sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BI prediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada kuartal I-2019

Pertumbuhan ekonomi didorong oleh permintaan domestik yang semakin meningkat, terutama dari sisi konsumsi.

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 25 Apr 2019 17:53 WIB
BI prediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada kuartal I-2019

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 berada di kisaran 5%-5,4% dengan rata-rata sebesar 5,2%. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih tinggi atau membaik sepanjang tahun ini. 

“Hal ini tentunya didorong oleh permintaan domestik yang semakin meningkat, terutama dari sisi konsumsi," ujar Perry di Jakarta, Kamis (25/4).

Perry menjelaskan konsumsi yang tetap tinggi ini didukung oleh terjaganya daya beli dan keyakinan masyarakat serta berlanjutnya stimulus fiskal, termasuk melalui bantuan sosial dan belanja terkait pemilihan umum.

Akan tetapi, investasi diperkirakan bakal sedikit melambat sejalan pola musiman awal tahun. Kemudian, diperkirakan kembali menguat pada triwulan-triwulan berikutnya didukung keyakinan dunia usaha yang membaik serta proyek infrastruktur yang berlanjut.

Demikian pula dengan peran ekspor netto yang dinilai belum kuat sejalan dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan menurunnya harga komoditas.

"Ke depan, prospek pertumbuhan ekonomi tetap kuat ditopang permintaan domestik sejalan keyakinan pelaku ekonomi yang tetap terjaga," ucapnya.

Inflasi 

Sementara itu, inflasi tercatat tetap rendah dan terkendali. Berdasarkan catatan BI, Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2019 tercatat sebesar 0,11% (mtm) atau inflasi 2,48% (yoy), setelah sesuai pola musimannya pada bulan lalu mengalami deflasi sebesar 0,08% (mtm) atau inflasi 2,57% (yoy). 

Sponsored

Inflasi yang tetap terkendali pada Maret 2019 ini dipengaruhi inflasi kelompok inti yang melambat dan kelompok volatile food yang kembali mencatat deflasi. 

Sementara itu, inflasi administered price naik didorong kenaikan tarif angkutan udara. 

"Inflasi yang dalam tren menurun beberapa tahun terakhir, termasuk terkendalinya inflasi kelompok pangan, berdampak positif pada tetap terjaganya daya beli masyarakat, khususnya masyarakat kelompok menengah bawah," tuturnya.

Ke depan, BI menjamin bakal tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini untuk memastikan inflasi tetap rendah dan stabil dalam kisaran sasaran inflasi sebesar 3,5%±1% pada 2019.

"Koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait juga ditempuh dalam mengendalikan inflasi pada bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri 1440 H," katanya.

Nilai tukar

Sementara itu, BI mencatat nilai tukar rupiah bulan ini terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan secara point to point sebesar 1,17% dibandingkan akhir Maret 2019 lalu. Penguatan ini ditopang oleh kinerja sektor eksternal yang terus membaik.

Demikian pula, bila dibandingkan dengan level 2018, nilai tukar rupiah menguat 2,17% secara point to point dan 0,80% secara rata-rata. 

Menurut Perry, perkembangan ini tidak terlepas dari perkembangan aliran masuk modal asing yang besar ke pasar keuangan domestik, termasuk aliran masuk ke pasar saham yang berlanjut pada April 2019. 

Sejalan dengan semua aspek tersebut, BI memprediksi ke depannya nilai tukar rupiah akan stabil dengan mekanisme pasar yang tetap terjaga baik.

"Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, khususnya di pasar uang dan valas," tuturnya.

Hingga pukul 16.42 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat mencapai Rp14.183. Hal ini justru menunjukkan pelemahan dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang dihargai sebesar Rp14.090 per dolar AS.

Akan tetapi secara menyeluruh, rupiah memang mencatatkan penguatan terutama sejak awal tahun ini. Namun selepas Pemilu 2019, rupiah justru bergerak cenderung melemah.