sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

AS-Iran panas, harga minyak dunia bakal terus naik dalam 6 bulan

Selain harga minyak, harga komoditas lain seperti kelapa sawit dan batu bara juga akan terus meningkat.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 06 Jan 2020 17:26 WIB
AS-Iran panas, harga minyak dunia bakal terus naik dalam 6 bulan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 385.980
Dirawat 63.556
Meninggal 13.205
Sembuh 309.219

Harga minyak dunia terus mengalami lonjakan seiring dengan tensi politik yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, setelah AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani.

Berdasarkan data Bloomberg, harga crude oil per 6 Januari 2020 pada pukul 17.00 WIB menyentuh angka US$64,08 per barrel untuk pengiriman Februari 2020. Angka ini naik 1,6% dibandingkan harga pada penutupan akhir pekan lalu (4/5) di level US$63,05 per barrel.

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengatakan perang yang terjadi antara Iran dan AS membuat harga komoditas menguat. Sebab, kondisi ini menyebabkan supply dan demand minyak dunia terganggu. 

Jonson memprediksi peningkatan harga minyak dunia akan terjadi empat hingga enam bulan ke depan.

"Harga minyak dunia naik bukan karena permintaan, tapi karena suplai. Peningkatan harga akan terjadi US$70-US$80 per barrel," kata Janson saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (3/1).

Selain harga minyak, Jonson juga mengatakan, harga komoditas lain seperti kelapa sawit dan batu bara akan meningkat. Untuk kelapa sawit, resistennya ada di angka RM3.100-RM3.200. Sedangkan batu bara ada di harga US$80-US$90 per ton.

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Nico Demus mengatakan apabila kenaikan harga minyak tidak terkendali, efeknya tentu menjadi kurang baik untuk pasar.

"Apalagi sejauh ini yang akan terkena dampaknya adalah para negara yang melakukan impor minyak. China salah satunya yang akan merasakan dampaknya apabila kenaikan harga minyak tidak terkendali," kata Nico.

Sponsored

Namun, untungnya sejauh ini cadangan minyak di AS, China dan Uni Eropa masih cukup besar apabila terjadi gangguan pasokan.

Sementara itu, analis Artha Sekuritas Nugroho Fitriyanto melihat volatilitas indeks harga minyak meningkat dengan tekanan terus menguat.

"Tensi geopolitik tentunya tidak akan berlangsung lama, namun Iran terlihat ingin melakukan aksi balas dendam terhadap AS dengan tidak mematuhi konvensi nuklir kepada AS dan negara lainya," ujarnya.

Baik Nico maupun Nugroho mengatakan investor akan mengincar aset yang lebih aman seperti emas dan mata uang yen selama ketegangan antara Iran dan AS masih terjadi.

Adapun pada penutupan perdagangan Senin (6/1), IHSG terperosok 1,04% ke level 6.257. Pelemahan IHSG didorong oleh sektor seperti Industri dasar yang turun 2,87%, Agrikultur yang turun 2,85%, dan sektor industri lainnya yang turun 2,58%.

Saham-saham milik PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang turun 8,42%, Saham milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) yang turun 5,11%, dan saham milik PT Astra International Tbk. (ASII) yang turun 2,88% turut menekan kinerja IHSG pada perdagangan hari ini.

Berita Lainnya