sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Angkasa Pura II ekspansi ke Filipina bidik Rp15 triliun

PT Angkasa Pura II (Persero) membidik pengelolaan salah satu bandara di Filipina yaitu Badara Clark dengan target pendapatan Rp15 triliun.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Jumat, 14 Des 2018 02:37 WIB
Angkasa Pura II ekspansi ke Filipina bidik Rp15 triliun

PT Angkasa Pura II (Persero) membidik pengelolaan salah satu bandara di Filipina yaitu Badara Clark dengan target pendapatan Rp15 triliun. 

Badan usaha milik negara (BUMN) AP II yang tergabung dalam perusahaan patungan (joint venture/JV), saat ini tengah mengikuti proses tender untuk dapat mengelola dan membangun terminal baru di bandara tersebut. 

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin memperkirakan omzet dari pengelolaan dan penambahan terminal Bandara Clark, Filipina, untuk masa konsesi selama 25 tahun mencapai Rp15 triliun.

"Sampai konsesi 25 tahun di sana (Clark Airport) sampai Rp15 triliun omsetnya, cukup besar karena konsesi kan dan diberikan tergantung kita juga mau dimanfaatkan atau tidak. Tergatung kita juga mau genjot traffic atau gimana," kata Awaluddin di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/12).

Awaluddin menungkapkan pemenang tender akan diumumkan sebelum akhir tahun ini oleh BUMN Filipina yang saat ini menjadi operator Bandara Clark yaitu Bases Conversion and Development Authorities (BCDA).

"Pengumumannya sebelum Natal. Kami akan tunggu keputusan finalnya, mereka sedang finalkan," ujarnya.

Sementara itu, untuk ikut dalam tender tersebut, perusahaan operator bandara yang saat ini Mengelola 15 bandara di seluruh Indonesia telah membentuk perusahaan patungan dengan AirAsia Group dan perusahaan swasta lokal Filipina.

Elemen dalam joint venture tersebut terdiri dari operator bandara, maskapai penerbangan, perusahaan swasta, dan investor. Sebagai operator, AP II menguasai kepemilikan 35% pada perusahaan joint venture tersebut dengan menyetorkan dana sebesar Rp350 miliar.

Sponsored

Adapun, latar belakang AP II tertarik untuk mengelola Bandara Clark karena potensi lalu lintas penumpang penerbangan di bandara tersebut. Saat ini, Bandara Clark baru melayani 2 juta penumpang per tahun, walaupun memiliki kapasitas untuk melayani hingga 4 juta penumpang.

Bahkan, Bandara Clark telah memiliki rencana untuk mengembangkan kapasitas terpasang hingga 8 juta penumpang per tahun.

Dalam melakukan ekspansi bisnis bandara di luar negeri, ada beberapa kriteria bisnis yang dipertimbangkan oleh AP II. Pertama, bisnis tersebut harus memperhitungkan lalu lintas pesawat. 

Kemudian kedua, mempertimbangkan jaringan maskapai di bandara tersebut. Ketiga, mempertimbangkan potensi pergerakan manusia di bandara.

Obligasi AP II

Sementara itu, Angkasa Pura II telah mencatatkan obligasi berkelanjutan I tahap I Tahun 2018 sebesar Rp750 miliar di lantai bursa. Dana tersebut akan digunakan perusahaan untuk pengembangan bandara.

"Mulai tahun ini kita sudah melakukan penataan pengelolaan bandara, dan kita harapkan (hasil obligasi) untuk pengembangan-pengembangan usaha Angkasa Pura II ke depan," kata Awaluddin.

Pencatatan obligasi AP II terbagi menjadi 2 seri yakni Seri A bernilai Rp200 miliar bertenor 3 tahun, dengan kisaran tingkat bunga sebesar 8,65% per tahun. Seri B bernilai Rp550 miliar bertenor 5 tahun dengan kisaran tingkat bunga tetap sebesar 8,95% per tahun. 

Bunga obligasi akan dibayarkan setiap 3 bulan sesuai dengan tanggal pembayaran masing-masing bunga obligasi. Selain itu, Angkasa Pura II mendapatkan izin untuk menerbitkan obligasi berkelanjutan dengan total nilai Rp3 triliun. 

"Kita masih punya waktu sampai dua tahun, alokasinya Rp3 triliun. Mudah-mudahan tahun depan dan berikutnya kita juga melakukan yang sama untuk emisi obligasi," jelasnya.

Perusahaan menunjuk PT Bahana Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi.