sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BEI masih suspensi saham TAXI milik konglomerat Peter Sondakh

Saham PT Express Transindo Utama Tbk. (TAXI) milik konglomerat Peter Sondakh masih dibekukan oleh otoritas pasar modal.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Jumat, 14 Des 2018 00:09 WIB
BEI masih suspensi saham TAXI milik konglomerat Peter Sondakh
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 121226
Dirawat 38076
Meninggal 5593
Sembuh 77557

Saham PT Express Transindo Utama Tbk. (TAXI) milik konglomerat Peter Sondakh masih dibekukan oleh otoritas pasar modal.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menunggu pemenuhan kewajiban keterbukaan informasi TAXI sebelum membuka pembekuan (suspensi) perdagangan saham perusahaan tersebut. 

Pasalnya, sampai saat ini saham emiten berkode TAXI tersebut masih di suspensi dari 25 Juni 2018. Suspensi dilakukan lantaran perseroan gagal bayar bunga ke-16 Obligasi I Tahun 2014 pada 22 Juni.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna meminta waktu untuk memutuskan pembukaan suspensi saham TAXI, sambil menunggu perusahaan memenuhi kewajiban keterbukaan informasinya.

"Kita tidak akan membuat mereka susah, tapi yang ingin kita pastikan adalah semua substansi kenapa sahamnya disuspen itu sudah terjawab. Kedua, jangan sampai buka-tutup saja, kewajiban-kewajiban yang lain juga kita pastikan," kata Nyoman di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (13/12).

Perdagangan saham TAXI sudah dihentikan hampir setengah tahun terakhir lantaran perusahaan tak memenuhi kewajibannya membayarkan kupon obligasinya. Perusahaan sudah menunggak pembayaran kupon selama beberapa kali dengan alasan permasalahan likuiditasnya.

Beberapa hari lalu perusahaan telah melaksanakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dengan agenda meminta persetujuan investor untuk restrukturisasi surat utang dengan nilai emisi yang mencapai Rp 1 triliun.

Keputusannya, TAXI akan melakukan restrukturisasi dengan dua jalan yakni konversi obligasi menjadi kepemilikan saham senilai Rp400 miliar yang akan dimintai persetujuan pemegang sahamnya pada Februari nanti.

Sponsored

Kedua, senilai Rp600 miliar akan dijadikan sebagai obligasi konversi tanpa bunga dengan tanggal jatuh tempo pada 31 Desember 2020 mendatang.

Perusahaan terlebih dahulu akan menjualkan aset-aset yang dijaminkan perusahaan untuk obligasi ini, jika nilainya tak menutupi nilai obligasi tersebut maka sisanya akan dikonversi menjadi saham.

Berita Lainnya