sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Neraca perdagangan September surplus, BPS: Sudah 5 bulan berturut-turut surplus

Nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 14,01 miliar atau meningkat 6,97% dibandingkan Agustus 2020.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Kamis, 15 Okt 2020 12:51 WIB
Neraca perdagangan September surplus, BPS: Sudah 5 bulan berturut-turut surplus
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus US$2,44 miliar di September 2020 pada neraca perdagangan Indonesia. Itu artinya, sudah lima bulan berturut-turut Indonesia mengalami surplus.

“Selama lima bulan berturut-turut dari Mei, Indonesia mengalami surplus. Angka ini juga lebih besar dari September 2019. Di mana kita mengalami defisit. Surplus terjadi karena ekspor dan impor meningkat,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, melalui live Youtube, Kamis (15/10).

Nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 14,01 miliar atau meningkat 6,97% dibandingkan Agustus 2020. Sementara, nilai impor mencapai US$11,57 miliar atau naik 7,71% dibandingkan Agustus 2020
Namun, ekspor dan impor mengalami penurunan jika dibanding dengan September 2019.

“Jika dibanding dengan September 2019, ekspor menurun tipis 0,51%. Posisinya sudah hampir sama dengan September 2019,” ujar Suhariyanto.

Sementara itu, nilai impor turun 18,88% dibanding September 2019. Lebih rinci, nilai ekspor mengalami kenaikan karena adanya kenaikan ekspor migas dan nonmigas. Ekspor nonmigas September 2020 mencapai US$13,31 miliar atau naik 6,47% dibanding Agustus 2020. Sedangkan, ekspor migas mencapai US$703,1 juta atau naik 17,43%.

Suhariyanto mengatakan, komoditas lainnya yang mengalami peningkatan nilai ekspor adalah lemak dan minyak hewan/nabati, kendaraan dan bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.

“Komoditas yang mengalami penurunan, yaitu barang dari besi dan baja, bahan bakar mineral, barang dari kulit samak, serta tembakau dan rokok,” tambah Suhariyanto.

China tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar (18,37%) dengan komoditas besi/baja, batu bara, dan minyak kelapa sawit.

Sponsored

Sementara dari sisi impor, impor nonmigas September 2020 naik 6,18% atau mencapai US$10,40 miliar dibandingkan Agustus 2020. Sementara impor migas 23,50% atau mencapai US$1,17 miliar.

“Peningkatan impor migas dipicu oleh naiknya impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas. Sedangkan, nonmigas mengalami kenaikan di golongan mesin dan peralatan mekanis serta penurunan di golongan bijih, terak, dan abu logam,” tutupnya.

Selain itu, terjadi peningkatan impor berdasarkan asal negara di Jepang, Korea Selatan, China, Ukraina, dan Singapura.

Sumber: BPS

Berita Lainnya