sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dampak coronavirus, impor dari China anjlok hingga 51%

Nilai impor barang dari China mencapai US$463 juta pada akhir Februari 2020.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 03 Mar 2020 18:25 WIB
Dampak coronavirus, impor dari China anjlok hingga 51%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.322.866
Dirawat 158.408
Meninggal 35.786
Sembuh 1.128.672

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan terjadi penurunan nilai impor barang dari China sejak merebaknya coronavirus.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kemenkeu Syarif Hidayat mengungkapkan terjadi penurunan impor China dari US$1,097 miliar pada Desember 2019 menjadi US$463 juta pada akhir Februari 2020.

"Jadi total sampai minggu kesembilan 2020 nilai impor turun US$463 juta dibandingkan akhir Desember 2019 sebesar US$1,097 miliar, dan masih ada tren turun," katanya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (3/3).

Syarif pun menjelaskan, jika melihat pola pergerakan impor barang China dari tahun sebelumnya (2018-2019), menjelang tahun baru dan Imlek memang selalu terjadi penurunan nilai impor barang China. Namun, akan meningkat kembali di dua minggu setelah perayaan Imlek.

Hanya saja, pada tahun ini terjadi anomali pergerakan impor China. Alih-alih meningkat, pascaperayaan imlek 25 Januari lalu, dua minggu setelahnya nilai impor China justru terus merosot.

Berdasarkan data DJBC, pada minggu kedua Desember 2019 nilai impor China tercatat sebesar US$922 juta. Lalu menurun menjelang tahun baru 2020 sebesar US$692 juta. Kemudian meningkat hingga US$1,049 miliar di minggu kedua Januari 2020.

Namun, menjelang perayaan Imlek mengalami penurunan menjadi US$948 juta. Kemudian, terus turun menjadi US$515 juta di minggu ketiga Februari, dan terus anjlok di US$463 juta di akhir Februari.

Berdasarkan data yang sama, terlihat pergerakan nilai impor China dari minggu keempat Januari 2019 sebesar US$1,059 miliar, lalu turun menjelang imlek menjadi US$928 juta. Kemudian terus turun di minggu ketiga Februari 2019 menjadi US$ 541 juta.

Sponsored

Namun, di dua minggu setelah perayaan imlek atau di akhir Februari 2019 terjadi peningkatan nilai impor barang China menjadi US$704 juta.

"Bahwa pada Desember 2019 masih US$1,097 miliar, lalu turun Desember menjelang natal dan tahun baru dan naik lagi. Lalu turun saat imlek, dua minggu setelahnya harusnya naik, ini tidak," ujarnya.

Dia menjelaskan, penurunan nilai impor produk China tersebut disebabkan sejumlah pekerja China masih dikarantina, sehingga menghambat proses produksi sejumlah barang-barang.

"Karena Cina masih dirumahkan sebagian dari mereka sampai 8 Maret, kegiatan ekonomi Cina relatif terhenti, tapi mudah-mudahan setelah tanggal 8 ada rebound karena pemerintah Cina mulai normal," ucapnya.

Syarif pun menerangkan, untuk jenis barang yang mengalami penurunan terbesar adalah komputer dari US$43,8 juta di awal Januari 2020 menjadi US$16,7 juta di akhir Februari 2020.

Lalu, barang semi manufaktur dari US$77 juta di januari 2020, menjadi US$39,3 juta. Kemudian untuk barang mesin produk yang mengalami anjlok terparah dari US$243 juta di awal Februari menjadi US$139,7 juta di akhir Februari.

Berita Lainnya