logo alinea.id logo alinea.id

Aset terlantar di pasar saham capai Rp700 miliar

Nilai unclaimed asset diprediksi terus tumbuh sejalan dengan pertumbuhan nilai efek, capital gain, dan pembagian dividen

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Kamis, 04 Apr 2019 16:53 WIB
Aset terlantar di pasar saham capai Rp700 miliar

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat nilai aset terlantar atau unclaimed asset mencapai Rp700 miliar per Maret 2019. Dari total unclaimed asset tersebut, terdapat 4.000 investor di dalamnya. 

Direktur KSEI Syafruddin mengatakan, nilai unclaimed asset diprediksi terus tumbuh sejalan dengan pertumbuhan nilai efek, capital gain, dan aksi korporasi seperti bagi dividen.

"Dari data yang kami cek di Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil), diketahui nilai total aset terlantar sekitar Rp700 miliar. Di mana 4.000-an investor yang tidak ditemukan orangnya dan tidak aktif atau tidak pernah trading," kata Syafruddin saat ditemui Alinea.id.

Sebagai informasi, unclaimed asset merupakan efek ataupun dana tercatat di KSEI yang belum dilakukan klaim dari pemilik aset tersebut. Aset ini muncul lantaran sekuritas maupun KSEI tidak dapat melakukan konfirmasi terkait kepemilikan aset.

"Pihak broker atau perusahaan efek maupun kami sudah mencoba menghubungi tapi tidak bisa," ucap Syafruddin.

Pria yang akrab disapa Alex ini mengatakan, unclaimed asset terjadi lantaran proses pembukaan rekening efek terdahulu yang belum dilakukan secara elektronik sehingga pengkinian data terkait investor sulit dilakukan. 

"Penerapan perdagangan tanpa warkat (scripless trading) dimulai pada 2000. Pada saat itu ada proses migrasi data, di mana nasabah kustodian membuka sub rekening efek di KSEI," ujarnya.

Investor tidak melakukan pembaruan terkait pindah alamat, meninggal dan informasi terkini dari data dahulu yang tidak elektronik dan tidak diklaim oleh investor dalam waktu tahunan, membuat jumlah aset tak bertuan ini terus bertumbuh.

Sponsored

Sebelum sebuah efek dikategorikan dalam aset tidak bertuan, perusahaan efek maupun KSEI melakukan konfirmasi terlebih dahulu dan upaya pencarian pemilik aset ataupun ahli waris terkait aset tersebut. Apabila pencarian tersebut nihil maka aset tersebut masuk dikategori aset tidak bertuan.

Selain efek, aset tidak bertuan juga ada dalam bentuk dana atau uang tunai yang timbul. Salah satunya dari pembagian dividen kepada aset yang tidak bertuan tersebut. Itulah sebabnya nilai aset tidak bertuan terus berpotensi naik apabila aset tersebut tumbuh, seiring dari capital gain dan dividen rutin.

Selaku regulator, KSEI terus melakukan inisiatif terkait penekanan nilai aset tidak bertuan. Salah satunya dengan membantu menginformasikan terkait kebenaran dari adanya rekening efek dari aset tidak bertuan ini. 

Adapun KSEI tidak memiliki wewenang untuk memberikan informasi terkait nilai aset. KSEI hanya memberi informasi rekening sekuritas dan pihak yang ingin melakukan klaim dapat melakukan konfirmasi kepada sekuritas.

KSEI pun menekankan pentingnya akurasi data nasabah yang digunakan untuk pembuatan Single Investor Identification (SID) dan pembukaan sub rekening efek di KSEI. 

"Khusus untuk investor individu domestik, sistem di KSEI akan melakukan verifikasi terlebih dahulu ke database dukcapil sebelum SID dan sub rekening efek dibuat," ucap Alex.

KSEI mengharapkan ke depannya dapat menekan bertambahnya unclaimed asset.  Salah satunya melalui data akurat dan tersambung dengan dukcapil, sehingga penelusuran unclaimed asset oleh ahli waris dari pemilik efek yang sudah meninggal dunia bisa dideteksi. 

“Nanti kan NIK-nya terdaftar di dukcapil. Kemudian ada data Kartu Keluarga (KK). Sedang kami pikirkan bagaimana mekanisme yang aman, terutama untuk verifikasi data hubungan pemilik efek dan ahli warisnya, agar jangan sampai disalahgunakan. Ini masih konsep, prinsipnya agar ahli waris tahu mesti ke kustodian mana mereka bisa mengurus klaim atas efek yang diwarisinya," katanya.

Sementara itu, untuk mengetahui efek yang diwarisi dan proses klaimnya, ahli waris dapat menghubungi pihak kustodian. Proses klaim dan persyaratannya tentunya tetap mengikuti kebijakan yang berlaku di masing-masing kustodian. 

KSEI juga melakukan proteksi investor dengan membekukan rekening efek dari unclaimed asset. "Gunanya untuk mencegah adanya transaksi efek tanpa sepengetahuan pemilik aset,” ujar Alex.

Pemanfaatan aset tidak bertuan ini masih dalam tahap pengkajian dan memerlukan dasar hukum yang tepat, misalnya terkait berapa lama aset tak bertuan berbentuk efek yang tidak bisa diklaim lagi dan dapat digunakan untuk apa saja. Karena aset tidak bertuan ini adalah hak investor tersebut.

"Jadi untuk saat ini belum ada upaya dari KSEI menahan unclaimed asset itu, kami biarkan dulu mengendap hingga ada hukum dan aturan yang mengatur," ucapnya.

Secara infrastruktur, saat ini sudah sangat mudah untuk mengidentifikasi aset tersebut dari yang ingin melakukan klaim. "Kemudahan ini didapat dari integrasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil),” ujar Alex.

Dari keseluruhan kapitalisasi pasar yang sebesar Rp7.394 triliun, hanya sekitar Rp5.500 triliun yang sudah scripless dan bisa ditransaksikan di BEI.

Sebagai infotmasi, total jumlah investor saham yang tercatat di data SID PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 2018 sebanyak 1.619.372 investor. Angka tersebut meningkat 44,24% dari tahun sebelumnya 1.122.668 investor saham.