logo alinea.id logo alinea.id

BTN rancang aksi korporasi caplok perusahaan investasi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. merancang aksi korporasi dengan mencaplok kepemilikan saham perusahaan investasi pada 2019.

Sukirno
Sukirno Sabtu, 18 Mei 2019 02:39 WIB
BTN rancang aksi korporasi caplok perusahaan investasi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. merancang aksi korporasi dengan mencaplok kepemilikan saham perusahaan investasi pada 2019.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan rencana perseroan untuk menjadi pemilik saham mayoritas hingga 85% dari total kepemilikan perusahaan manajemen investasi PT Permodalan Nasional Investment Management (PNMIM). 

PNMIM merupakan anak usaha dari BUMN PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Pada tahap awal, pertengahan tahun ini, BTN sudah mengajukan untuk mencaplok 30% terlebih dahulu saham PNMIM dengan total nilai Rp114,3 miliar.

"Kami akan lebih fokus pada hal-hal yang secara bisnis akan menambah pertumbuhan kinerja perseroan. Termasuk dalam hal ini aksi korporasi BTN untuk mengambil alih mayoritas saham PNMIM," ujarnya dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan di Jakarta, Jumat (17/5).

Aksi anorgank ini sudah didahului dengan Perjanjian Pembelian Saham Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) pada April 2019 lalu untuk pembelian 30% saham. Pembelian 30% saham itu sedang diajukan oleh BTN kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk disetujui.

"Kami harapkan OJK dapat memberikan persetujuannya pada Juni 2019 sehingga kami bisa melanjutkan tahapan selanjutnya untuk menambah kepemilikan saham hingga sekitar 85%," ujar Maryono.

Maryono mengklaim aksi korporasi Bank BTN mengambil alih saham PNMIM mendapatkan sambutan yang baik dari para pemegang saham dalam RUPS-T Jumat ini.

Sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) 2019-2021, perseroan berencana memiliki anak usaha di bidang manajemen investasi untuk meraup pendapatan non bunga dan persiapan pengelolaan dana pengelolaan dana tabungan perumahan.

Sponsored

"Sampai (kepemilikan saham) 85% mungkin mekanismenya sedang kita diskusikan, apakah lewat pembelian langsung PNM atau PNMIM right issue (menerbitkan saham baru)," kata Maryono.

Direktur Strategi, Finansial dan Treasuri BTN Nixon L.P Napitupulu merinci jika pembelian 30% saham PNMIM disetujui OJK pada pertengahan tahun ini, BTN akan memulai proses pembelian saham tambahan sebesar 30% pada akhir 2019. Nilai pembelian 30% saham tahap kedua itu masih menunggu valuasi terhadap PNMIM.

"Sedangkan sisanya untuk menjadi 85% pada 2020. Kita masih mengkaji apakah melalui pembelian langsung PNM atau PNMIM right issue (menerbitkan saham baru)," ujar Nixon.

Dividen dan rombak direksi

Sementara itu, RUPST memutuskan untuk membagikan dividen tahun buku 2018 senilai Rp561 miliar. Rasio pembagian dividen mencapai 20% dari laba bersih tahun buku 2018 senilai Rp2,8 triliun.

Untuk itu, investor akan mengantongi dividen tunai Rp53,03 per lembar saham. "Dividen payout ratio sekitar 20% setara Rp561 miliar," ujar Nixon.

Rasio pembagian dividen yang rendah itu dilakukan lantaran emiten bersandi saham BBTN tersebut membutuhkan penguatan struktur permodalan. Sisa laba bersih sebesar 80% digunakan sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur modal.

Pemegang saham juga memutuskan untuk merombak jajaran direksi dan komisaris BTN. Mantan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Asmawi Syam didaulat sebagai Komisaris Utama BTN.

Menurut Maryono, keputusan perombakan komisaris dan direksi ini murni dari pemegang saham dwiwarna, yakni Kementerian BUMN. "Pastinya pertimbangan-pertimbangan ini untuk memajukan perusahaan," ujar Maryono.

Selain pengangkatan Asmawi Syam, pemegang saham BTN juga mengganti beberapa komisaris yakni I Wayan Agus Mertayasa, dan Parman Nataatmadja, serta Maurin Sitorus.

Sementara pada jajaran direksi, nama Iman Nugroho Soeko dari posisi Direktur Finansial dan Treasuri digantikan Nixon L.P Napitupulu. Nixon, yang merupakan mantan Direktur Utama PT Bank Mantap juga merangkap sebagai Direktur Koleksi dan Manajemen Aset.

Adapun Asmawi Syam merupakan bankir senior yang yang merintis karir di BRI. Setelah meninggalkan BRI pada 2017, Asmawi dipercaya memimpin PT Asuransi Kredit Indonesia, serta kemudian memimpin PT Jiwasraya hingga Mei 2018.

Pada 2019 ini, emiten bersandi BBTN itu menargetkan pertumbuhan aset hingga 11%-13% secara tahunan (year on year/yoy). Untuk mendukung perolehan aset itu, BTN membidik pertumbuhan kredit dan pembiayaan di 12%-14%, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) ditargetkan tumbuh setara dengan pembiayaan di 12%-14%. (Ant).

Berdasarkan hasil RUPST Jumat (17/5), berikut jajaran komisaris dan direksi BTN :

Komisaris
Komisaris Utama/Independen: Asmawi Syam
Komisaris Independen: Kamaruddin Sjam
Komisaris Independen: Arie Coerniadi
Komisaris Independen: Lucky Fathul Aziz Hadibrata
Komisaris Independen: Garuda Wiko
Komisaris: Sumiyati
Komisaris: Iman Sugema
Komisaris: Eko Djoeli Heripoerwanto

Direksi
Direktur Utama: Maryono
Direktur IT & Operation: Andi Nirwoto
Direktur Commercial Banking: Oni Febriarto Rahardjo
Direktur Compliance: R. Mahelan Prabantarikso
Direktur Finance and Treasury & Strategy
merangkap Direktur Collection, Aset Management: Nixon L.P Napitupulu
Direktur Consumer Banking: Budi Satria
Direktur Distribution & Network: Dasuki Amsir
Direktur Strategic & Human Capital: Yossi Istanto