sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Budi Waseso: 300.000 ton sisa beras impor masih tersimpan di gudang Bulog

106.000 ton beras impor masih layak didistribusikan dan dikonsumsi.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 25 Mar 2021 20:32 WIB
Budi Waseso: 300.000 ton sisa beras impor masih tersimpan di gudang Bulog

Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog), Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan saat ini masih terdapat 300.000 ton beras impor di gudang Bulog. Dari total cadangan beras tersebut, hanya sebesar 106.000 ton yang masih layak didistribusikan dan dikonsumsi.

"PR (pekerjaan rumah)-nya, sekarang sisa dari beras impor kurang lebih 300.000 ton. Dari total tersebut, beras yang tidak ada potensi rusak sebanyak 106.000 ton. Kalau yang di (diserap dari) dalam negeri aman," katanya dalam webinar, Kamis (25/3).

Buwas pun mengungkapkan, sejauh ini beras impor lebih banyak bermasalah dibandingkan dengan beras yang diserap di tingkat petani.

"Produksi dalam negeri itu cukup, bahkan yang bermasalah adalah sisa dari produksi impor. Ini fakta," ujarnya.

Menurutnya, sisa cadangan beras pemerintah di Bulog yang sebanyak 300.000 ton tersebut juga belum diketahui peruntukannya. 

Bahkan, lanjutnya, dalam rapat koordinasi terbatas (Rakortas) yang digelar oleh Kementerian Koordinator Perekonomian untuk membahas soal perberasan tersebut, juga belum mampu memutuskan peruntukan sisa cadangan beras tersebut. Di sisi lain, pemerintah telah memutuskan untuk melakukan impor baru sebanyak 1 juta ton beras. 

"Waktu itu Rakortas membahas masalah sisa beras impor ini, seperti apa dan harus bagaimana? Tidak ada keputusan hingga hari ini," ucapnya.

Dia mengeluhkan tanggung jawab persoalan stok dan distribusi beras yang diserahkan sepenuhnya kepada Bulog, sementara pemerintah terkesan lepas tangan. Padahal, beras impor tersebut adalah cadangan beras pemerintah.

Sponsored

"Semuanya dibebankan kepada Bulog, padahal ini cadangan beras pemerintah. Atas perintah negara dengan biayanya utang Bulog," tuturnya.

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) ini menuturkan produksi petani sebenarnya cukup untuk menambal kebutuhan beras dalam negeri. Namun, dengan proses penggilingan dan pengeringan gabah tradisional, kualitas beras yang dihasilkan tidak cukup baik.

Agar menekan impor dan memaksimalkan produksi petani, dia meminta Kementerian Pertanian untuk menyediakan alat pengeringan (dryer) bagi petani. Dengan demikian, proses penggilingan bisa maksimal dan kualitas produksi meningkat.

"Saya berharap dari Kementan sediakan dryer. Kasihan petani karena hanya menjemur secara tradisional, jadi tidak memenuhi persyaratan yang menjadi ketentuan untuk dibeli pemerintah," ucapnya.

Berita Lainnya