logo alinea.id logo alinea.id

BRI Syariah raup laba Rp106,6 miliar

PT Bank BRI Syariah Tbk. (BRIS) meraup laba bersih senilai Rp106,6 miliar pada 2018, naik tipis 5,4% dari tahun sebelumnya.

Sukirno
Sukirno Senin, 01 Apr 2019 20:10 WIB
BRI Syariah raup laba Rp106,6 miliar

PT Bank BRI Syariah Tbk. (BRIS) meraup laba bersih senilai Rp106,6 miliar pada 2018, naik tipis 5,4% dari tahun sebelumnya.

Pendapatan emiten anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) itu mencapai Rp3,12 triliun. Capaian pendapatan pengelolaan dana mudharib itu naik 10,79% dari tahun sebelumnya Rp2,81 triliun.

Total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp7,88 triliun, lebih tinggi 20,9% dari tahun sebelumnya Rp6,52 triliun. Sedangkan, pembiayaan mencapai Rp475,3 miliar, merosot 43,4% dari tahun sebelumnya Rp840 miliar.

Sekretaris Perusahaan BRI Syariah Indriati Tri Handayani mengatakan laba sebelum pencadangan sebesar Rp776,771 miliar, meningkat 30,35% dibandingkan pada tahun sebelumnya. Sedangkan, asetnya juga tumbuh 20,20% menjadi Rp37,91 triliun dari Rp31,54 triliun.

Menurut dia, kinerja positif BRI Syariah pada tahun 2018 ditunjang oleh dana pihak ketiga (DPK) khususnya pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) melalui pemanfaatan akses jaringan layanan haji dan pembayaran gaji karyawan dan secara tahunan.

"Pertumbuhan dana murah BRI Syariah di tahun 2018 naik sebesar 24,02%," ujarnya, Senin (1/4).

Indriati berharap pada 2019, diharapkan pertumbuhan dana murah dapat terus meningkat sehingga komposisi dana murah dibanding dengan total dana pihak ketiga. BRI Syariah ke depan dapat menekan biaya dana dan mengoptimalkan keuntungan bagi stakeholders.

"Upaya pencapaian tersebut akan didorong berbagai program dan strategi yang telah disiapkan, termasuk dengan meningkatkan kerja sama payroll dengan institusi. Total, sepanjang Desember 2018, BRI Syariah telah menjalin kerja sama baru dengan berbagai institusi baik swasta, BUMN maupun satuan kerja di bawah kementrian/lembaga negara," katanya.

Sponsored

Selain tabungan payroll, dukungan terhadap ekosistem haji umrah menjadi kunci peningkatan dana murah. Dukungan ini ditunjukkan tidak hanya melalui produk tabungan, tapi juga penandatanganan nota kesepahaman dengan Al Rajhi Bank untuk remitansi yang ditandatangani pada 29 Maret 2019.

"Di sisi pembiayaan, pertumbuhan pembiayaan yang memiliki profil risiko rendah merupakan pendorong utama pertumbuhan pembiayaan. Di tahun 2018 BRI Syariah menunjukan pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,96%," kata Indriati.

Pada 2019, pembiayaan BRI Syariah akan tetap fokus pada segmen bisnis konsumer sebagai long-term key growth driver dan komersil sebagai short-term key growth driver yang diharapkan dapat menciptakan trickle down business bagi segmen bisnis lainnya termasuk konsumer.

Namun di sisi lain, BRI Syariah juga akan fokus pada pengelolaan Non-Performing-Financing dan terus mengevaluasi kontrol terhadap risiko untuk menyelaraskan pertumbuhan bisnis dengan pengendalian risiko yang memadai.

Sinergi dengan induk pun akan terus ditingkatkan di berbagai bidang, antara lain Sumber Daya Insani dan pengembangan jaringan untuk pendalaman pasar di wilayah-wilayah blank-spot BRI Syariah baik di bidang pendanaan, transaksi bisnis maupun operasional guna mendukung pertumbuhan bisnis dengan cara efisien. Sinergi ini terwujud melalui Kantor Layanan Syariah (unit kerja BRI yang melayani transaksi Syariah) yang jumlahnya akan terus bertambah. Tercatat pada bulan Desember 2018, ada 1103 KLS di unit kerja BRI di seluruh Indonesia.

Sementara di platform digital BRI Syariah berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah antara lain dengan pengembangan produk digital yang telah ada, melalui layanan integrasi dari Internet Banking (iBank) dan Mobile Banking (BRIS Online). Keduanya adalah fondasi bagi peningkatan dana murah dan pendapatan jasa BRI Syariah. (Ant).