sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Buka keran ekspor batu bara bertahap jadi solusi tepat?

Hanya saja, pemasok batu bara kepada PLN harus berkomitmen untuk menjaga pasokan ke PLN.

Anisatul Umah
Anisatul Umah Rabu, 12 Jan 2022 15:59 WIB
Buka keran ekspor batu bara bertahap jadi solusi tepat?

Pemerintah memastikan belum membuka keran ekspor batu bara setelah kebijakan pelarangan yang dikeluarkan terhitung sejak 1-31 Januari 2022. Evaluasi mengenai larangan ekspor batu bara masih terus berjalan.

Jika sudah diputuskan dibuka kembali, pemerintah menyebut akan melakukannya secara bertahap. Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, pembukaan ekspor secara bertahap merupakan solusi terbaik.

Akibat pelarangan ini Indonesia mendapatkan tekanan dari negara-negara importir batu bara RI. Tidak hanya dari pihak asing, tekanan juga datang dari pengusaha dalam negeri, karena mereka khawatir bakal mendapatkan denda dari pemilik kapal.

"Saya kira pembukaan ekspor batu bara secara bertahap merupakan win-win solusi bagi semua pihak. Apalagi tekanan dari negara lain masih cukup kuat kepada Indonesia," paparnya kepada Alinea.id, Rabu (12/1).

Potensi denda juga bisa datang dari pembeli, meski pelarangan ini bisa dikatakan sebagai keadaan kahar atau force majeur. Namun implementasi dari setiap kontrak tentunya berbeda-beda.

"Selain itu, kondisi saat ini dimana cadangan batu bara PLN sudah 15 hari operasi menjadi pertimbangan sendiri bagi Kemenko Marves untuk membuka keran ekspor secara bertahap meskipun idealnya adalah 20 hari operasi," jelasnya.

Menurutnya, dengan dibukanya keran ekspor secara bertahap, akan membantu banyak pihak. Hanya saja, pemasok batu bara kepada PLN harus berkomitmen untuk menjaga pasokan ke PLN.

"Jangan sampai nanti setelah 15 hari kita kembali mengalami krisis pasokan. Implementasi Kepmen 139/2021 harus bisa dijalankan," tegasnya.

Sponsored

PT PLN (Persero) menyampaikan akan melakukan perbaikan managemen agar kelangkaan pasokan batu bara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tidak terulang kembali.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, kontrak-kontrak yang mulanya jangka pendek akan diubah menjadi jangka panjang.

PLN bisa melihat pola konsumsi tahunan berbasis pertumbuhan permintaan. Sehingga bisa diestimasikan berapa kebutuhan batu bara dalam sebulan, tahun depan, hingga tahun-tahun kedepannya lagi.

"Kontrak-kontrak jangka pendek kita ubah menjadi jangka panjang yang penuh keandalan, kita sudah ubah mulai tahun lalu, karena kontrak kebutuhan yang jangka panjang. Kita bisa melakukan estimasi selama lima tahun," paparnya dalam Diskusi Economic Challenges, Selasa malam (11/1).

Menurutnya jika kontrak orientasinya jangka pendek membuat pasokan jadi tidak ada kepastian. Selain mengubah kontrak monitoring juga dilakukan baik monitoring di lapangan dan digital.

"Kita gabungkan dengan sistem digital yang kemudian kita gabungkan di sistem digital Dirjen Minerba. Kita ubah monitoring pada saat loading," jelasnya. 

Berita Lainnya
×
tekid