Harga beras terus naik meski stok BULOG tinggi. Penyebabnya: gabah mahal, produksi melandai, dan SPHP kurang kuat menahan pasar.
Harga beras terus merangkak naik. Beras medium maupun premium. BPS mencatat, pada pekan ketiga Juni 2026, harga rerata nasional beras medium mencapai Rp14.402 per kilogram (kg) atau naik 0,38% dibandingkan harga rerata pada Mei 2026. Pada periode yang sama, harga rerata nasional beras premium Rp16.230 per kg atau naik 0,46% dari Mei 2026. Harga kedua jenis beras itu di atas harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium di zona I yang dipatok Rp13.500 per kg dan Rp14.900 per kg.
Sebelumnya, ketika merilis data inflasi pada 2 Juni 2026, BPS mencatat dari April ke Mei 2026 harga beras di penggilingan, grosir, dan eceran berturut-turut naik 0,58%, 0,68%, dan 0,38%. Jika dirunut ke belakang, dari Januari hingga Mei 2026 harga beras di pengilingan, grosir, dan eceran terus naik. Lima bulan berturut-turut. Tidak ada jeda. Persentase kenaikan tiap bulan tidak besar. Jika diakumulasikan, selama lima bulan kenaikan di penggilingan 1,3%, di grosir 2,5%, dan di eceran 2,3%.
Secara tahunan, harga beras di penggilingan naik 8,1%, di grosir 6,11%, dan di eceran 4,55%. Catatannya bukan di persentase kenaikan yang kecil. Pertama, meskipun persentase kenaikannya kecil, kalau pada periode yang sama harga-harga komoditas pangan lain juga naik, daya beli warga miskin/rentan akan terpukul. Termasuk mereka yang menyemut atau berada hanya sedikit di atas garis kemiskinan. Kedua, harga beras memang sudah tinggi. Kalau harganya merangkak tentu kenaikannya tidak besar (lagi).
Tanpa banyak disadari, selama lima bulan berturut-turut pula di tahun ini beras menjadi penyumbang inflasi rutin. Termasuk pada saat panen raya Februari-Mei 2026, yang produksi beras melimpah. Sesuai hukum besi pasokan-permintaan, pasokan melimpah mestinya harga menjadi terkendali. Bahkan ada peluang harga beras turun dan inflasi jinak atau malah menjadi penyumbang deflasi. Tapi tahun ini tidak terjadi.
Jadi, kalau ada narasi ke publik bahwa beras stabil itu tidak salah. Tapi baru separuh benar. Yang benar adalah harga beras stabil tinggi dan terus naik. Demikian pula kalau ada narasi bahwa beras bukan penyumbang inflasi utama itu tidak salah. Tapi ini juga baru separuh benar. Yang benar adalah beras terus menjadi penyumbang inflasi selama lima bulan berturut-turut, meski bukan penyumbang yang utama.