Belanja subsidi telah melebihi target

Angka itu disumbang dari belanja subsidi BBM, LPG dan Listrik.

Belanja subsidi telah melebihi target
Warga mendistribusikan gas elpiji bersubsidi 3 Kg menggunakan perahu melintasi muara sungai Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (15/11)./Antara Foto

Pemerintah telah melakukan belanja subsidi sampai dengan 30 November 2018, mencapai Rp182,7 triliun atau 116,9% dari yang ditargetkan, yaitu sebesar Rp156,2 triliun. Angka itu disumbang dari belanja subsidi BBM, LPG dan listrik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, belanja subsidi naik karena adanya subsidi harga BBM jenis solar yang tadinya Rp500 per liter menjadi Rp2.000 per liter.  Juga adanya perubahan asumsi harga minyak yang tadinya US$48 per barel, naik menjadi US$60 per barel. 

"Kenaikan harga minyak tinggi. Mengingat Pertamina keuangannya tertekan, makanya ditambahkan dari Rp500 menjadi Rp2.000 per liter. Maupun dari bahan baku LPG, juga listrik yang dinaikkan," jelas Sri Mulyani. 

Hal itu dilakukan pemerintah, sebab ingin menjaga pertumbuhan ekonomi dari daya beli masyarakat. 

"Kita juga tidak ingin terjadi banyak distorsi. Juga menjaga keberlanjutan APBN. Hal ini akan tetap kami jaga," imbuhnya. 

Sampai dengan 30 November 2018, pemerintah telah melakukan belanja subsidi energi Rp130,4 triliun atau 138% dari yang ditargetkan, yakni sebesar Rp94,5 triliun. 

Jika dirinci, subsidi BBM dan LPG telah mencapai Rp84,3 triliun atau telah melebihi target yang dianggarkan sebesar Rp46,9 triliun. Dengan demikian ada pertumbuhan sebesar 179,8%. 

Untuk subsidi listrik, pemerintah telah membelanjakan Rp46,1 triliun atau telah melebihi 96,8% dari yang ditargetkan sebesar Rp47,7 triliun. 

Sementara, untuk subsidi non energi, telah dibelanjakan mencapai Rp52,3 triliun atau telah mencapai 84,7% dari yang ditargetkan, yaitu sebesar Rp61,7 triliun. 


Berita Terkait

Kolom

Infografis