sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BKPM sesumbar target investasi Rp817,2 triliun tercapai pada akhir 2020

Penanaman yang masuk periode Januari-September didominasi dari dalam negeri.

Firda Junita
Firda Junita Rabu, 16 Des 2020 22:14 WIB
BKPM sesumbar target investasi Rp817,2 triliun tercapai pada akhir 2020
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sesumbar, target investasi 2020 sebesar Rp817,2 triliun dapat terealisasi pada akhir tahun nanti. Dalihnya, sudah terealisasi 74,8% atau Rp611 triliun sejak Januari-September.

"Melihat situasi tersebut, kami meyakini, bahwa target investasi bisa kita capai saat akhir tahun," ujar Staf Ahli Bidang Penanaman Modal BKPM, Heldy Satrya Putera, dalam webinar "Menularkan Optimisme Investasi ke Seluruh Penjuru Negeri" dalam akun YouTube IDX Channel, Rabu (16/12).

Dirinya melanjutkan, sebesar 50,7% investasi yang masuk merupakan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Sisanya, 49,3%, merupakan penanaman modal asing (PMA).

“PMA di Indonesia masih mengalami penurunan, tetapi kalau kita lihat secara global, rata-rata arus foreign investment di seluruh negara menurun 20 hingga 40%. Artinya, dibandingkan dengan beberapa negara lain, Indonesia masih lebih baik,” klaimnya.

Investor asing cenderung mengincar sektor logam dasar dan pengelolaan sumber daya alam (SDA). Sementara itu, dana PMDM mengalir ke sektor telekomunikasi dan kawasan industri perkantoran.

Berdasarkan data BKPM, arus investasi terbesar menyasar Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Tengah (Jateng).

Dalam kesempatan sama, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menyatakan, bukan upaya mudah mempertahankan predikat sebagai provinsi yang paling banyak mendapat investasi. Apalagi saat pandemi Covid-19.

"Sudah banyak investor potensial yang ingin masuk ke Jawa Tengah, tetapi karena pandemi mereka jadi menunda. Saat itu, kita coba untuk berkomunikasi dengan satu per satu investor sehingga mereka ingin berinvestasi di Jawa Tengah,” jelasnya.

Sponsored

Hingga semester I 2020, sambungnya, investasi yang masuk Jateng melampaui target. Ini disebut tidak lepas dari upaya menghubungi para calon investor yang pernah berkomitmen supaya tetap terealisasi.

"Selain itu, promosi kita masih berjalan bersama Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kementerian Luar Negeri (Kemlu), dan Bank Indonesia (BI) sehingga kita bisa bekerja sama untuk bisa meningkatkan investasi di Jawa Tengah,” katanya.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menjelaskan, promosi investasi dilakukan setiap tahun melalui Central Jawa Investment Business Forum. Pada 2020, kegiatan dilaksanakan secara virtual.

"Pada masa pandemi ini, kita berharap untuk seluruh perizinan terkait investasi agar dipermudah dan seluruh petugas kita bisa dijadikan sebagai guide,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Jabar, Noneng Komara Ningsih, menyebutkan, nilai investasi di daerahnya mendapat peringkat satu dengan Rp86,3 triliun. Capaian tersebut di bawah target yang ditetapkan.

"Target investasi Jawa Barat tahun ini mencapai Rp99 triliun. Artinya, di kuartal III, kami sudah mencapai 87%,” ucapnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar melakukan berbagai upaya untuk menggaet investor. Mengoptimalkan seluruh potensi, salah satunya.

"Bumi Pasundan" diklaim lebih efisien dibandingkan daerah lain dalam beberapa indikator. "Produktifitas tenaga kerja, infrastruktur yang memadai, supply change yang tetap, dan jumlah penduduk yang besar, juga menjadi pasar yang besar ini lebih menguntungkan dibandingkan provinsi lain,” tuturnya.

Adapun ekonom Piter Abdullah, menilai, kontraksi perekonomian yang dialami Indonesia saat pandemi tidak terlalu besar daripada negara lain.

"Perekonomian kita tidak terpuruk. Memang kita mengalami kontraksi, tetapi hal itu merupakan kewajaran di tengah pandemi," ujarnya.

Dia berpendapat, peluang yang dimiliki Indonesia untuk bangkit sangat besar. Karenanya, mendorong terbangunnya optimisme agar beranjak dari resesi.

Berita Lainnya