sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dampak coronavirus, stok bahan baku manufaktur habis pada Maret

Sekitar 74% dari impor yang masuk ke Indonesia berupa bahan baku untuk kebutuhan industri.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Senin, 24 Feb 2020 14:43 WIB
Dampak coronavirus, stok bahan baku manufaktur habis pada Maret
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 396.454
Dirawat 60.694
Meninggal 13.512
Sembuh 322.248

Pemerintah memprediksi ketersediaan bahan baku untuk kebutuhan industri akan habis pada Maret 2020. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan hal ini disebabkan terganggunya impor dari China karena penyebaran coronavirus.

“Sebagian besar atau 74% dari impor yang masuk ke Indonesia berupa bahan baku untuk kebutuhan industri. Sekarang masih ada stok cadangan inventori, tapi siklusnya 1-2 bulan, pertengahan Maret akan terasa," katanya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (24/2).

Dia menjelaskan eskalasi lebih luas dari coronavirus mulai terjadi sejak akhir Januari 2020 dan akan terasa dalam dua bulan ke depan. Bahkan, sektor pariwisata sudah terdampak langsung sejak ditutupnya penerbangan dari dan ke Tiongkok pada 5 Februari.

"Masalahnya akan berpengaruh ke semua lalu lintas orang dan barang. Lalu lintas orang sudah setop per 5 Februari kemarin. Enggak ada wisatawan dari China (masuk)," ujarnya.

Untuk itu, kata Susi, pemerintah harus mengantisipasi dampak lanjutan coronavirus terhadap sektor perdagangan dan industri. Sebab, perlambatan pada sektor ini akan cepat menggerus pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Susi juga menjelaskan, dengan mewabahnya coronavirus, sejumlah simulasi telah dilakukan. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi China diprediksi mengalami penurunan sebesar 1%-2% pada 2020. Setiap penurunan 1% ekonomi China, diprediksi akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terpangkas sebesar 0,3% hingga 0,6%.

"Hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi akan kami hitung transmisi kontraksinya. Konsensusnya masih 1%-2% pada perekonomian China. Ekonomi kita harus siap untuk itu," ujarnya.

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah sedang membahas sejumlah kebijakan untuk menggenjot penurunan pertumbuhan sejumlah sektor industri agar terus tumbuh, dengan memberikan sejumlah insentif.

Sponsored

"Maka sudah ada instruksi menteri-menteri dalam rapat untuk menyiapkan kebijakan. Ini kita harus merespons dengan pemberian insentif lalu lintas orang, belanja kita pada di kuartal satu, dan strategi besar pemerintah menyelesaikan masalah terkait Omnibus Law,” ucapnya.

Berita Lainnya