sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ekonom prediksi pasar saham dan obligasi lebih positif tahun 2020

Tren penurunan suku bunga dan tingkat inflasi yang rendah akan mendorong kinerja pasar saham dan obligasi.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Jumat, 17 Jan 2020 17:11 WIB
Ekonom prediksi pasar saham dan obligasi lebih positif tahun 2020
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan menilai pasar obligasi dan pasar saham berpotensi tumbuh lebih positif pada tahun ini dibandingkan 2019.

Katarina mengungkapkan tahun 2019 merupakan periode yang suportif bagi pasar obligasi didukung oleh tren penurunan suku bunga dan tingkat inflasi yang rendah. 

“Iklim yang suportif masih akan berlanjut di 2020," ujar Katarina dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (17/1).

Menurut Katarina, suku bunga Bank Indonesia diperkirakan tetap akomodatif, inflasi terkendali dan nilai tukar rupiah terjaga. Selain itu, kondisi pasar obligasi dunia juga suportif bagi pasar obligasi Indonesia.

Saat ini, sekitar US$12 triliun obligasi pemerintah global menawarkan imbal hasil negative. Hal ini berpotensi mendorong investasi ke pasar obligasi yang memiliki imbal hasil tinggi seperti di Indonesia.

Pasar obligasi Indonesia tahun lalu tumbuh 10%, jauh dibandingkan kinerja pasar saham yang stagnan di 2019 di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 1,7%.

Kendati demikian, Katarina memiliki pandangan yang konstruktif untuk pasar saham Indonesia. Setelah kinerja tahun 2018 dan 2019 yang mengecewakan, pasar saham mulai menunjukkan prospek yang lebih positif.

Perubahan terutama terjadi dari sisi pasar global dengan tensi dagang Amerika Serikat-China yang mereda dan juga ekspektasi membaiknya aktivitas perdagangan global. 

Sponsored

“Iklim pasar yang lebih positif ini dapat memberi dampak positif bagi kinerja pasar saham Indonesia," ujar Katarina.

Selain itu, dari sisi domestik, pasar juga memperkirakan pertumbuhan pendapatan emiten yang lebih baik tahun ini di kisaran 10%-12%, lebih baik dari 3%-5% pada 2019. Iklim politik domestik juga sudah lebih kondusif setelah periode pemilihan umum dan pembentukan kabinet selesai.

"Rencana reformasi kebijakan perpajakan dan ketenagakerjaan pemerintah untuk menarik investasi asing dapat menjadi faktor katalis yang mengangkat daya tarik pasar saham Indonesia," katanya. (Ant)

Berita Lainnya