logo alinea.id logo alinea.id

BI buka peluang turunkan suku bunga acuan di bawah 6%

Kebijakan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga di level 6% telah berlaku selama tujuh bulan berturut-turut.

Soraya Novika
Soraya Novika Selasa, 18 Jun 2019 09:00 WIB
BI buka peluang turunkan suku bunga acuan di bawah 6%

Bank Indonesia (BI) membuka peluang menurunkan suku bunga acuan di bawah 6%.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat dengat pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI. Langkah ini dilakukan karena kebijakan BI menahan suku bunga di level 6% telah berlaku selama tujuh bulan berturut-turut.

Perry menjelaskan bahwa penurunan suku bunga acuan dimungkinkan karena inflasi yang belakangan rendah serta pertumbuhan ekonomi yang terpantau kian melemah.

"Esensinya kan seperti itu," ujar Perry di komisi XI Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (17/6).

Ekonomi global

Sementara itu, Perry mengatakan langkah BI menahan suku bunga sejak tujuh bulan ke belakang disebabkan kondisi ekonomi global. 

Menurut Perry, jika BI menurunkan suku bunga dengan terburu-buru, akan timbul risiko pembiayaan di pasar keuangan. Terutama jika melihat gejolak ekonomi global yang terjadi bisa berpotensi memicu keluarnya dana asing. Oleh karena itu, sikap menahan suku bunga diperlukan untuk menahan pembalikan dana asing.

"Cuma masalahnya kita perlu melihat bagaimana  kondisi pasar keuangan global dan neraca pembayaran. Sampai saat ini kita sudah diskusi dari minggu lalu dan sekarang ini kondisi pasar keuangan global diliputi ketidakpastian, apakah diliputi perang dagang, Brexit dan masalah geopolitik yang sewaktu-waktu bisa terjadi pembalikan arus modal asing," katanya.

Sponsored

Apalagi, secara musiman, menurut Perry, pada kuartal II-2019, neraca pembayaran cenderung defisit (current account deficit/CAD). Hal ini karena adanya pembayaran utang, repatriasi, dividen dan pembayaran bunga yang dilakukan oleh korporasi. Untuk itu, lanjut Perry, hingga Mei 2019 ini, pihaknya masih mempertahankan suku bunga acuan stagnan pada level 6%.

"Kami harapkan semester II-2020, ketidakpastian global bisa mereda, begitu juga di kuartal ke depan lainnya. Defisit akan menurun, arus modal asing akan masuk, itu akan mendukung eksternal ekonomi Indonesia," tuturnya.

Di samping itu, Perry menjelaskan bahwa kebijakan yang diambil BI tersebut bukan berarti BI tidak memihak pada pertumbuhan. BI memiliki instrumen lain untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang memastikan bagaimana likuiditas di pasar uang lebih dari cukup dan ekspansi moneter.

Perry mengatakan, dengan suku bunga acuan 6%, kini bunga kredit turun sekitar 24 basis poin (bps) dan menjadi 10,84%, serta bunga deposito naik 106 bps menjadi 6,86% sedikit lebih tinggi dibandingkan bunga acuan BI.

"Sejak tahun lalu sampai sekarang suku bunga kredit tidak naik tapi malah turun. Juga suku bunga deposito naiknya tidak terlalu besar 160 poin menjadi 6,86% dari kenaikan suku bunga BI yang kami lakukan sekitar 1,75%," katanya.

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Riwayat Stasiun Gambir, dahulu jadi tumpuan

Senin, 14 Okt 2019 21:28 WIB
Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Denny Siregar: Saya bekerja tanpa komando

Sabtu, 12 Okt 2019 07:57 WIB