logo alinea.id logo alinea.id

COCO siapkan capex Rp33,3 miliar genjot produksi

PT Wahana Interfood Nusantara Tbk. (COCO) mengalokasikan belanja modal atau senilai Rp33,3 miliar tahun ini untuk peningkatan produksi.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 20 Mar 2019 16:02 WIB
COCO siapkan capex Rp33,3 miliar genjot produksi

PT Wahana Interfood Nusantara Tbk. (COCO) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp33,3 miliar tahun ini. Direktur Utama COCO Reinald Siswanto mengatakan, capex yang diperoleh dari hasil penawaran saham (initial public offering/IPO) untuk akan digunakan untuk peningkatan produksi.

"Penggunaan di antaranya untuk pembelian tanah, pembangunan pabrik dan pembelian mesin-mesin produksi," kata Reinald di Jakarta, Rabu (20/3). 

Reinald mengatakan perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi dengan memulai pembangunan pabrik baru di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pabrik tersebut direncanakan dapat selesai pada 2021 dan langsung berkontribusi terhadap produksi dan penjualan lebih tinggi.

Menurut Reinald, dengan penambahan kapasitas produksi tersebut, COCO membidik peningkatan penjualan 80%. “Karena ada kapasitas mesin baru bisa push penjualan selling out, akhirnya menghasilkan penjualan yang lebih tinggi. Kemudian laba bersih bisa mencapai Rp 11 miliar tahun 2021,” kata dia.

Reinald menyebut, penjualan COCO sepanjang 2018 mencapai Rp152 miliar. Kemudian pada tahun ini pihaknya menargetkan Rp200 miliar. Sedangkan laba perusahaan pada 2018 senilai Rp3 miliar. Pada tahun ini pihaknya membidik pertumbuhan laba 33,33% menjadi Rp4 miliar.  

Setelah pabrik baru beroperasi, perusahaan produsen cokelat ini menargetkan kapasitas produksi menjadi 10.600 ton per tahun, naik dari saat ini sebanyak 6.000 ton per tahun.

Penambahan produksi ini juga diharapkan bisa mendorong peningkatan penjualan ekspor cokelat dengan merk Schoko ini menjadi 10% dalam pada 2021. Penjualan ekspor saat ini hanya 1% mengingat tingkat permintaan dalam negeri yang masih terbilang tinggi.

"Salah satu kendala kita saat ini market lokal sangat besar, tapi kita ada masalah dengan kapasitas produksi," ujarnya.

Sponsored

Sebagai informasi, perusahaan mengekspor produknya ke negara-negara ASEAN, Jepang, Korea Selatan, Australia, Spanyol hingga Amerika Serikat. Dia menegaskan belum ada penambahan pasar ekspor baru karena perseroan hanya meningkatkan volume penjualan di pasar tersebut.

"Sekarang penjualan ekspor masih dibatasi kuota, setelah ada pabrik baru akan dipasok dengan volume yang lebih tinggi," ujar dia.

Untuk dalam negeri, penjualan dilakukan dengan skema bussiness to bussiness (B2B) ke produsen pembuat roti atau bakery dan beberapa waralaba coffee shop internasional yang beroperasi di Indonesia. Saat ini perusahaan mengolah biji kakao sebagian besar di pasok oleh petani lokal seperti daerah Jember, Purwakarta, dan Padang.