logo alinea.id logo alinea.id

Efek jangka pendek defisit neraca perdagangan

Dalam jangka pendek, defisitnya neraca perdagangan berdampak pada kinerja IHSG.

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 16 Mei 2019 10:35 WIB
Efek jangka pendek defisit neraca perdagangan

Neraca perdagangan sepanjang April 2019, seperti dirilis Badan Pusat Satistik (BPS) kemarin, mengalami defisit hingga US$2,5 miliar. Dalam jangka pendek, defisit neraca perdagangan ini berdampak pada kinerja pasar modal.  

Nilai ekspor RI sebesar US$12,6 miliar per April atau turun 13,1% dibanding tahun lalu. Sedangkan nilai impor mencapai US$15,10 miliar yang juga turun 6,58% dari tahun lalu. 

Dengan demikian, neraca perdagangan April 2019 mencatatkan defisit hingga US$2,5 miliar. Angka ini adalah yang terparah sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Sebelumnya, defisit terdalam pernah dialami Indonesia pada Juli 2013 yaitu sebesar US$2,3 miliar.

Salah satu dampak dari defisit neraca perdagangan dalam jangka pendek adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diproyeksi bakal semakin terpuruk pada perdagangan Kamis (16/5). 

"Dampak paling keliatan sejauh ini IHSG bakal direspons negatif oleh pelaku pasar," ujar Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho kepada Alinea.id melalui pesan tertulis, Rabu (15/5).

Sebagaimana diketahui, pelemahan IHSG nyatanya semakin dalam sejak penutupan perdagangan Rabu (15/5). Tercatat, IHSG ditutup melorot 90,31 poin atau 1,49% ke 5.980, dengan kondisi sebanyak 115 saham tercatat naik, namun 287 lainnya turun dan 130 saham tidak bergerak.

Sedangkan efek jangka panjang defisit ini bakal berdampak pada defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). "Jangka panjangnya tentu pelebaran defisit current account, jika cadangan devisa tidak begitu kuat, pelemahan rupiah akan menjadi imbasnya," katanya.

Transaksi berjalan sendiri merupakan gambaran arus uang yang keluar masuk melalui sektor-sektor riil. Sementara transaksi di sektor riil ini lebih bertahan lama, tidak mudah keluar dan masuk dengan cepat.

Sponsored

Berbeda dengan sektor keuangan, seperti saham, investor bisa dalam waktu singkat menarik modal dari Indonesia.

Singkatnya, saat neraca transaksi berjalan mengalami defisit, ada lebih banyak uang yang keluar dari Indonesia ketimbang yang masuk. Jika jumlah uang amat besar, artinya banyak sekali uang yang berhamburan ke luar negeri.

Maka dari itu, transaksi berjalan menjadi fondasi yang sangat penting bagi stabilitas nilai tukar mata uang. Dalam hal ini rupiah, bila kekurangan pasokan modal di dalam negeri, maka akan sulit untuk menahan tekanan mata uang lain.

Sebagaimana diketahui, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal I-2019 mencapai US$7 miliar atau setara 2,6% dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu jauh lebih lebar dari CAD periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$5,19 miliar atau 2,01% dari PDB. 

Pada periode akhir kuartal I-2019 tersebut, rupiah pun menunjukkan pelemahan berturut-turut. Terutama setelah pemilihan presiden 17 April 2019 lalu, mata uang garuda terus melemah 2,82% bahkan sempat tidak pernah menguat dalam 10 hari beruntun hingga 7 Mei 2019, dan hanya menguat tiga kali dalam 18 hari perdagangan terakhir.

Kondisi tersebut berlanjut dan semakin parah setelah rilis laporan neraca perdagangan kemarin diumumkan. Rupiah hari itu, Rabu (15/5) bergerak di kisaran Rp14.438 hingga Rp14.463 per dollar AS. Kurs tengah Bank Indonesia menunjukkan Rupiah melemah menjadi Rp14.448 per dolar AS dibanding hari sebelumnya yang di posisi Rp14.444 per dolar AS.

Hari itu pula, rupiah ditutup melemah 29 poin atau 0,20% di level Rp14.463 per dolar AS.

Ekspor CPO susut

Bank Indonesia (BI) menilai defisit neraca perdagangan April 2019 terjadi sebab dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun.

"Yang pada gilirannya menurunkan kinerja ekspor Indonesia," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko melalui rilis resmi yang dikutip Alinea.id pada Rabu (15/5).

Hal senada juga diungkapkan oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto. "Kembali memanasnya perang dagang dan tren perlambatan ekonomi global telah mengganjal laju ekspor Indonesia terutama penurunan ekspor CPO (Crude Palm Oil/Minyak Kelapa Sawit)," ujar Eko kepada Alinea.id

Penurunan ekspor CPO dapat dilihat dari kontraksi pada golongan barang (HS) lemak dan minyak hewani/nabati yang turun sebesar 19,11% dibanding Maret 2019. 

"Di sisi lain impor meningkat dalam tiga bulan terakhir yang semakin melebarkan defisit neraca perdagangan RI," katanya.

Mengutip data BPS, kenaikan impor paling besar disumbang oleh barang konsumsi yang mencapai 24,12% atau naik dua kali lipat dibanding kenaikan impor bahan baku penolong, dan tiga kali lipat dari kenaikan impor barang modal.

"Impor yang naik jelas terpengaruh permintaan yang meningkat menjelang musim Ramadan dan Lebaran," ucapnya.