sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bank BTN prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 stagnan 5%

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 stagnan terdampak kondisi global yang bergejolak.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Selasa, 04 Feb 2020 11:00 WIB
Bank BTN prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 stagnan 5%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2491
Dirawat 2090
Meninggal 209
Sembuh 192

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 stagnan di kisaran 5%. Direktur Utama Bank BTN Pahala N. Mansury hal ini disebabkan ekonomi nasional yang bergejolak terdampak kondisi global. Menurut dia, tahun 2019 menjadi era yang tidak mudah, kemudian berlanjut pada 2020.

“Kondisi perekonomian global tersebut belum mampu mendorong volume perdagangan global. Akibatnya, harga komoditas global belum terakselerasi. Padahal, banyak provinsi di Indonesia yang masih bergantung pada komoditas sebagai tumpuan ekonominya,” kata Pahala dalam keterangan resmi yang diterima Alinea.id di Jakarta, Selasa (4/2).

Pahala merinci, dalam dua tahun terakhir, berbagai peristiwa telah meningkatkan ketidakpastian global. Di antaranya, perang dagang antara Amerika dan Tiongkok berpotensi berlanjut meski kesepakatan phase I telah ditandatangani. 

Kemudian masa depan Inggris yang masih dipertanyakan usai resmi hengkang dari Brexit. Lalu, ketegangan antara Amerika dan Iran yang terus memanas, hingga penyebaran coronavirus yang diproyeksi menyebabkan China kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. 

Mengamati faktor-faktor tersebut, Pahala menyebutkan Bank BTN menerapkan rencana bisnis yang lebih hati-hati pada tahun kabisat ini. Tahun ini, BTN memasang target konservatif pertumbuhan kredit di level 10%. 

“Pasalnya, kami masih terus memantau perkembangan ekonomi global dan nasional, serta daya beli masyarakat pada 2020,” jelas Pahala.

Kendati mematok target konservatif, Pahala menuturkan pihaknya tetap berfokus pada bisnis utama yakni perumahan.  Sektor perumahan pun dipandang masih memiliki ruang gerak yang cukup luas di Indonesia. Sebab, gap antara kebutuhan rumah baru dengan kapasitas bangun para pengembang masih tinggi. Belum lagi, masih banyak Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan di bawah MBR yang unbankable. 

“Kontribusi sektor perumahan terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia baru mencapai 3%, artinya masih besar peluang untuk mengakselerasi industri ini. Apalagi sektor ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang,” tutur Pahala.

Sponsored

Adanya dukungan pemerintah di sektor perumahan subsidi pun dinilai masih akan menjadi angin segar bagi industri ini. Pemerintah sejak 2015 mendukung sektor perumahan melalui Program 1 Juta Rumah. Apalagi, rencana pengalihan subsidi energi ke perumahan subsidi dinilai akan dapat menaikkan jumlah unit terbangun. 

Skenarionya, sebut Pahala, jika dana tambahan yang dikucurkan berkisar Rp1 triliun-Rp25 triliun, maka unit terbangun bisa mencapai 8.000-200.000 unit untuk program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Kemudian, untuk program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2PT) dapat menambah 20.000-260.000 unit. 

Opsi lockdown yang diabaikan Jokowi...

Opsi lockdown yang diabaikan Jokowi...

Senin, 06 Apr 2020 06:02 WIB
Menagih janji keringanan cicilan utang

Menagih janji keringanan cicilan utang

Senin, 06 Apr 2020 05:43 WIB
Berita Lainnya