sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Awan mendung pertumbuhan ekonomi global

Memangkas suku bunga dan melonggarkan kebijakan moneter sebagai cara yang dipilih bank sentral tidak cukup mengangkat ekonomi.

Mona Tobing
Mona Tobing Jumat, 26 Jul 2019 10:09 WIB
Awan mendung pertumbuhan ekonomi global
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26940
Dirawat 17662
Meninggal 1641
Sembuh 7637

Masa depan ekonomi global diprediksi bakal dibayangi mendung hingga tahun depan. Sejumlah bank sentral memang telah mengambil keputusan untuk memangkas suku bunga mereka. Namun perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China diprediksi bakal lebih menghantam pertumbuhan ekonomi global. 

Perkiraan suram itu terekam dalam jajak pendapat Reuters terhadap lebih dari 500 ekonom pada 1-24 Juli 2019. Mereka ditanya soal pertumbuhan ekonomi global. Para ekonom menyimpulkan kalau pertumbuhan ekonomi global berisiko turun, meskipun sejumlah bank sentral utama akan menurunkan suku bunga dan melonggarkan kebijakan moneter mereka. 

Alasan kekhawatiran itu bersumber dari dampak perang dagang AS-China. Belum lagi persoalan sejumlah negara yang selama ini memberikan imbal hasil obligasi negara yang tinggi, tapi data ekonominya justru menunjukkan perlambatan. 

Pasar saham yang sedang rally di tengah harapan kebijakan moneter yang lebih mudah, dinilai para ekonom tidak mampu mengangkat ekonomi sejumlah negara. Ini jelas menunjukkan kalau konflik perdagangan dan ketidakpastian geopolitik mengurangi investasi dan aktivitas sejumlah negara.

Dalam kondisi seperti ini, tingkat pesimisme meningkat. Terlihat dari jajak pendapat Reuters menunjukkan 90% prospek pertumbuhan ekonomi dari sejumlah negara dipangkas atau dibiarkan tidak berubah pada tahun ini hingga tahun 2020.

“Karena ketidakpastian kebijakan perdagangan tidak terselesaikan, sehingga dampak pada prospek pertumbuhan menjadi lebih jelas. Kami memproyeksikan pertumbuhan global melambat lebih jauh, akan ada risiko resesi,” kata Chetan Ahya, kepala ekonomi global di Morgan Stanley.

Ahya juga menilai, sekalipun pelonggaran moneter akan kembali dilakukan hambatan dari ketidakpastian ekonomi tetap meningkat dan membebani prospek makro. Sebanyak 250 ekonom yang disurvei Reuters juga menyimpulkan, penurunan ekonomi global yang lebih dalam mungkin terjadi dari perkiraan sebelumnya. 

Dalam hitungan hari The Federal Reserve diperkirakan bakal memangkas suku bunga acuan. Langkah serupa juga akan dilakukan The European Central Bank atau Bank Sentral Eropa (EBC). Akan tetapi, para ekonom justru mengkhawatirkan prospek ekonomi kemungkinan bakal lebih buruk. 

Sponsored

Presiden ECB Mario Draghi mengaku khawatir capaian inflasi yang jauh di bawah target. Baginya, prospek ekonomi dunia saat ini semakin buruk dan lebih buruk, maka solusi perdananya adalah melonggarkan kebijakan moneter. 

Di sisi lain, pilihan untuk melonggarkan kebijakan moneter justru dikritik ekonom dari Commerzbank Peter Dixon. Dixon mempertanyakan pelonggaran moneter yang dipilih akan berdampak pada banyak hal. 

Meski diakuinya kalau saat ini opsi moneter makin minim, sehingga mau tidak mau pemerintah memang perlu memikirkan alternatif fiskal mereka. 

Skrip lama 

Hampir dua pertiga ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi global rata-rata 3,2% pada tahun ini. Target pertumbuhan ini sejalan dengan proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional (IMF). Sebagai informasi, target pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan IMF adalah yang terendah dalam dua tahun terakhir.

Yang menarik, tidak semua ekonom menyalahkan perang dagang AS-China sebagai penyebab melambatnya ekonomi global. "Bahkan tanpa perang dagang, ekonomi global sudah melambat," kata Stefan Koopman, ekonom pasar senior di Rabobank.

Rujukan Koopman adalah hasil survei purchasing managers yang melukiskan gambaran investor memandang Asia, AS atau Eropa. Lewat pertumbuhan ekonomi yang akan kehilangan momentum, akan ada ketidakpastian soal inflasi yang mungkin akan terus meningkat. 

Soal inflasi ini memang jadi perhatian sejumlah bank sentral di setiap negara. Bahkan, target inflasi jadi rujukan dari bank sentral untuk menetapkan kerangka kerja kebijakan moneter mereka. 

Sekarang, harapan ekonomi dapat terdongkrak tertuju pada rangkaian penurunan suku bunga. Plus, pelonggaran kebijakan moneter. 

Apalagi setelah Bank of Japan telah memberi sinyal penurunan suku bunga lebih lanjut. Begitu juga dengan Bank of Canada yang kemungkinan akan mengikuti The Fed. 

Bank-bank sentral di negara yang masuk kategori ekonomi pasar berkembang, utamanya dari Asia ke Afrika dan Amerika Latin juga telah berubah menjadi dovish.

Reserve Bank of India telah memangkas suku bunga tiga kali tahun ini. Bahkan kembali dijadwalkan akan melakukannya lagi bulan depan.

Kepala Penelitian Barclays di Asia-Pasifik Sudeep Sarma mengatakan, bank sentral di sejumlah pasar berkembang kemungkinan akan mengikuti skrip yang sama. Yakni, melakukan pelonggaran moneter. 

Sumber : Reuters

Berita Lainnya