sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BI prediksi inflasi Februari sebesar 2,58%

Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi pada Februari 2019 sebesar 2,58% secara tahunan (year on year/yoy). 

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 22 Feb 2019 15:30 WIB
BI prediksi inflasi Februari sebesar 2,58%

Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi pada Februari 2019 sebesar 2,58% secara tahunan (year on year/yoy). 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, Survei Pemantauan Harga (SPH) BI yang dilakukan bersama 46 kantor perwakilan BI di seluruh daerah menunjukkan harga tetap terkandali. 

Berdasarkan data SPH BI sampai minggu ketiga, pada Februari 2019 terjadi deflasi sebesar 0,07% month to month (mtm). 

"Jadi, ini lebih rendah dari realisasi inflasi Januari, di mana ada inflasi 0,32% (mtm). Bulan ini kami perkirakan ada deflasi 0,07%," kata Perry di Jakarta, Jumat (22/2). 

Perry juga mengatakan semua harga terkendali bahkan mengalami penurunan. Deflasi tercatat pada sejumlah harga pangan, seperti cabai merah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang mengalami deflasi 0,07%. 

Selain itu, kata Perry, terjadi deflasi sebesar 0,06% pada daging ayam ras dan bawah merah. Serta deflasi pada telur ayam sebesar 0,05% dan sejumlah komoditas lainnya, seperti cabai rawit yang juga deflasi 0,02%. 

"Jadi, kalau lihat dari agregat supply dan penawaran agregat, masih akan lebih tinggi dari permintaan agregat.  Meskipun permintaan naik, kami tidak melihat ada tekanan tekanan inflasi inti dari permintaan," tutur dia. 

Perry juga optimistis inflasi sampai akhir tahun lebih rendah dari yang ditargetkan, yakni 3,5% plus minus 1%. Hal itu terjadi karena penguatan rupiah dan inflasi impor tetap rendah.

Sponsored

“Ini mendukung inflasi inti tetap rendah,” kata dia.

Perry melanjutkan, indikator lainnya yakni harga pangan dan barang yang diatur pemerintah (administered price) masih terkendali. 

Sebelumnya, inflasi IHK pada Januari 2019 tercatat 0,32% (mtm) atau 2,82% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,62% (mtm) atau 3,13% (yoy). Penurunan inflasi bersumber dari turunnya inflasi kelompok volatile food dan deflasi pada kelompok administered prices

Inflasi volatile food menurun dipengaruhi deflasi bahan pangan sehingga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan rerata historis. Harga kelompok administered prices mencatat deflasi terutama dipengaruhi penurunan harga BBM nonsubsidi dan tarif kereta api.