sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

13 perusahaan siap terbitkan obligasi hingga akhir 2019

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan ada 13 perusahaan yang akan mencatatkan obligasi dengan total nilai emisi Rp13,23 triliun.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 08 Nov 2019 14:05 WIB
13 perusahaan siap terbitkan obligasi hingga akhir 2019

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan ada 13 perusahaan yang akan mencatatkan obligasi hingga akhir tahun ini dengan total nilai emisi Rp13,23 triliun. 

Obligasi-obligasi tersebut adalah obligasi III Bussan Auto Finance tahun 2019 dengan nilai emisi Rp1,5 triliun, obligasi berkelanjutan I Bank Mandiri Taspen tahap I tahun 2019 sebesar Rp1 triliun.

Kemudian, obligasi berkelanjutan IV Bank BTPN tahap I tahun 2019 dengan nilai emisi Rp1 triliun, obligasi berkelanjutan III Bank CIMB Niaga tahap I tahun 2019 sebesar Rp2 triliun.

Lalu, obligasi subordinasi berkelanjutan I Bank CIMB Niaga tahap I tahun 2019 sebesar Rp1 triliun, obligasi III Kereta Api Indonesia tahun 2019 senilai Rp2 triliun.

Obligasi I Voksel Electric tahun 2019 sebesar Rp500 miliar, lalu obligasi berkelanjutan I Hartadinata Abadi tahun 2019 sebesar Rp600 miliar, dan obligasi berkelanjutan I Indonesia Infrastructure Finance tahap I tahun 2019 sebesar Rp1,5 triliun.

Kemudian, ada obligasi berkelanjutan I Barito Pacific tahap I tahun 2019 sebesar Rp750 miliar, obligasi I Jaya Bersama Indo tahun 2019 sebesar Rp375 miliar, obligasi I Usaha Pembiayaan Reliance Indonesia dengan tingkat bunga tetap Rp600 miliar, serta obligasi berkelanjutan I Merdeka Copper Gold tahap I tahun 2019 dengan nilai emisi Rp400 miliar.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyatakan pasar obligasi masih menjanjikan. Nico melihat pergerakan ke arah penguatan masih terjadi terhadap obligasi jangka menengah hingga panjang.

"Sejauh ini pasar masih merasakan aura optimistis dari perjanjian dagang antara Amerika dan China yang mulai menunjukkan tanda-tanda pengertian antara satu sama lain," kata Nico di Jakarta, Jumat (8/11).

Sponsored

Hal tersebut, lanjut Nico, membuat para pelaku pasar dan investor masih merasa yakin, perekonomian Indonesia masih cukup tangguh dan menarik hingga tahun depan.

"Kalau kita melihat kepemilikan asing, pasar obligasi terus mencatatkan capital inflow, hal ini jugalah yang mendorong harga pasar obligasi masih stabil," tuturnya.

BRI terbitkan obligasi

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan instrumen surat utang atau obligasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (8/11) sebesar Rp5 triliun. Obligasi tersebut merupakan bagian dari Penerbitan Umum Berkelanjutan III tahap I tahun 2019.

SEVP Treasury & Global Services Listiarini Dewajanti mengatakan pada penerbitan obligasi rupiah kali ini, Bank BRI menarik minat investor dengan mencatatkan permintaan sebesar Rp6,9 triliun atau oversubscribe sebanyak 1,38 kali, melebihi target yang diharapkan sebesar Rp5 triliun.

“Pada tahap I ini, proporsi penjualan kepada investor institusi sebesar 95% dan investor ritel sebesar 5% dari total dana yang dihimpun,” kata Listiarini.

Pada penerbitan umum berkelanjutan tahap I ini, Bank BRI menerbitkan obligasi dengan 3 seri yaitu Seri A bertenor 1 tahun, Seri B bertenor 3 tahun, dan Seri C bertenor 5 tahun. 

Obligasi Seri A ditawarkan senilai Rp1,125 triliun, dengan tingkat bunga tetap sebesar 6,65% per tahun. Kemudian obligasi seri B sebesar Rp2,934 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,60% per tahun. Terakhir, obligasi seri C sebesar Rp2,844 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,85% per tahun.

Para pemegang obligasi ini akan mendapatkan pembayaran kupon pertamanya pada 7 Februari 2020. BBRI akan membayar kupon secara rutin setiap tiga bulan sekali. Obligasi BRI ini mendapatkan peringkat AAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Perfindo).

Sebelumnya, Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan rencana penerbitan obligasi ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) dengan total Rp20 triliun dengan jangka waktu penerbitan tiga tahun.

Penerbitan obligasi ini, kata Haru, dilakukan untuk menjaga likuiditas perseroan agar tetap terjaga. Untuk diketahui, rasio pembiayaan terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio (LDR) semester I-2019 ini berada pada level 94%.

Gelora dan politik kanibal pemecah PKS

Gelora dan politik kanibal pemecah PKS

Rabu, 20 Nov 2019 19:35 WIB
Sepak terjang militer di pucuk pimpinan PSSI

Sepak terjang militer di pucuk pimpinan PSSI

Selasa, 19 Nov 2019 21:07 WIB