logo alinea.id logo alinea.id

BI usulkan rupiah dikisaran Rp14.300-14.700 pada RAPBN 2019

BI melihat tekanan ekonomi masih akan terus diliputi ketidakpastian sampai dengan 2019

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Selasa, 04 Sep 2018 16:25 WIB
BI usulkan rupiah dikisaran Rp14.300-14.700 pada RAPBN 2019

Bank Indonesia mengusulkan proyeksikan kurs nilai tukar Rupiah terhadap US$ di RAPBN 2019 pada level Rp14.300 - Rp14.700. 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, melihat tekanan ekonomi masih akan terus diliputi ketidakpastian sampai dengan 2019. Dari sisi eksternal, harga komoditas minyak akan mewarnai pergerakan ekonomi di Indonesia, termasuk juga terhadap nilai tukar. 

"Nilai tukar Rupiah terhadap US$ berada pada level Rp14.300 sampai Rp14.700 dengan rentan yang lebih lebar," jelas Perry saat memaparkan mengenai langkah kebijakan moneter BI dalam rapat bersama Anggota Badan Anggaran di DPR, Selasa (4/9). 

Untuk diketahui pada RAPBN 2019, pemerintah memproyeksikan nilai tukar Rupiah terhadap US$ pada kisaran Rp14.400. 

Lebih lanjut, Perry menyampaikan hal itu dilihat dari harga komoditas yang sulit diprediksi. Sehingga akan mewarnai pergerakan ekonomi, termasuk nilai tukar hingga tahun depan.

Namun tekanan pada 2019 diyakini akan mereda dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi di dunia termasuk di Amerika Serikat. Tingkat kenaikan suku bunga Bank Central AS juga diyakini tidak setinggi tahun ini. Fed Fund Rate diperkirakan hanya tiga menaikkan di tahun 2019. Lebih sedikit dari 2018 yang kenaikanannya hanya empat kali. 

Perang dagang antara Amerika Serikat dengan mitra dagangnya seperti China, Kanada dan Meksiko juga masih menjadi ketidakpastian ekonomi global, yang semakin meningkatkan modal asing termasuk penguatan US$. 

BI juga akan terus melakukan stabilisasi agar nilai tukar Rupiah terhadap dolar tidak terdepresiasi terlalu dalam. 

Sponsored

"Upaya BI bersama pemerintah bersama OJK untuk menurunkan defisit neraca pembayaran di 2019 juga bisa mengurangi tekanan nilai tukar rupiah," jelas Perry. 

BI juga mengklaim kenaikan suku bunga acuan bisa mencapai 125 basis point atau 5,75% . Hal itu diyakini bisa mempertahankan daya tarik pasar keuangan di Indonesia. 

Kendati demikian BI memastikan akan berkoordinasi erat dengan pemerintah dan otoritas terkait. Sebagai upaya mempertahankan daya tarik domestik dan melakukan bond stabilization, serta menjaga inflasi. 

Implementasi pengurangain impor melalui penerapan B20 juga diklaim bisa membuat keuangan Indonesia lebih heat.  "BI tetap mencermati dan prospek perekonomian untuk memperkuat respons kebijakan dengan koordinasi pemerintah dan OJK," pungkas Perry.