sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BI prediksi surplus NPI akan turun pada kuartal I-2019

Bank Indonesia (BI) memprediksi surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2019 bakal menurun dibandingkan kuartal IV-2018.

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 25 Apr 2019 21:05 WIB
BI prediksi surplus NPI akan turun pada kuartal I-2019

Bank Indonesia (BI) memprediksi surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2019 bakal menurun dibandingkan kuartal IV-2018. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan prospek NPI ini dipengaruhi oleh surplus transaksi modal dan finansial yang cukup besar. 

"Kenaikan cadangan devisa itu cerminan surplus neraca modal lebih tinggi dari defisit transaksi berjalan," ujar Perry di Jakarta, Kamis (25/4).

Kondisi surplus pada neraca pembayaran juga dipengaruhi oleh perkiraan defisit tansaksi berjalan yang berkurang.

Deifisit transaksi berjalan kuartal I-2019, kata Perry, akan lebih rendah dibanding kuartal IV-2018, yakni sebesar Rp132 triliun atau 3,57% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Selanjutnya pada triwulan II-2019, defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar. 

Prospek perbaikan defisit transaksi berjalan didukung peningkatan surplus neraca perdagangan yakni dari US$0,33 miliar pada Februari 2019 menjadi US$0,54 miliar pada Maret 2019. 

Sebagaimana diketahui, peningkatan surplus neraca perdagangan sendiri terdorong oleh kenaikan pada neraca perdagangan nonmigas dan penurunan defisit neraca perdagangan migas. 

"Peningkatan defisit transaksi berjalan bukan disebabkan oleh pelebaran neraca dagang juga dipicu oleh pembagian dividen. Namun, BI memastikan porsinya terhadap PDB masih di bawah 3%," katanya.

Sponsored

Sementara itu, surplus transaksi modal dan finansial cukup besar didukung aliran masuk modal asing yang sampai dengan Maret 2019 tercatat US$5,5 miliar. 

Surplus neraca modal diperkirakan akan terus berlanjut, yang akan ditopang oleh aliran dana masuk pada saham, obligasi global, dan green sukuk. 

Surplus neraca modal pada kuartal II-2019 juga diperkirakan masih mampu menutupi defisit transaksi berjalan. 

Sebelumnya, neraca transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit US$31,06 miliar atau setara Rp344 triliun (dengan kurs Rp14.000/dolar Amerika Serikat) pada 2018. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya serta merupakan berbesar dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

Sementara, neraca pembayaran Indonesia 2018 mengalami defisit US$7,13 miliar dibanding tahun sebelumnya surplus US$ 11,59 miliar. Defisit neraca pembayaran tahun lalu hampir menyamai 2013 yang mencapai US$7,32 miliar.

Dengan perkembangan ini, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2019 mencapai US$124,5 miliar, setara dengan pembiayaan 7 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

Ke depan, sinergi kebijakan tetap difokuskan pada upaya memperkuat ketahanan eksternal. Langkah itu diambil tentu dilakukan untuk memperkuat ekspor, termasuk peningkatan kinerja sektor pariwisata, dan pengendalian impor akan terus ditempuh sehingga defisit transaksi berjalan 2019 dapat menuju kisaran 2,5% PDB.