sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bank Mandiri restrukturisasi kredit 404.000 debitur

Mayoritas restrukturisasi berasal dari sektor perhotelan, restoran dan akomodasi, konstruksi, serta properti.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 08 Jun 2020 18:19 WIB
Bank Mandiri restrukturisasi kredit  404.000 debitur
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 365.240
Dirawat 64.032
Meninggal 12.617
Sembuh 289.243

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) hingga 7 Juni 2020 tercatat telah menyetujui restrukturisasi ke 404.000 debitur dengan baki debet mencapai Rp99 triliun.

Direktur Manajemen dan Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddiq mengatakan restrukturisasi akibat dampak Covid-19 tak hanya diberikan bagi debitur UMKM Bank Mandiri, tetapi ke seluruh debitur mulai dari kartu kredit hingga corporate banking.

"Dari total baki debet Rp99 triliun, restrukturisasi dari segmen wholesale banking hingga commercial banking mencapai Rp51,6 triliun. Sementara sisanya Rp47,3 triliun berasal dari berbagai segmen retail, yang terbesar dari UMKM," kata Siddiq dalam konferensi virtual paparan kinerja kuartal I-2020 Bank Mandiri, dari Jakarta, Senin (8/6).

Menurut Siddiq, sebanyak 70%-80% restrukturisasi tersebut berasal dari sektor perhotelan, restoran dan akomodasi, konstruksi, serta properti.  

Siddiq melanjutkan, pihaknya tengah melakukan kajian untuk semua debitur yang telah direstrukturisasi akibat Covid-19, mulai dari debitur kartu kredit sampai corporate banking. Kajian dilakukan untuk memprediksi sektor usaha yang sulit bangkit setelah Covid-19 usai. 

Debitur yang menurut Bank Mandiri setelah direstrukturisasi dan tak bisa mengembalikan kewajibannya setelah pandemi, pihaknya telah berencana menyisihkan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sejak sekarang sampai Maret 2021.

"Sehingga kalau memang debitur tersebut tak bisa bangkit dan harus diturunkan ke kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL), sebagian CKPN-nya sudah kita sisihkan secara bertahap. Tapi jumlahnya belum bisa kita hitung saat ini," tutur dia.

Adapun per kuartal I-2020, biaya CKPN Bank Mandiri untuk antisipasi penurunan kualitas kredit tercatat naik menjadi 26,19% dari Rp2,75 triliun pada kuartal I-2019, menjadi Rp3,47 triliun pada kuartal I-2020. 

Sponsored

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Silvano Rumantir mengatakan seiring dengan pembentukan CKPN tersebut, profitabilitas Bank Mandiri masih terjaga dengan Return on Equity (ROE) yang naik 2,05% menjadi 17,23% pada kuartal I-2020, dibandingkan kuartal I-2019 sebesar 15,18%.

Return on Asset (ROA) tercatat naik 0,03% menjadi 3,17% dari 3,14% secara tahunan. Adapun Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Mandiri juga tercatat naik menjadi 68,83% pada kuartal I-2020, dibanding tahun sebelumnya sebesar 68,18%.

"Karena kami akan banyak melakukan restrukturisasi, tentu akan ada tekanan ke pendapatan, sehingga tentu akan ada koreksi kinerja akhir tahun. Secara prinsip, kami dengan sadar, melalui inisiatif sendiri sudah melakukan penghematan dan akan fokus menjaga BOPO kami seefisien mungkin," tutur Silvano.

Berita Lainnya