Bikin rugi, Garuda Indonesia kembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ 1000

Operasional Bombardier CRJ 1000 selama tujuh tahun menimbulkan kerugian rata-rata sebesar US$30 juta per tahun.

Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia. Foto dokumentasi Garuda Indonesia.

Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan akan mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ 1000 yang dikontrak PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) hingga tahun 2027.

Erick menjelaskan, selama ini Garuda Indonesia menjadi maskapai dengan leasing cost tertinggi di dunia, mencapai 27%. Langkah memutus kontrak operating lease dengan Nordic Aviation Capital (NAC), akan meringankan beban Garuda Indonesia.

"Kami memutuskan mengembalikan 12 pesawat Bombardier, mengakhiri kontrak ke Nordic Aviation Capital yang jatuh temponya 2027," kata Erick dalam konferensi pers bersama Garuda Indonesia secara virtual, Rabu (10/2).

Erick mengungkapkan langkah ini diambil setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantu Serious Fraud Office (SFO) Inggris, menyelidiki pengadaan pesawat Bombardier tersebut pada 2011 silam. Dia menyebut ada indikasi suap dari pihak pabrikan kepada oknum pimpinan Garuda Indonesia pada proses pengadaan di 2011.

"Proses negosiasi ini sudah terjadi berulang kali antara Garuda dan NAC, ini niat baik kami. Tetapi, early termination (pemutusan kontrak lebih awal) ini belum mendapatkan respons dari mereka (NAC)," ujar dia.