Pembangunan jembatan diselesaikan hanya dalam waktu tiga bulan oleh prajurit TNI gabungan sebagai respons cepat terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada November 2025.
Jembatan Gantung Perintis Garuda sepanjang 240 meter yang membentang di atas Sungai Tamiang kini menjadi salah satu jembatan gantung perintis terpanjang di Indonesia sekaligus ikon baru Kabupaten Aceh Tamiang. Jembatan tersebut menghubungkan Desa Bandar Mahligai dan Desa Sekerak Kiri, Kecamatan Sekerak, yang selama puluhan tahun menghadapi keterbatasan akses transportasi.
Pembangunan jembatan diselesaikan hanya dalam waktu tiga bulan oleh prajurit TNI gabungan sebagai respons cepat terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada November 2025.
Sebelum jembatan dibangun, warga harus menyeberangi sungai menggunakan perahu kayu atau memutar perjalanan darat melalui Karang Baru dan Sungai Liput dengan waktu tempuh hingga satu sampai dua jam. Kini, perjalanan antardesa dapat ditempuh sekitar lima menit.
Komandan Korem 011/Lilawangsa Kolonel (Inf) Ali Imran mengatakan pembangunan jembatan tersebut merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak masyarakat pascabencana.
“Jembatan ini sudah puluhan tahun tidak ada akses. Atas permintaan masyarakat pascabanjir Aceh, akhirnya kita bangun. Panjangnya 240 meter dan menjadi jembatan gantung terpanjang di Indonesia,” ujar Ali Imran saat meninjau lokasi, Rabu (20/5/2026).