sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

ADB: Ekonomi Indonesia pulih bertahap pada 2021

Pada tahun ini, di tengah pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi hanya 2,5%

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 04 Apr 2020 20:43 WIB
ADB: Ekonomi Indonesia pulih bertahap pada 2021
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26940
Dirawat 17662
Meninggal 1641
Sembuh 7637

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh 2,5% pada 2020 di tengah pandemi coronavirus anyar (Covid-19). Angka tersebut turun dari 5% tahun kemarin.

Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein, menyatakan, meskipun Indonesia memiliki landasan makro ekonomi yang kuat, wabah Covid-19 telah mengubah arah perekonomiannya dan melemahkan permintaan dalam negeri.

"Jika tindakan tegas dapat diterapkan secara efektif untuk menanggulangi dampak kesehatan dan ekonomi Covid-19, khususnya melindungi kelompok miskin dan rentan, perekonomian Indonesia diperkirakan akan kembali secara bertahap ke jalur pertumbuhannya tahun depan," katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/4).

Menurut Asian Development Outlook (ADO) 2020, pandemi Covid-19 bersamaan dengan penurunan harga komoditas dan gejolak pasar keuangan bakal berimplikasi buruk bagi perekonomian dunia dan Indonesia tahun ini. Ditambah lagi dengan sejumlah mitra dagang utama Indonesia yang akan mengalami dampak negatif terhadap perekonomian mereka.

Permintaan dalam negeri pun diperkirakan bakal melemah seiring menurunnya sentimen bisnis dan konsumen. Namun, sejalan dengan pulihnya perekonomian dunia tahun depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan memperoleh momentum. Dibantu reformasi di bidang investasi yang dikeluarkan baru-baru ini.

Winfried melanjutkan, inflasi yang mencapai rata-rata 2,8% pada 2019, diperkirakan akan naik tipis ke 3% pada 2020. Setahun berikutnya, turun lagi ke 2,8%.

Tekanan inflasi dari ketatnya pasokan pangan dan depresiasi mata uang diperkirakan dapat diimbangi sebagian oleh penurunan harga bahan bakar nonsubsidi serta subsidi tambahan untuk listrik dan pangan.

Sementara, pendapatan ekspor dari pariwisata dan komoditas diperkirakan akan menurun. Sehingga, menyebabkan defisit transaksi berjalan mencapai 2,9% dari produk domestik bruto (PDB) 2020. Seiring pulihnya ekspor dan investasi pada 2021, volume barang modal impor lebih besar bakal menyebabkan defisit transaksi berjalan tetap seperti 2020.

Sponsored

Winfried melihat, pemerintah dan otoritas keuangan Indonesia telah meluncurkan berbagai langkah fiskal dan moneter yang terkoordinasi dan terarah untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19. Hal tersebut, termasuk distribusi bantuan langsung tunai (BLT) bagi kelompok miskin dan rentan serta pemotongan pajak dan kelonggaran pembayaran pinjaman bagi pekerja dan dunia usaha.

Secara eksternal, risiko terhadap proyeksi perekonomian Indonesia adalah wabah Covid-19 berkepanjangan, penurunan harga komoditas lebih lanjut, dan meningkatnya gejolak pasar keuangan.

Dari dalam negeri, proyeksi bergantung pada seberapa cepat dan efektif penanganan wabah. Keterbatasan sistem kesehatan dan kesulitan menerapkan pembatasan sosial (social distancing) berpotensi memperburuk dampak pandemi terhadap ekonomi.

Berita Lainnya