sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

BUMN farmasi pastikan tidak menaikkan harga alkes dan obat

Industri farmasi melakukan transaksi jual-beli melalui broker sehingga memunculkan mafia.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 21 Apr 2020 19:47 WIB
BUMN farmasi pastikan tidak menaikkan harga alkes dan obat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Pandemi Covid-19 membuat permintaan terhadap beberapa produk alat kesehatan dan obat-obatan jenis tertentu melonjak dan menyebabkan kelangkaan karena terbatasnya suplai yang ada. Kondisi ini pun dimanfaatkan oleh mafia alat kesehatan dan obat-obatan dengan menaikkan harga.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir memastikan badan usaha milik negara (BUMN) sektor farmasi tidak akan menaikkan harga alat kesehatan di tengan pandemi Covid-19.

"Kami saat ini mementingkan fungsi kami sebagai agent of development. Kami tak mungkin menaikkan harga," ujar Honesti dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (21/4).

Honesti mengungkapkan mafia alkes dan obat-obatan ini muncul karena industri farmasi melakukan transaksi jual-beli melalui broker. 

Sementara, Honesti menyatakan holding farmasi BUMN membeli alkes dan obat-obatan langsung ke produsen tanpa perantara broker. Sehingga, dapat mencegah kemungkinan naiknya harga alkes dan obat-obatan tersebut.

"Seperti misalnya sampai akhir Maret, hanya Kimia Farma yang masih menjual masker seharga Rp2.000/pcs," ujarnya.

Namun, lanjut Honesti, dalam penjualan masker tersebut pihaknya hanya bertindak sebagai distributor, bukan produsen. Maka, pihaknya berharap ada kepastian suplai dari pemasok agar harga tak merangkak naik.

Adapun terkait dengan kelangkaan pasokan bahan baku obat, Honesti mengatakan selama ini Indonesia masih mengimpor 90% bahan baku obat. Hal ini disebabkan karena industri hulu, yaitu industri kimia dasar di Indonesia belum berkembang.

Sponsored

"Hal ini berbeda kalau kita bandingkan kondisinya dengan India dan China yang industri kimia dasarnya sudah berkembang. Apabila kita meminta industri kimia dasar memperbaiki kompetensi, dibutuhkan waktu dan investasi," tuturnya.

Di sisi lain, harga bahan baku impor yang lebih kompetitif juga menjadi dilema untuk mengembangkan investasi di industri kimia dasar. Sehingga, untuk menuju 0% impor dalam lima tahun mendatang, Honesti mengakui sulit untuk dilakukan.

"Masalah bahan baku, kami sudah membuat roadmap agar tahun 2021 kami bisa mengurangi impor dari 90% ke 75%," kata Honesti.

Berita Lainnya