sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bank Mandiri akan terbitkan green bond Rp4,2 triliun di 2021

Bank pelat merah ini juga masih memiliki ruang untuk penerbitan obligasi rupiah.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 28 Jan 2021 18:04 WIB
Bank Mandiri akan terbitkan green bond Rp4,2 triliun di 2021
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyampaikan, perseroan masih memiliki slot untuk penerbitan global bond atau surat utang global senilai US$750 juta atau setara Rp10,5 triliun (kurs Rp14,119/US$). Sisa slot ini berasal dari program Euro Medium Term Notes (EMTN) Bank Mandiri dengan target penerbitan US$2 miliar atau Rp30 triliun.

"Pemanfaatan likuiditas saat ini kondisinya sangat cukup mendukung rencana bisnis Bank Mandiri di 2021. Bahkan mungkin juga di 2022 kita sudah siapkan sejak kuartal I-2020," kata Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi, dalam konferensi pers Bank Mandiri, Kamis (28/1).

Dengan mempertimbangkan bisnis jangka menengah di atas tiga tahun dan bisnis jangka panjang di atas lima tahun, Bank Mandiri masih memiliki tiket penerbitan global bond dalam bentuk EMTN yang sudah disetujui senilai US$2 miliar, dan telah direalisasikan US$1,25 miliar.

"Sisa slot US$750 juta ini akan dimanfaatkan di 2021. Yang sudah ada dalam rencana perseroan untuk penerbitan green bond dengan size US$300 juta atau Rp4,2 triliun," ujar dia.

Seperti diketahui, pada Mei tahun lalu bank berlogo pita emas ini melakukan penerbitan EMTN tahap kedua sebesar US$500 juta. Penerbitan pertama di bawah program EMTN sebesar US$750 juta telah diselesaikan pada April 2019.

Selain dalam bentuk surat utang global,bank pelat merah ini juga masih memiliki ruang untuk penerbitan obligasi rupiah.

"Kami masih punya ruang penerbitan obligasi Rp19 triliun melalui PUB sampai Mei 2022," ucapnya.

Untuk penerbitan obligasi rupiah ini, Darmawan bilang masih mengkaji pelaksanaan waktu eksekusi penerbitan yang betul-betul tepat. Pihaknya juga mempertimbangkan kondisi likuiditas rupiah dan pasar yang sangat memadai. 

Sponsored
Berita Lainnya