logo alinea.id logo alinea.id

22 perusahaan antre IPO di Bursa Efek Indonesia

PT Bursa Efek Indonesia mencatat 22 perusahaan antre melakukan penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) hingga akhir 2019.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 16 Sep 2019 19:03 WIB
22 perusahaan antre IPO di Bursa Efek Indonesia

PT Bursa Efek Indonesia mencatat 22 perusahaan antre melakukan penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) hingga akhir 2019.

Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna Setia memastikan ada tambahan calon emiten hingga akhir tahun ini. BEI telah mengantongi 22 calon emiten dalam pipeline yang telah mengajukan berkas pendaftaran IPO.

"Jumlah perusahaan tercatat tahun ini ada 34 hari ini, di pipeline ada 22, jadi totalnya 56, dengan catatan kami terima semua. Ada lagi yang belum mereka submit tapi sudah ketemu dengan kami," kata Nyoman di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (16/9).

Nyoman melanjutkan, jumlah tersebut masih bisa bertambah lantaran BEI sudah mengantongi empat nama perusahaan lainnya yang akan melakukan IPO dengan menggunakan laporan keuangan Juni 2019. Keempat perusahaan tersebut telah menyampaikan rencananya untuk go public, tapi belum menyampaikan berkas mereka.

Dengan demikian, hingga akhir tahun jumlah perusahaan yang akan melantai di bursa diperkirakan mencapai 60 perusahaan. Nyoman juga mengatakan BEI terus melakukan penjajakan ke daerah-daerah untuk mendorong perusahaan go public.

"Kami sudah ke Jogja, Medan, Makassar, Surabaya, Bandung, dan juga workshop go public di Jakarta. Jadi semoga hasilnya bisa kami terima, karena saat kami melakukan workshop go public, kami juga melakukan business meeting," ujar Nyoman.

Akan tetapi, hingga saat ini BEI masih belum mengeluarkan pipeline terbaru mereka dengan daftar 22 calon emiten baru tersebut. Sebagai informasi, sepanjang tahun lalu, jumlah emiten yang melakukan pencatatan saham baru di BEI mencapai 57 perusahaan. Jumlah tersebut merupakan pencapaian tertinggi IPO sepanjang sejarah.

Tahun ini, BEI menargetkan 75 pencatatan baru yang terdiri atas saham, obligasi, Kontrak Investasi Kolektif (KIK), dan Dana Investasi Real Estate (DIRE). Hingga Senin (16/9), jumlah emiten yang tercatat di BEI mencapai 652 perusahaan dengan kapitalisasi pasar Rp7.131 triliun.

Sponsored

Pasar menarik

Sementara itu, Manajer investasi PT Manulife Aset Manajemen Indonesia menilai pasar saham dan pasar obligasi Indonesia masih menarik di tengah gejolak ekonomi global.

"Pasar saham masih memberikan peluang investasi yang menarik karena valuasinya, juga potensi pertumbuhan laba korporasi yang diperkirakan sekitar 9% pada tahun ini," kata Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan dalam keterangan resmi.

Selain itu, lanjut Katarina, terdapat sejumlah katalis ke depan untuk pasar saham antara lain pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Indonesia, percepatan reformasi kebijakan oleh pemerintah, perbaikan data aktivitas ekonomi, dan pemotongan pajak korporasi.

Untuk pasar obligasi, di tengah kondisi suku bunga rendah seperti saat ini, maka obligasi Indonesia sangat menarik karena masih memberikan imbal hasil riil (real yield) yang tinggi.

"Komitmen BI untuk menjaga nilai tukar rupiah dan juga pasar obligasi Indonesia, memberikan sentimen yang positif bagi obligasi Indonesia," kata Katarina.

Menurut Katarina, gejolak dan volatilitas di pasar finansial bukan sesuatu yang jarang terjadi. Ia pun menyarankan investor untuk selalu memonitor perkembangan yang ada.

"Jangan lupa bahwa selalu ada peluang di setiap kondisi termasuk di tengah-tengah volatilitas global yang tinggi. Jangan takut untuk berinvestasi, sesuaikan portofolio investasi anda, dengan tujuan dan jangka waktu investasi yang ditargetkan," ujar Katarina. (Ant)

Cara buzzer bekerja dan alarm bahaya di baliknya

Cara buzzer bekerja dan alarm bahaya di baliknya

Selasa, 15 Okt 2019 20:42 WIB
Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Senin, 14 Okt 2019 21:28 WIB
Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Sabtu, 12 Okt 2019 07:57 WIB