sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bahana Sekuritas: IHSG bisa tembus 7.000 pada 2020

Pada awal 2020, pasar saham kembali mendapat tekanan dari kondisi global akibat serangan yang dilakukan AS terhadap Iran.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Minggu, 12 Jan 2020 16:05 WIB
Bahana Sekuritas: IHSG bisa tembus 7.000 pada 2020

Bahana Sekuritas memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2020 bisa menyentuh level 7.000.

Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi melalui risetnya yang diterima Alinea.id, Minggu (12/1) mengatakan, tekanan terhadap pasar saham memang belum usai setelah perdagangan hari terakhir 2019, IHSG terkoreksi akibat aksi profit taking investor.

Pada awal 2020, pasar saham kembali mendapat tekanan dari kondisi global akibat serangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran.

Namun, Lucky optimistis ke depan, pasar saham diperkirakan akan bangkit dengan beberapa faktor pendukung.

"Pertama, pasar saham akan mendapat sentimen positif dari kinerja emiten yang diperkirakan akan lebih baik pada 2020. Bila pada tahun lalu laba bersih emiten tumbuh rata-rata sekitar 2%, maka pada tahun ini diperkirakan akan naik pada kisaran 9%," kata Lucky. 

Lucky memperkirakan kenaikan laba bersih emiten akan terjadi di hampir seluruh sektor, kecuali sektor batu bara yang masih akan mendapat tekanan dari rendahnya harga di pasar global.

Bila dibandingkan dengan pasar surat utang dan juga properti, pasar saham masih menawarkan gain yang lebih baik. Pasalnya, dengan level suku bunga acuan dan inflasi yang terjaga rendah, yield surat utang diperkirakan tidak akan mengalami banyak kenaikan, bahkan cenderung turun. 

"Apalagi The Fed telah memberikan indikasi suku bunga yang tidak akan turun lagi pada tahun ini," tutur Lucky. 

Sponsored

Sejalan dengan penurunan suku bunga global, kata Lucky, Bank Indonesia juga telah memberikan sinyal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. 

Bank sentral telah menurunkan suku bunga BI 7-day reserve rapo rate secara total sebesar 1% sejak Juli hingga Oktober ke level 5% dan bertahan hingga Desember 2019, dengan tingkat inflasi sepanjang 2019 sebesar 2,72%. Saat ini rata-rata yield surat hutang berada pada kisaran 7%.  

"Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini," ujar Lucky. 

Lucky menjelaskan turunnya suku bunga, yang diikuti dengan realisasi kebijakan omnibus law akan mampu menggenjot masuknya investasi, yang pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.

Penopang lainnya yang membuat pasar saham akan lebih bergairah pada tahun ini adalah rencana kenaikan pajak reksadana atau mutual fund menjadi 10% dari yang saat ini berlaku sebesar 5%. Semula, kenaikan pajak reksadana direncanakan pada 2014, namun tertunda. Rencana kenaikan pajak reksadana ini akan menjadi katalis bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham. 

Menurut Lucky, rencana kenaikan pada 2021 ini, kemungkinan tidak akan mundur lagi karena dana kelolaan reksadana sudah naik cukup signifikan dalam lima tahun terakhir. Sementara di sisi lain pemerintah berencana memotong pajak bagi korporasi.

Untuk menjaga pendapatan pajak negara tetap stabil, pendapatan negara yang berkurang akibat potongan pajak korporasi sebagian akan ditutupi dari kenaikan pajak reksadana.

Meski kondisi perekonomian global masih dihantui sejumlah ketidakpastian, investor asing diperkirakan akan kembali melirik pasar saham negara berkembang, setelah pada tahun lalu, investor asing membukukan aksi jual yang cukup besar.

"Sektor-sektor yang masih positif sepanjang tahun ini diperkirakan berasal dari emiten perbankan, tembakau/rokok, CPO dan obat-obatan. Sedangkan beberapa sektor yang harus dicermati di antaranya batu bara dan konsumer yang terkait retailers sebagai dampak dari kenaikan iuran BPJS," ucap Lucky. 

Serangan AS berdampak pada defisit perdagangan

Gejolak di Timur Tengah akibat serangan AS telah menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani, dan berbuntut serangan balasan yang menyebabkan naiknya harga minyak dunia. 

Bahana menyebut hal ini akan berdampak negatif pada defisit perdagangan yang diperkirakan akan membengkak. Sebab, kontributor terbesar defisit perdagangan domestik berasal dari besarnya impor minyak.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan sepanjang Januari-November 2019, total ekspor migas sebesar US$11,442 miliar. Sedangkan impor migas tercatat sebesar US$19,752 miliar, sehingga ada defisit sebesar US$8,31 miliar. Bila digabung dengan kegiatan ekspor-impor nonmigas, maka total defisit tercatat sebesar US$3,1 miliar.

Lucky beranggapan konflik AS-Iran tidak akan berdampak besar selama Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman minyak tetap dibuka. 

"Bila kenaikan harga minyak dunia terjadi akan memberi sentimen negatif bagi nilai tukar, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan perusahaan dari sektor semen, obat-obatan, dan konsumer karena banyak menggunakan komponen impor," imbuh Lucky.

Berita Lainnya