logo alinea.id logo alinea.id

Bisnis online bikin Grup Emtek milik konglomerat sulit untung

Bisnis online seperti pada Bukalapak, membuat Grup Emtek milik konglomerat terkaya ke-11 di Indonesia Eddy Kusnadi Sariaatmadja sulit untung

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Selasa, 26 Jun 2018 02:37 WIB
Bisnis online bikin Grup Emtek milik konglomerat sulit untung

Bisnis online seperti pada Bukalapak, membuat Grup Emtek milik konglomerat terkaya ke-11 di Indonesia Eddy Kusnadi Sariaatmadja sulit untung.

Berdasarkan laporan keuangan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), tercatat sepanjang kuartal I/2018, induk Grup Emtek tersebut belum berhasil mencatatkan kinerja positif.

Pasalnya, perusahaan yang bergerak di sektor media ini mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp206,1 miliar. Capaian itu berbanding terbalik dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang memperoleh laba bersih sebesar Rp22,6 miliar.

Pendapatan perusahaan juga turun dari Rp1,9 triliun pada kuartal I/2017 menjadi Rp1,8 triliun. Justru, beban pokok pendapatan membengkak dari Rp1,18 triliun menjadi Rp1,24 triliun.

Wakil Direktur Utama EMTK Sutanto Hartono mengaku tak yakin mampu meraup pertumbuhan laba bersih sepanjang tahun ini. Meskipun, manajemen induk usaha dari stasiun televisi SCTV ini optimistis masih mampu meraup laba bersih. 

"Salah satu yang membuat pertumbuhan laba bersih perseroan tahun ini berat untuk tumbuh adalah bisnis digital milik perusahaan. Saat ini Emtek memang terkenal fokus untuk membangun banyak perusahaan digital," katanya dalam paparan publik di SCTV Tower Jakarta, Senin (25/6).

Dia menjelaskan, dari sisi pendapatan, dia yakin bisa meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebab, Sutanto yakin lini bisnis media Grup Emtek khususnya TV free-to-air (FTA) mengalami kinerja yang positif. 

Akan tetapi, Sutanto tidak menyebutkan proyeksi peningkatan pendapatan maupun penurunan laba pada tahun ini. 

Sponsored

"TV memang menjadi penopang media kami, terutama dari sisi audience share. Sehingga kami yakin akan meningkatkan revenue," ungkapnya.

Menurut Sutanto, sebetulnya perusahaan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan rencana anorganik seperti melakukan akuisisi. Namun, kata dia, untuk saat ini perseroan belum menemukan perusahaan yang tepat untuk diakuisisi. Terlebih, proses akuisisi memerlukan waktu yang tidak sedikit.

Tahun ini, sambungnya, EMTK memang tengah fokus dalam mengembangkan bisnis digitalnya. "Kami tetap melanjutkan ekspansi ataupun investasi kami di bidang perusahaan-perusahaan online yang sedang digarap bersama," pungkasnya.

Grup Emtek merupakan perusahaan yang dimiliki oleh Eddy Kusnadi Sariaatmadja. Dia tercatat sebagai orang terkaya ke-11 di Indonesia pada 2018 versi majalah Forbes.

Kekayaan Eddy diproyeksi mencapai US$1,33 miliar atau setara dengan Rp18,62 triliun (kurs Rp14.000 per dollar Amerika Serikat). Grup Emtek memiliki tiga bisnis televisi FTA, yakni SCTV, Indosiar, dan O-Channel.

Grup Emtek memang gencar berinvestasi pada sektor digital. Misalnya, platform Blackberry, bobobobo.com, PropertyGuru Pte., Ltd., Bridestory Pte., Ltd., Hijup.com, Kudo, KMK Online, termasuk juga investasi lanjutan di Bukalapak.com.