sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BI: Neraca pembayaran kuartal IV surplus US$4 miliar

Bank Indonesia memerkirakan neraca pembayaran pada kuartal IV-2018 akan mengalami surplus sebesar US$4 miliar.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 28 Des 2018 17:36 WIB
BI: Neraca pembayaran kuartal IV surplus US$4 miliar
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23851
Dirawat 16321
Meninggal 1473
Sembuh 6057

Bank Indonesia memerkirakan neraca pembayaran pada kuartal IV-2018 akan mengalami surplus sebesar US$4 miliar.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, meski neraca pembayaran surplus, transaksi berjalan (Current Account Defisit/CAD) akan menurun dari 3%. Surplus neraca pembayaran membuat rupiah stabil menguat.

"Neraca pembayaran pada kuartal IV akan surplus US$4 miliar, meskipun CAD lebih tinggi dari 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Tapi arus modal asing dari penanaman modal asing (PMA), portofolio dan investasi lainnya jauh lebih besar," ujar Perry di kantornya, Jumat (28/12). 

Seperti diketahui rupiah terus menguat hingga level Rp14.500 per dollar Amerika Serikat. Penguatan rupiah seiring perbaikan premi risiko dan kondusifnya pasar global yang menyokong capital inflows.

Menurutnya, kebijakan BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah membuat kurs rupiah menguat. Meski begitu, nilai tukar rupiah saat ini masih terbilang di bawah nilai pasar alias undervalue.

"Confidence itu tumbuh sejak Juli-Agustus, membaik bahkan terus menguat bahkan pada hari ini di sekitar Rp14.500 per dollar AS. Meskipun kami melihat level itu undervalue kalau dilihat dari sisi fundamental," papar Perry. 

Untuk tahun 2019, Perry optimistis rupiah akan bergerak stabil dan kuat. Meskipun ketidakpastian berlanjut, tapi tekanan tidak akan sekuat pada 2018. 

Dia mencontohkan, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada tahun depan hanya akan naik dua kali, dibandingkan dengan tahun ini empat kali. Ketegangan perdagangan juga telah ada tanda-tanda mengarah ke lebih baik.

Sponsored

"Selain itu, premi risiko juga membaik. Dari sisi global memberikan faktor positif bagi aliran modal asing masuk, sehingga mendukung pergerakan rupiah (tahun depan) lebih baik," tutur dia. 

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi pada tahun depan juga akan lebih baik. Pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5%-5,4% pada 2019. Sementara inflasi akan rendah terkendali pada level 3,5% dan CAD akan menurun dari 3% terhadap PDB. 

"Kita upayakan bersama pemerintah menjadi 2,5%," kata Perry.

Berseberangan dengan Perry, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution justru meyakini neraca pembayaran pada kuartal IV-2018 tidak mengalami surplus. 

Kendati demikian, Darmin menilai kondisi ekonomi saat ini tidak sama dengan situasi pada 2-3 bulan lalu. Saat ini, sambungnya, tidak ada transaksi besar outflows.

Saat ini, kata dia, beberapa dana asing sudah kembali masuk. Meski CAD masih di atas 3% terhadap PDB, tetapi kondisi saat ini tidak begitu mengkhawatirkan seperti 2-3 bulan lalu. Dia pun tidak yakin neraca pembayaran pada kuartal IV-2018 bisa surplus. 

"Belum tentu, saya tidak bilang surplus. Paling enggak terus berjalan yang negatif bisa sedikit banyak diimbangi transaksi modal dan finansial. Perlu waktu untuk modal dari luar masuk sedikit-sedikit secara akumulasi," ujarnya. 

Pandangan Ekonom

Sejumlah ekonom juga meyakini bahwa neraca pembayaran pada kuartal IV-2018 mengalami surplus. Namun, ada juga yang meyakini bahwa neraca pembayaran pada kuartal IV-2018 masih mengalami defisit. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, neraca pembayaran sangat mungkin mengalami surplus pada kuartal IV-2018. Surplus ditopang oleh dana masuk dari front loading utang pemerintah. 

"Penerbitan surat utang negara (SUN) senilai total US$3 miliar dilakukan untuk penuhi kebutuhan pembiayaan anggaran 2019. Pasar surat utang pemerintah semakin menarik, karena tawarkan yield yang tinggi," ujar Bhima saat dihubungi Alinea.id, Kamis (28/12). 

Bhima menilai, secara musiman neraca pembayaran biasanya tertekan pada kuartal-II dan kuartal-III. Sebab, maraknya perusahaan metransfer laba ke kantor induk atau investor asing. 

Kendati demikian, surplus tersebut diprediksi tidak bertahan lama seiring tahun 2019. Sebab, adanya pemilihan presiden yang membuat investor berhati-hati masuk ke Indonesia. 

"Jadi, neraca pembayaran tetap harus dijaga dengan kebijakan yang struktural tidak bisa andalkan modal masuk dari utang," saran Bhima. 

Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah justru melihat neraca pembayaran pada kuartal IV-2018 masih defisit. Dilihat dari neraca modal yang surplus, namun tidak cukup menutup defisit CAD. 

Dengan defisit neraca perdagangan pada November yang mencapai US$2 miliar, CAD pada kuarta IV-2018 diperkirakan akan lebih besar dibandingkan pada kuartal I, II, dan III. Secara berturut-turut nilainya US$5,6 miliar, US$7,9 miliar, dan US$8,8 miliar. 

"Kuartal IV-2018 saya perkirakan CAD akan di atas US$10 miliar apabila neraca perdagangan pada Desember kembali defisit. Oktober-November, neraca perdagangan sudah defisit US$3,7 miliar," ujarnya. 

Kalaupun neraca perdagangan pada Desember bisa surplus, Piter meyakini nilainya masih di bawah US$1,7 miliar dan CAD akan tetap pada kisaran US$10 miliar. 

Apabila CAD pada kuartal IV-2018 melewati US$10 miliar, maka dapat dipastikan CAD pada tahun 2018 melewati batas psikologis 3% terhadap PDB. 

"Desember ini, saya perkirakan, (neraca pembayaran) masih defisit, tapi tidak akan lebih besar dari November. Mungkin akan ada pada kisaran US$0,5 miliar sampai US$1 miliar," kata Piter. 

Meksipun impor konsumsi berpotensi meningkat, Piter berharap impor minyak dan gas bisa terus turun seiring turunnya harga minyak mentah. Demikian juga dengan impor barang modal dan bahan baku. "Diharapkan akan sudah melambat," harapnya. 

Berita Lainnya