sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BI proyeksikan minggu keempat September alami deflasi

Hal itu sejalan dengan turunnya harga bahan makanan.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Sabtu, 29 Sep 2018 00:49 WIB
BI proyeksikan minggu keempat September alami deflasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Bank Indonesia memproyeksikan deflasi sebesar 0,06% (month to month) pada minggu ke-4 di September 2018. Hal itu sejalan dengan turunnya harga bahan makanan. 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, mengatakan, dengan deflasi sebesar 0,06% (mtm), maka secara year on year (yoy) inflasi berada dikisaran 3,02%. 

"Menunjukkan inflas rendah dan juga stabil. Itu juga mengkonfirmasi bahwa hingga akhir tahun ini, probablitas inflasi akan di bawah titik tengah sasaran Bank Indonesia, yakni, 3,5% plus minus 1%," jelas Perry di kantornya, Jumat (28/9). 

Deflasi terjadi dikarenakan adanya komoditas pangan seperti bawang merah, cabai merah, dan telur ayam yang harganya masih terus turun. 

"Disamping juga koreksi dari tarif angkutan udara. Juga mengkonfirmasi tekanan inflasi dari permintaan," paparnya. 

Indeks Harga Konsumen (IHK) BI juga memperlihatkan adanya permintaan di dalam negeri yang meningkat, namun tekanan inflasi masih tetap rendah. 

Sementara itu, dampak rambatan dari pelemahan nilai tukar tidak terlihat terhadap deflasi di minggu ke-4 ini. 

Terpisah, Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menyampaikan inflasi akan berada dikisaran 0,2% - 0,3% pada September 2018. Hal itu dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp15.000 per dollar AS. 

Sponsored

"Itu belum tercermin pada harga kebutuhan pokok secara umum, karena banyak yang masih menggunakan stock lama. Stock 2 - 3 bulan sebelumnya," jelas Bhima saat ditemui di Jakarta belum lama ini. 

Kendati demikian, Bhima mengungkapkan inflasi tersebut masih dalam target yang ditetapkan pemerintah.

Disisi lain, Bhima melihat akan terjadi kenaikan inflasi yang cukup tinggi di November-Desember. Hal itu tercermin dari imported inflation terhadap harga kebutuhan pokok. 

"Di November itu orang sudah mulai memasok banyak sekali bahan baku, barang konsumsi, dan barang modal. Untuk kebutuhan natal dan tahun baru," ungkap Bhima.

Disamping itu juga, ada harga minyak mentah saat ini sebesar US$80 per barel. Itulah sebabnya dia meyakini akan ada penyesuaian harga BBM nonsubsidi. 

Bhima menyarankan agar pemerintah bisa menyiapkan pasokan pangan yang cukup. Sehingga inflasi masih bisa ditekan. 

Sampai akhir 2018, Bhima memprediksi inflasi akan berada di kisaran 3,6%-3,7%. Namun tidak sampai menembus 4%. 

Berita Lainnya
×
img