logo alinea.id logo alinea.id

BBM Premium batal naik bikin IHSG dan rupiah merosot

Pembatalan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium berdampak pada merosotnya rupiah dan IHSG.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Jumat, 12 Okt 2018 04:26 WIB
BBM Premium batal naik bikin IHSG dan rupiah merosot

Pembatalan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium berdampak pada merosotnya rupiah dan IHSG.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (11/10), melemah ke level Rp15.235 per dollar AS. Depresiasi rupiah mencapai 12,39% sejak awal tahun ini. 

Bloomberg mencatat, rupiah ditransaksikan pada kisaran Rp15.223-Rp15.267 per dollar AS sepanjang hari.

Sementara, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat, rupiah melemah ke posisi Rp15.253 dari sebelumnya Rp15.215 per dollar AS.

Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan rupiah karena tekanan global seperti harga minyak mentah yang tinggi, penjualan asing di pasar saham, Brexit dan ketegangan Turki - Arab Saudi pasca insiden hilangnya tokoh oposisi Saudi.

Selain itu, kenaikan yield treasury atau surat utang AS yang memicu flight to quality global. Pelemahan rupiah juga disebabkan faktor domesik yakni maju mundurnya kebijakan harga BBM jenis premium.

"Ini faktor politiknya cukup dominan dibandingkan rasionalitas ekonomi. Pemerintah khawatir saat pertamax dinaikkan, kemudian premium juga naik, efek ke elektabilitas presiden besar," ujar Bhima saat dihubungi Alinea.id, Kamis (11/10).

Lebih lanjut, kata Bhima, hal ini justru menimbulkan kebingunan di masyarakat. Padahal, bertepatan dengan acara IMF-World Bank yang diawasi oleh pers asing dan investor.

Sponsored

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah. Ia mengatakan, pelemahan rupiah faktornya sama, yaitu tekanan eksternal dan domestik.

"Tapi pelemahan hari ini saya kira lebih disebabkan batalnya kenaikan harga BBM subsidi yang berarti konsumsi dan impor BBM kita masih akan tinggi," ujarnya. 

IHSG terseret BBM

Sementara itu, pelemahan rupiah juga berimbas kepada penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

"Kurang lebih faktornya sama yang menyebabkan melemahnya rupiah sekaligus melemahnya IHSG," ujar Bhima.

Menurut Bhima, inkonsistensi kebijakan energi mencoreng wajah Indonesia dan menciptakan sentimen negatif kepada pasar. Aksi jual bersih investor asing di pasar saham diperkirakan akan berlanjut. 

Pada perdagangan Kamis (11/10) sampai penutupan, investor asing sudah net sales Rp1,19 triliun. Sejak Januari, net sales tembus Rp56,1 triliun. Ketidakpastian kebijakan BBM juga menghambat minat investor masuk ke sektor Migas.

Diketahui, Laju IHSG sejak awal minggu ini terhenti pada perdagangan Kamis (11/10). Indeks ditutup terkoreksi ke posisi 5.702,82 poin atau melemah 117,84 poin setara 2,02%.

Sejak pembukaan, IHSG telah dibuka melemah 1,49% atau 86,67 poin di 5.734. Kemudian, pada akhir perdagangan sesi I, indeks saham menurun 106,17 poin atau 1,82% ke 5.714,5.

IHSG anjlok bersama indeks Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 terkoreksi 3,89%, Hang Seng turun 3,54%, dan CSI 300 terkoreksi 4,8%. Indeks di bursa Eropa juga melanjutkan pelemahan pada perdagangan Kamis ini.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan pelemahan IHSG hari ini, di antaranya batalnya kenaikan harga BBM Premium kemudian tajamnya kejatuhan Bursa Hongkong, Jepang, Korea, Shanghai. Adapun anjloknya DJIA sebeasar 3,1% dan EIDO 2,05%.

"Selain itu turunnya harga crude oil 2,78% dan harga nikel 2,06% di tengah kenaikan yield obligasi AS 10 tahun ke level 3,225% serta yield obligasi Indonesia 10 tahun ke level 8,6384% menjadi faktor negatif IHSG turun tajam hari ini," jelasnya.

Adapun pada perdagangan Kamis ini, penurunan indeks terjadi seiring dengan semakin derasnya aksi jual oleh investor asing. Mengacu pada data RTI, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,08 triliun, sementara investor domestik Rp1,07 triliun.

Sebanyak 78 saham mengalami kenaikan, 337 saham terkoreksi, dan 93 saham stagnan. Seluruh indeks sektoral mengalami koreksi, yang terbesar yaitu sektor Aneka Industri yang turun 2,92%, disusul sektor Finansial 2,68%, lalu sektor Tambang 2,46%.

PT Superkrane Mitra Utama Tbk. (SKRN) yang baru mencatatkan diri di pasar modal hari ini, menempati posisi top gainer dengan kenaikan harga saham hingga 50% menjadi Rp1.050 per lembar. 

Sementara, saham PT Cottonindo Ariesta Tbk. (KPAS) yang kemarin menjadi top gainer, hari ini menjadi emiten yang menempati top loser dengan penurunan harga saham sebesar 24,73% menjadi Rp136 per lembar.

Edwin mengatakan, pelemahan rupiah dan IHSG tentunya akan berdampak bagi beberapa emiten pada sektor ekspor maupun impor.

"Kalau punya utang atau berbahan baku dalam dollar AS, better hedging," pungkasnya.