logo alinea.id logo alinea.id

BI: Rupiah sudah stabil

Level Rp15.000-an per dollar AS, merupakan titik keseimbangan baru yang mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 19 Okt 2018 19:46 WIB
BI: Rupiah sudah stabil

Kondisi nilai tukar saat ini diklaim bergerak stabil, hal itu membuat investor percaya kepada Indonesia. 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan, supply dan demand di pasar keuangan telah berjalan cukup baik. Mekanisme pasar juga bergerak secara baik. 

"Sekaligus menunjukkan confidence pasar. Termasuk confidence global dan investor asing terhadap Indonesia cukup baik," ujar Perry di kantornya, Jumat (19/10).

Selain itu, Perry juga mengungkapkan, salah satu fasilitasnya, yakni, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) progressnya berjalan dengan baik. 

Hanya saja, dalam pelaksanannya membutuhkan sejumlah penyesuaian di Bank Indonesia. 

"Sistem informasi untuk perdagangan, standarisasi dari kontrak, serta kesiapan dan tressurynya membutuhkan kesiapan akan manajemen risiko," ujar Perry. 

DNDF sendiri merupakan insturmen valas derivatif yang diperdagangkan over the counter. Guna membeli atau menjual sejumlah mata uang pada suatu waktu tertentu di masa mendatang. 

Bank Indonesia juga telah melakukan koordinasi dan bertemu secara intesif dengan pelaku dan industri terkait guna mempercepat implementasi DNDF. 

Sponsored

"Progressnya kurang lebih 75%. Itu sudah siap. Kami berharap sebelum pertengahan November bisa live," pungkas dia. 

Data kurs referensi atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) nilai tukar rupiah terhadap dollar AS./ Sumber: BI Sementara itu ekonom Agustinus Prasetyantoko menilai level Rp15.000-an per dollar AS, merupakan titik keseimbangan baru yang mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Nampaknya rupiah akan sulit kembali menguat daripada level saat ini. Mengingat ketidakpastian global diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2019. Sehingga arus modal asing yang masuk ke Tanah Air tidak akan sederas tahun-tahun sebelumnya dan likuiditas cenderung ketat.

"Dengan pasokan dan likuiditas yang terbatas, kita tidak akan kembali ke Rp13.000 atau Rp14.000. Rp15.000 inilah titik keseimbangan baru buat rupiah kita," ujarnya yang juga Rektor Universitas Katolik Atma Jaya itu.

Kendati ketidakpastian ekonomi global masih membayangi ekonomi Indonesia dari sisi eksternal, namun pelemahan rupiah diyakininya tidak akan terjadi lebih dalam lagi.

Ia mengenang kondisi ekonomi menjelang tahun politik pada 2013 lalu dengan rupiah juga sempat tertekan, namun kemudian dapat kembali bangkit setelah ada kepastian pemenang pemilu.

"Kira-kira situasinya mirip dan kita dapat take off dari situasi itu. Tampaknya kita tidak perlu terlalu worry, mungkin rupiah akan melemah sedikit tapi melemah tajam rasanya tidak," katanya.

Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sudah tepat untuk meredam gejolak terhadap rupiah dan diperkirakan akan kembali dinaikkan apabila Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunganya.

Kendati demikian, dalam jangka menengah panjang kinerja ekspor harus dapat diperbaiki sehingga defisit transaksi berjalan dapat ditekan dan nilai tukar pun dapat lebih tahan dari gejolak eksternal.

"Secara strategis struktural, problem domestik kita yaitu impor lebih besar dari ekspor. Jangka menengah, ekspor harus didorong sehingga bisa melebihi impor dan kita terbebas dari situasi defisit transaksi berjalan seperti sekarang ini," ujarnya. (Ant)