logo alinea.id logo alinea.id

Bank Mandiri prediksi suku bunga acuan bisa turun jadi 5,75%

Bank Mandiri memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia bisa turun sebesar 25 basis points setelah bertengger di level 6% hingga April.

Soraya Novika
Soraya Novika Rabu, 15 Mei 2019 21:30 WIB
Bank Mandiri prediksi suku bunga acuan bisa turun jadi 5,75%

Bank Mandiri menyatakan suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) berpotensi untuk turun menjadi 5,75%. Sebelumnya sejak April 2019 BI-7DRRR tetap berada di level 6%.

"Kami melihat terdapat ruang bagi BI untuk memangkas BI-7DRRR pada akhir tahun ini sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,75%," ujar Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (15/5).

Andry mengatakan terdapat tiga faktor yang menentukan arah pergerakan BI-7DRRR, yakni tingkat inflasi, pergerakan suku bunga acuan the Fed, dan posisi Neraca Pembayaran. 

Sampai dengan April 2019, tingkat inflasi masih sangat stabil dan terjaga. Kemudian, pergerakan suku bunga The Fed juga telah memberikan sinyal positif. Hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Maret 2019 lalu telah mengindikasikan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga di tahun ini. 

Arah kebijakan the Fed yang lebih dovish tersebut memberikan dampak positif bagi pasar keuangan global, seperti terlihat dari aliran modal asing yang telah kembali masuk ke negara-negara emerging market termasuk Indonesia. 

Selanjutnya, faktor terakhir juga mendukung ruang pemotongan BI-7DRRR pada tahun ini. CAD dilaporkan telah menyusut dari 3,59% terhadap PDB pada kuartal IV-2018 menjadi 2,60% terhadap PDB pada kuartal I-2019. 

"Seiring dengan terus membaiknya neraca perdagangan barang, kami memperkirakan CAD akan berkurang menjadi pada kisaran 2,6% terhadap PDB pada FY19," ujarnya.

Sementara itu, terkait dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), pada 14 Mei 2019 nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp14.433 per dolar AS. Hal ini lebih disebabkan pada faktor musiman pembayaran dividen dan bunga utang luar negeri pada triwulan kedua, peningkatan impor barang konsumsi menjelang bulan ramadan dan meningkatnya tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok.

Sponsored

Perang dagang tersebut yang menyebabkan terjadinya arus modal keluar ke instrumen investasi safe haven yang ditandai dengan menurunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta meningkatnya imbal hasil SBN bertenor 10 tahun. 

IHSG pada penutupan 14 Mei 2019 ditutup melemah sebesar 1,1% menjadi 6.071,2 (-6% mtd atau -2% ytd), dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun naik sebesar 1,2 bps menjadi 8,05% (+22,5 bps mtd atau +2,8 bps ytd). 

"Menurut kami volatilitas nilai tukar tersebut hanya bersifat sementara dan kami memprediksi pada akhir tahun ini nilai tukar Rupiah akan berada pada kisaran Rp14.248 per dolar AS," katanya.