sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dua perusahaan properti melantai di bursa

Dua perusahaan properti PT DMS Propertindo Tbk. dan PT Eastparc Hotel Tbk. mencatatkan saham perdana.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 09 Jul 2019 12:42 WIB
Dua perusahaan properti melantai di bursa

Perusahaan pengembang properti PT DMS Propertindo Tbk. resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini. Emiten yang fokus pada pengembangan properti, perhotelan, dan jasa manajemen hotel ini mendapatkan kode KOTA untuk saham mereka. 

Pada listing hari ini, DMS menawarkan sebanyak 933 juta saham baru pada publik atau sebesar 8,90% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan dengan harga Rp200 per lembar saham. DMS akan mendapatkan dana senilai Rp100 miliar dari hasil IPO ini. 

Direktur Utama DMS Mohamad Prapanca mengatakan dana hasil IPO tersebut akan digunakan perseroan untuk pembelian lahan potensial di Jawa Barat. "Sisanya akan kami alokasikan untuk modal kerja, khususnya untuk operasional perseroan dan entitas anak, PT Padjadjaran Raya dalam bentuk penyertaan modal," ujar Prapanca di BEI, Jakarta, Selasa (9/7).

Prapanca menjelaskan, saat ini DMS melalui entitas anak usaha telah memiliki persediaan tanah seluas 1,8 hektare di Serpong, Tangerang, yang akan dikembangkan menjadi rumah tapak.

Selain itu, perseroan juga memiliki tanah seluas 49,2 hektare di Samarinda yang akan dikembangkan menjadi rumah tapak dan area komersial, dan tanah seluas 1,4 hektare di Tangerang Selatan yang akan dikembangkan menjadi apartemen.

Untuk diketahui, pendapatan usaha perseroan tahun 2018 sebesar Rp170 miliar, naik 424,71% dari tahun sebelumnya sebesar 32 miliar. Peningkatan pendapatan tersebut disumbang oleh penjualan tanah, penjualan unit rumah, dan pendapatan dari hotel. 

Sementara laba tahun berjalan perseroan pada 2018 sejumlah Rp13 miliar naik 18,61% dibandingkan tahun 2017 yang hanya sebesar Rp11 miliar.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, saham KOTA dibuka naik ke level Rp340 atau sebesar 70% dari harga pembukaan Rp200 dan langsung mengalami auto reject atas. Tercatat terjadi frekuensi transaksi sebanyak satu kali, volume satu lot, dengan nilai Rp34.000.

Sponsored

Selain melakukan penawaran umum, DMS juga melaksanakan Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp270 miliar. DMS juga menerbitkan sebanyak 2,871 miliar waran seri I yang diberikan secara cuma-cuma kepada pemegang saham hasil konversi Obligasi Wajib Konversi. 

Harga pelaksanaan waran ini adalah sebesar 125% dari harga IPO. Jangka waktu pelaksanaan waran ditetapkan selama tiga tahun, dengan masa berlaku pelaksanaan waran mulai 10 Januari 2020 sampai 8 Juli 2022.

Pengembang hotel syariah IPO

Sementara itu, PT Eastparc Hotel Tbk., perusahaan pengembang dan pengelola hotel di Yogyakarta mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini dengan kode EAST.

Perseroan melepas 412 juta saham atau setara dengan 10% modal disetor dan ditempatkan perseroan dengan harga pembukaan Rp133 per saham pada penawaran umum perdana. Jumlah seluruh nilai penawaran umum adalah sebesar Rp54,88 miliar.

Presiden Direktur Eastparc Khalid bin Omar Abdat mengatakan saham EAST mendapatkan respons yang baik dari publik dengan mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribe) sebanyak 4,51 kali.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, saham hotel syariah ini naik 49,62% ke level Rp199 dari harga pembukaan Rp133. Tercatat terjadi frekuensi transaksi sebanyak 9 kali dengan volume 358 lot dan dengan nilai Rp7,12 juta. 

Dana yang diperoleh dari penawaran umum ini akan digunakan sepenuhnya untuk pengembangan usaha dalam bentuk pembangunan hotel Eastparc Express. Eastparc Express akan menjadi hotel bintang empat dengan total 150 kamar yang berada tepat di sebelah Eastparc Hotel Yogyakarta. Manajemen memperkirakan pembangunan tersebut akan menghabiskan dana sekitar Rp115 miliar.

"Tahun ini kami fokus mengembangkan Eastparc Express dulu. Belum ada rencana untuk ekspansi ke luar Pulau Jawa, fokus di Yogyakarta dan Jawa Tengah dulu," kata Khalid di BEI, Jakarta, Selasa (9/7). 

EAST mencatatkan pendapatan usaha tahun 2018 semebesar Rp54,056 miliar mengalami penurunan sebesar Rp150 juta atau 0,28% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp54,206 miliar.

Kemudian untuk laba bersih tahun 2018, EAST mencatatkan peningkatan sebesar Rp2,464 miliar, atau naik 26,16% sebesar Rp511 juta dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp1,953 miliar.