sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bank jual dolar Rp16.000, ini tanggapan Gubernur BI

Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Kamis, 19 Mar 2020 15:47 WIB
Bank jual dolar Rp16.000, ini tanggapan Gubernur BI
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23851
Dirawat 16321
Meninggal 1473
Sembuh 6057

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah di pasar spot pada Kamis (19/3). Pada pukul 15.25 WIB US$1 setara dengan Rp15.880, atau naik dari posisi pukul 13.00 WIB senilai Rp15.315. 

Sementara, pada kurs JISDOR BI, rupiah melemah ke Rp15.712 per dolar AS. Bahkan, mesin pencarian Google menunjukkan depresiasi rupiah ke level Rp16.003 per dolar AS.

Di dalam negeri, bank milik pemerintah maupun bank swasta besar lainnya memang menjual dolar AS mulai di angka Rp16.000. PT Bank Mandiri Tbk. menjual US$1 setara Rp16.300, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) menjual Rp16.370, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI) menjual Rp16.400.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) dan PT CIMB Niaga Tbk. masing masing menjual US$1 seharga Rp16.265 dan Rp16.400.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan depresiasi rupiah tidak terlepas dari tekanan ketidakpastian yang dihadapi dunia. Indeks saham dunia, kata Perry, terus anjlok karena investor global melepas portofolio investasinya.

Cash as the king (uang tunai adalah raja). Investor panik sehingga melepas aset baik berupa saham maupun surat berharga. Ini bukan masalah fundamental perekonomian tapi kepanikan akibat Covid-19,” kata Perry dalam siaran langsung daring dari Jakarta, Kamis (19/3).

Perry mengungkapkan, dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia memastikan akan selalu hadir di pasar.  BI akan melakukan strategi triple intervension di pasar keuangan untuk mengendalikan moneter dalam negeri

Strategi yang dimaksud Perry yakni pertama, melakukan intervensi di spot penjualan valuta asing (valas) untuk mengendalikan pelemahan rupiah. 

Sponsored

Kedua, menjalankan skema Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Skema DNDF adalah instrumen derivatif dari perdagangan mata uang berjangka dengan menjual atau membeli valas di dalam negeri dengan kurs yang telah ditentukan.

Ketiga, BI akan melakukan intervensi melalui pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas sejumlah investor asing. Hal yang sama, lanjutnya, juga akan dilakukan sejumlah bank nasional. 

“Sampai saat ini, investor asing telah melepas portofolio sebesar Rp192 triliun,” kata Perry.

Berita Lainnya