengan spageti, bola-bola ini dijual dalam bentuk beku (frozen) yang sudah siap goreng.

“Nagita Slavina itu salah satu pelanggan Bruule yang paling setia kali ya. Ibaratnya setiap buka pre-order, Mbak Gigi salah satu yang selalu beli. Alhamdulillah di tim Bruule ada yang kenal dengan Mbak Gigi. Tiba-tiba, mungkin karena senang produknya, Mbak Gigi bilang, buat sesuatu yang baru dong. Kami senang-senang saja diajak begitu. Kami coba develop produk dan akhirnya keluar Bomb Mama Gigi ini,” ungkap Sarila.


Rambah Luar Kota

Ke depan, Reza mengungkapkan akan fokus mengembangkan pemasaran ke luar Jakarta melalui pembukaan titik penjualan (drop point baru). Bruule juga akan menambah dapur produksi yang baru. Untuk saat ini, rumah produksi di Jakarta masih mampu mengirim paket ke kota-kota yang dapat terjangkau ditopang oleh kemudahaan akses transportasi.

img

} "
Harapannya reach-nya (jangkauan) lebih besar. Jujur banyak yang tanya kapan buka di area sini? Itu jadi PR (pekerjaan rumah) kami agar segera dieksekusi.

Reza Harisky
Owner Bruule

Bruule juga sudah memiliki rencana untuk membangun kolaborasi dan meluncurkan produk baru. Harapannya, langkah ini mampu mengejar perkembangan industri makanan dan minuman yang berlangsung cepat.

“Yang penting bukan produk baru atau enggak, tapi kami berharap setiap produk sesuai dengan standar kami, kualitasnya baik, dan orang pun nyaman menikmati karya kami,” tutur Reza.

Sementara itu, Sarila berharap usaha mereka dapat memberi manfaat dan dampak positif bagi banyak orang. Hal tersebut menjadi motivasi bersama untuk mengembangkan bisnis yang selama ini telah berjalan.

“Kami percaya banget dengan konsep kolaborasi kayak dengan coffee shop, jadi win-win semuanya. Kami ingin punya kolaborasi yang lebih banyak dengan berbagai kalangan, termasuk dengan Tokopedia,” tutur Reza.

img

img

Kamalika Artprints, membalik penjualan nol rupiah jadi untung berlipat

Covid-19 memaksa salah satu brand fashion yang berbasis di Jakarta Selatan, Kamalika Artprints beralih menjajakan produk-produknya dari toko offline ke toko online. Hal itu dilakukan agar usaha yang telah didirikan sejak 2011 ini tak tergulung oleh dampak pandemi.

img

Pendiri sekaligus pemilik Kamalika Artprints Winarti Handayani (42) bercerita, pada awal wabah datang ke Indonesia, yakni Maret hingga awal April, empat toko yang dimilikinya sama sekali tak mencatatkan penjualan.

Ini terjadi karena adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang saat itu diterapkan pemerintah untuk meminimalisir penyebaran virus. Akibatnya, banyak toko, baik yang berada di pusat perbelanjaan atau pasar yang harus ditutup, tak terkecuali empat toko milik Winarti.

“Dengan pandemi kemarin, semua toko terpaksa tutup. Itu berdampak banget dan penjualan pada saat itu memang nol. Di bulan Maret-April, April awal,” ujarnya kepada Alinea.id, Kamis (10/12).

Ia pun menyadari satu-satunya hal yang dapat dilakukan untuk membangkitkan kembali penjualan produknya adalah dengan membuka toko online. Namun, ide ini mengalami kendala. Pasalnya platform digital kamalikaartprints.com yang ia miliki hanya mencatatkan sedikit penjualan. Belum lagi banyak pengunjung yang mengeluhkan sistem platform tersebut.

Akhirnya, ibu tiga anak ini memutuskan untuk menggelar toko online di salah satu platform penjualan digital, Tokopedia.

gbr
} "
“Saya pikir, coba lihat-lihat, orang-orang kok pada jual di Tokopedia, nanya juga sana-sini,”

Winarti Handayani
Owner Kamalika Artprints

Setelah bergabung dengan Tokopedia, Winarti menyebutkan, penjualan produknya kembali meningkat. Dari semula penjualan nol rupiah, kemudian melonjak bahkan jauh lebih tinggi dari sebelum masa pandemi.

Dalam satu bulan saja, toko online-nya bisa mencatatkan penjualan paling sedikit Rp180 juta hingga Rp200 juta. Selama pandemi, tokonya juga pernah mencatatkan rekor penjualan tertinggi yang mencapai Rp300 juta dalam waktu satu bulan.

Angka ini melonjak drastis jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi. Kala itu, rata-rata penjualan dari setiap toko offline-nya hanya mencapai Rp50 juta sampai Rp60 juta per bulan.

“Makanya saya bilang saya surprised banget. Dalam waktu satu bulan, ternyata sebulan nilai pendapatan saya di Tokopedia itu sudah hampir mencapai omzet semua toko saya dalam sebulan,” katanya.

koin

Adapun sekarang, pendapatan yang didapatkan dari keempat toko yang sudah diperbolehkan untuk dibuka kembali hanya sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta per toko. Turun hampir 50% dari pendapatan setiap toko per bulannya, sebelum masa pandemi.

“Kalau offline mah enggak menentu. Kadang 0 sales, kadang ya cukup oke. Ya itu tadi dari bulanannya saja, kalau dulu di Rp50 juta sampai Rp60 juta, sekarang anggap setengahnya. Paling di kisaran Rp20 juta atau Rp30 juta per toko,” tuturnya.

Inovasi Produk

Winarti mengakui salah satu produk yang paling diburu saat pandemi adalah masker. Produk ini merupakan inovasi Kamalika Artprints dan baru diluncurkan Mei lalu. Pada awal virus SARS-CoV-2 melanda Tanah Air, Kamalika Artprints bisa menjual hingga 750 buah masker kain dalam jangka waktu 24 jam, dengan sistem pesanan atau pre-order (PO). Saat ini, Winarti mencatat penjualan 30-50 buah masker setiap harinya.

Adapun untuk penjualan produk lain jumlahnya juga mencapai ribuan dari Tokopedia. Produknya meliputi tas, pouch, baju outer, skirt, home product, hingga stationary. Terkait produk, Winarti menyebutkan, pihaknya telah membuat lima seri gambar untuk seluruh produknya sejak awal pandemi.

Seri pertama dan kedua, masing-masing berupa gambar ondel-ondel dan perempuan berkebaya. Gambar yang dirilis pada Juni lalu itu dibuat untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta yang ke-493 tahun. Seri ketiga, berupa gambar Sang Saka Merah Putih yang dirilis untuk memperingati HUT Republik Indonesia Agustus lalu.

img

Selanjutnya, seri keempat yang dinamai Secret Garden baru dirilis pada Oktober lalu. Seri terakhir, lanjutnya, dikeluarkan pada Desember untuk menyambut libur akhir tahun. Dia menamai seri terakhir itu sebagai New Bara.

“Jadi ada lima desain, gambar baru. Kalau aplikasinya sebenarnya sama,” ujarnya.

Lebih lanjut, ilustrator Kamalika Artprints itu menjelaskan, pandemi ini merupakan tantangan besar bagi dirinya dan pelaku usaha lainnya. Namun, dia mengaku, setelah bergabung dengan Tokopedia banyak keuntungan yang bisa didapatkan selain pendapatan yang lebih besar.

Winarti bilang, saat ini pelanggan Kamalika Artprints tidak hanya berasal dari daerah Jakarta saja, melainkan juga ada yang berasal dari pulau-pulau lain, seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Hal itulah yang kemudian juga mengharuskannya belajar lagi. Terutama soal cara pengemasan atau packaging produk yang lebih menarik.

}
“Karena Tokopedia, saya melihat kiriman itu banyak, jadi kami juga membuat desain packaging yang baru. Yaitu bahan yang tebal, dan supaya paper bag-nya enggak mudah rusak juga,”

Winarti - Owner Kamalika Artprints

Lebih dari itu semua, Winarti juga bisa mengembangkan bisnisnya di tengah pandemi ini. Hal itu terlihat dari penambahan tenaga kerja Kamalika Artprints. Baik itu tenaga kerja untuk mengisi posisi admin Kamalika yang fokus pada toko online di Tokopedia ataupun tenaga kerja yang akan membantu tim Kamalika Artprints di rumah produksi di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Sebenarnya kami tambah orang juga untuk melayani yang dari Tokopedia. Jadi usaha juga membesar,” katanya.

img

img

Cuan Tanaman Hias Kian Menghijau

Patricia Aristo (31) teringat masa kecilnya kala sang ibunda merawat tanaman hias di pekarangan rumah. Namun, ia membenci kegiatan berkebun yang dianggapnya kotor. Setelah menikah dan pindah rumah, Patricia lambat laun justru menyukai aktivitas tanam-menanam itu.

Sang ibu memintanya untuk memelihara tanaman yang dapat mengurangi polusi udara. Tanpa berpikir panjang, ia pun mengikuti saran ibunya.

“Akhirnya aku coba dan itu benar-benar bikin beda suasana rumah, debunya juga makin berkurang. Waktu itu tanamannya Sansevieria atau lidah mertua. Sejak itu mulai hobi,” tuturnya kepada Alinea.id beberapa waktu yang lalu.

gbr

Hobi gardening itu pun kerap ia posting di Instagram. “Waktu itu enggak ada yang suka tanaman, belum kayak sekarang,” tambahnya.

Berawal dari rasa cinta terhadap tanaman, ibu satu anak itu lalu memutuskan untuk menjajakan koleksinya. Awalnya ia iseng menjual tanaman Monstera yang dipeliharanya sejak 2016. Ia mempromosikan tanaman asli Amerika Selatan itu di toko daring Shop with Sky melalui platform marketplace Tokopedia.

Pada saat itu, ia merupakan satu-satunya orang yang menjual tanaman hias di Tokopedia. Pun, butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan pembeli pertama tanamannya.

gbr
} "
Sampai 11 Agustus 2016, tiba-tiba ada satu yang beli. Monstera-nya aku sayang banget, tapi aku relain. Bagaimana sih rasanya pelihara setahun, terus tiba-tiba dijual? Tapi, aku terlanjur posting di Tokopedia waktu itu. Aku relain saja,”

Patricia Aristo
Founder Shop with Sky

Si pembeli langsung mengunggah tanaman itu di laman Instagramnya. Tak dinyana, postingan itu dilihat oleh banyak influencer yang kemudian ingin turut membeli koleksinya. Akhirnya, toko daring yang semula merupakan toko barang-barang bekas (second hand stuff) bertransformasi menjajakan tanaman hias.

Patricia awalnya juga tak melirik bisnis tanaman lantaran menganggap berkebun sebagai hobi semata. Namun, melihat peluangnya yang menjanjikan, Shop with Sky kini sepenuhnya fokus untuk menjual tanaman hias dan peralatan berkebun.

Usahanya pun terus berkembang. Sekarang, Patricia memiliki sebuah gerai di Ruko Kahfi One, Jagakarsa, Jakarta Selatan dan kebun bibit (nursery) di sejumlah daerah.

} "
“Kalau enggak ada Tokopedia, maka enggak ada Shop with Sky,”

Patricia Aristo - Founder Shop with Sky

Ibu dua anak ini menilai tanaman jika berada di tempat yang sesuai dengan penyiraman yang pas, maka akan tumbuh dengan sendirinya. “Tugas kita hanya menyiapkan lingkungan untuk bikin tanaman tersebut nyaman,” katanya.

BOOMING SAAT PANDEMI

Di sisi lain, pandemi Covid-19 ternyata mendorong perkembangan hobi rumahan seperti berkebun. Hal ini tentu membawa berkah bagi Shop with Sky. Patricia mengungkapkan tokonya bahkan mengalami kenaikan penjualan tiga hingga empat kali lipat dibandingkan sebelum pandemi lewat penjualan di Tokopedia.

“Selama pandemi amazingly (luar biasa) pot, media tanam, dan pupuk paling laris. Orang-orang tiba-tiba lebih memperhatikan, lebih penasaran cara bercocok tanam sendiri. Satu atau dua tahun lalu, penjualan lebih banyak jenis tanaman seperti tanaman koleksi. Sekarang masih banyak juga sih, tapi aku lihat newbie (pemula) lebih banyak mencari pot, pupuk, dan media tanam,” jelasnya.

img

}

Adapun jenis tanaman hias yang digandrungi para pelanggan adalah Philodendron, Syngonium, dan Monstera. Ketiga jenis tanaman tersebut memang tengah naik daun di kalangan pecinta tanaman hias.

Patricia bahkan mengaku kesulitan memenuhi permintaan tanaman hias di kala pandemi lantaran terbatasnya pasokan dari petani. Belum lagi, penjual tanaman hias juga makin menjamur. Hal ini menyebabkan kenaikan harga tanaman hias selama pagebluk.

“Kesulitannya adalah cara operational excellence di saat pembeli tambah banyak dan tuntutannya lebih luar biasa. Mungkin karena mereka di rumah, jadi sebentar-sebentar cek pesanannya sudah dikirim atau belum. Kalau dulu, pembeli orang kantoran. Jadi pesan sekarang, besok diterima. Itu tantangan buat kami untuk keep up (mempertahankan) operasional dan pelayanan,” katanya.

Strategi Bisnis

Patricia menjelaskan strategi bisnisnya terdiri dari tiga rumus, yakni tanamannya happy, pembelinya happy, dan timnya juga happy. Hal ini dilakukannya mulai dari pembibitan tanaman di nursery hingga diterima di tangan pelanggan.

Oleh karena itu, pihaknya mengemas tanaman sedemikian rupa sehingga tidak mudah rusak dan nyaman dibawa oleh kurir yang mengantarkannya. Pada akhirnya, pelanggan menerima tanaman pesanannya dengan rapi sesuai ekspektasinya.

“Strategi saat pandemi dan enggak pandemi sebenarnya tetap sama karena dari dulu kami fokus ke customer, tidak ke tren dan kompetitor. Kami sekarang baca pergerakan market. Kalau market-nya lebih banyak aksesoris bertanam, maka kami provide (sediakan) itu,” Perempuan yang baru melahirkan anak keduanya bulan lalu.

Menurutnya, konsistensi pasokan dan kepercayaan pelanggan menjadi kunci dalam menjalankan bisnis. Untuk menjamin ketersediaan stok tanaman, pihaknya memiliki nursery sendiri untuk memasok permintaan konsumennya.

“Kalau yang kami kembangbiakkan sendiri stabil sih. Misalnya Syngonium, sekarang harganya sudah tiga digit. Dulu sekitar Rp25.000, sekarang Rp225.000. Sekalipun kami bisa jual mahal, kami enggak ikut menaikkan harga karena dikembangkan sendiri dan kami jaga harganya tetap murah, meskipun pasaran naik-turun. Kami jaga konsistensi, walaupun harganya naik, kami hanya naik dikit,” tuturnya.

garden

Selain menjual tanaman hias, Shop with Sky juga melakoni bisnis penyewaan tanaman dan proyek pertamanan. Sayangnya, bisnis itu ikut lesu terimbas pandemi. Karena itu pula, Patricia dan timnya fokus kepada penjualan ritel. Dia mengklaim penjualan ritel mampu menutupi kehilangan omzet dari bisnis penyewaan tanaman dan proyek pertamanan.

“Untuk Shop with Sky, tidak fokus ekspor dulu. Kami lagi fokus di market Indonesia. Sekalipun  permintaannya sudah ada, tapi aku enggak mau ambil. Itu sih buat produsen-produsen tanaman lain. Mereka bukan berjualan online, tapi mereka memang produsen tanaman,” ungkapnya.

img

}
Patricia berkeinginan untuk membuka lapangan kerja baru seiring kian meningkatnya permintaan pasar. Hal ini sejalan dengan fokusnya merambah pasar ritel. Meskipun selisih harga yang ditawarkan lebih kecil, kata dia, pasar ritel mampu mempekerjakan lebih banyak orang.

Selain itu, Shop with Sky sedang menjajaki pembukaan gerai baru di area Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Patricia dan timnya tengah mencari rekan dan lokasi yang tepat untuk calon gerai barunya.

“Harapannya bisa tetap running konsisten saja dan kami bisa benar-benar lebih banyak membantu banyak orang untuk memahami dan mengenal tanaman. Kami tidak hanya fokus jualan saja, tapi bisa kasih value dan educate kepada lebih banyak orang, sehingga bisa merawat tanaman lebih happy di rumah,” ujarnya.

cmgn

cmgn

up