sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bank Mandiri raup laba Rp13,5 triliun di semester I-2019

Laba bersih PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) semester ini naik 11,1% dibandingkan semester I-2018.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 17 Jul 2019 18:45 WIB
Bank Mandiri raup laba Rp13,5 triliun di semester I-2019

PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) membukukan laba sebesar Rp13,5 triliun pada semester I-2019, atau naik 11,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp12,2 triliun. 

Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan laba bersih Bank Mandiri tahun ini diperoleh dari kenaikan pendapatan bunga sebesar 14,85% YoY menjadi Rp44,5 triliun. 

Capaian tersebut juga didukung oleh kualitas kredit yang semakin membaik dengan non performing loan (NPL) gross 2,59% turun 54 bps dari tahun lalu. Capaian ini didorong oleh pertumbuhan bisnis yang lebih stabil. Bank Mandiri membukukan kredit bank only sebesar Rp690,5 triliun pada Juni 2019 datau tumbuh 12,1% YoY.

Selain itu, lanjut Hery, Bank Mandiri berhasil menekan biaya operasional yang tumbuh di single digit. Penurunan biaya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar 21,28% dan perbaikan kualitas kredit juga turut mendorong kenaikan laba bank Mandiri. 

Bank Mandiri juga terus menunjukkan konsistensi dalam perbaikan kualitas kredit, di mana penurunan NPL gross menjadi 2,59% disebabkan oleh pengendalian manajemen risiko dan perbaikan kualitas kredit di hampir seluruh segmen bisnis.

“Rasio NPL gross tersebut merupakan angka terendah sejak triwulan III-2015," kata Hery. 

Hery melanjutkan, pertumbuhan kredit rata-rata perseroan secara bank only ditopang oleh dua segmen utama, yakni corporate dan retail yang berfokus pada kredit micro dan consumer

Per Juni 2019, pembiayaan segmen corporate secara bank only tumbuh rata-rata 21,2% yoy dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp338,4 triliun. Segmen micro banking secara bank only tumbuh rata-rata 23,6% yoy dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp110,4 triliun.

Sponsored

Sementara kredit consumer secara bank only tumbuh rata-rata 9,0% dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp87,3 triliun.

Untuk mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan, lanjut Hery, Bank Mandiri juga berupaya menjaga komposisi kredit produktif dalam porsi yang signifikan, yakni 77,4% dari total portofolio kredit Bank Mandiri dengan penyaluran kredit investasi mencapai Rp242,3 triliun dan kredit modal kerja mencapai Rp319,3 triliun. 

Sementara, dalam upaya peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK), Bank Mandiri juga meningkatkan kualitas layanan lewat jaringan online dengan nilai transaksi mencapai Rp552 triliun atau tumbuh 8,8% yoy. Peningkatan tersebut didorong oleh transaksi mobile banking yang mencapai Rp202 triliun. Mandiri Online hingga paruh tahun ini telah memiliki 2,52 juta aktif user dengan capaian nilai transaksi mencapai Rp317,9 triliun atau tumbuh 123% yoy.

Pada semester I-2019, Bank Mandiri juga menerbitkan surat utang melalui program Euro Medium Term Notes (EMTN) senilai US$750 juta. Surat utang bertenor 5 tahun dengan kupon 3,75% tersebut merupakan bagian dari rencana program penerbitan obligasi valas senilai US$2 miliar.

Permodalan dan likuiditas berada pada situasi yang baik dengan rasio CAR di level 21,01% dan rasio RIM di level 96,94%.

"Kami juga mengapresiasi kebijakan Bank Indonesia melalui pelonggaran Giro Wajib Minimun (GWM) kemarin karena memberikan ruang yang cukup bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit,” tutur Hery.

Langkah penguatan pendanaan juga dilakukan melalui peningkatkan dana murah untuk menjaga rasio Current Account Saving Account (CASA) tetap di atas 60%, pengendalian pertumbuhan biaya operasional, serta penyaluran kredit yang lebih prudent baik di segmen Wholesale dan Retail.

Hery melanjutkan pada triwulan II-2019, total Dana Pihak Ketiga (bank only) secara rata-rata tumbuh 6,8% yoy, atau secara konsolidasi mencapai ending balance Rp843,2 triliun. Capaian ini didorong oleh pertumbuhan tabungan bank only secara rata-rata 5,1% yoy dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp342,6 triliun, Giro konsolidasi tumbuh 7,2% yoy mencapai Rp200,2 triliun, dan pertumbuhan Deposito bank only secara rata-rata 15,1% yoy dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp300,4 triliun.