logo alinea.id logo alinea.id

BI masih yakin inflasi akhir 2019 di bawah 3,5%

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan faktor-faktor yang akan menjaga inflasi tetap rendah.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 30 Agst 2019 15:24 WIB
BI masih yakin inflasi akhir 2019 di bawah 3,5%

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan yakin inflasi hingga akhir tahun akan berada di bawah 3,5%. Perry menuturkan, hingga akhir Agustus, inflasi masih tetap rendah dan stabil sebesar 0,15% (mtm) dan 3,47% (yoy).

Dia pun menuturkan faktor pendukung inflasi masih dipengaruhi oleh komoditas cabai merah sebesar 0,11%, emas perhiasan 0,08%, cabe rawit 0,05%. 

"Memang hampir sama dengan berapa minggu sebelumnya yaitu cabai dan emas. Tapi kalau dilihat khusus cabai itu juga sudah mulai mengalami penurunan meskipun masih relatif tinggi kenaikannya," kata Perry di Bank Indonesia, Jumat (30/8).

Sementara, untuk deflasi, lanjutnya, hingga Agustus 2019 masih tercatat dipengaruhi oleh tarif angkutan udara sebesar 0,09%, bawang merah 0,07%, dan kemudian juga daging ayam bras 0,02%.

Deflasi cabai, katanya, masih dipengaruhi oleh faktor cuaca yang menyebabkan produksi di beberapa daerah terganggu, khususnya di wilayah Sumatera dan Jawa.

"Namun kita melihat bahwa ini masih bersifat temporer dan insya allah dalam tahun ini akan mulai panen cabai, dan karenanya sampai akhir tahun ini kami meyakini inflasi masih akan di bawah 3,5%," tuturnya.

Ia pun menjelaskan, perkiraan inflasi yang tetap berada di bawah 3,5% ditopang oleh beberapa faktor.

Pertama, permintaan yang dapat dipenuhi oleh kapasitas produksi. Pasalnya, dengan pertumbuhan permintaan pada kuartal satu sebesar 5,07% dan kuartal dua sebesar 5,05%, masih berada di bawah kapasitas produksi yang potensial.

Sponsored

"Sehingga tekanan-tekanan harga fundamentalnya masih akan tetap terjaga," ujarnya.

Kedua, ekspektasi inflasi di tingkat konsumen,  ekonom, pasar keuangan, maupun di tingkat produsen masih yang terjaga rendah. Hal ini sebagai dampak dari kepercayaan terhadap kebijakan yang ditempuh oleh Bank Indonesia dan juga pemerintah.

 "Memang itu bagian juga dari kredibilitas kebijakan yang ditempuh pemerintah dan BI," jelasnya.

Ketiga, dampak dari harga-harga komoditas internasional atau invasi impor yang rendah, yang juga menyebabkan nilai tukar rupiah stabil, dan berdampak pada terkendalinya inflasi.

 "Selanjutnya karena eratnya koordinasi bank pemerintah pusat dan daerah dengan BI, melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan TPID daerah," tuturnya.