sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ekspor batu bara Indonesia ke China tidak terdampak coronavirus

Coronavirus justru mengerek Harga Batu bara Acuan (HBA) pada Februari 2020.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Kamis, 13 Feb 2020 15:15 WIB
Ekspor batu bara Indonesia ke China tidak terdampak coronavirus

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan seluruh aktivitas investasi maupun operasional komoditas batu bara masih berjalan normal.

Direktur Jenderal Minyak dan Batu bara (Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menyatakan ekspor batu bara dari Indonesia ke China juga  tidak terpengaruh coronavirus. 

Apalagi, kata dia, ekspor selama ini masih dijadikan sebagai kebutuhan energi pembangkit bukan barang industri. Bambang juga menyatakan kurang lebih 30% dari total produksi batu bara Indonesia diekspor ke Negeri Tirai Bambu.

"Corona kalau dari sisi batu bara mungkin belum (berdampak), ini kan baru sebentar. Mungkin kalau kami lihat alasannya sebagai energi bukan komoditas untuk industri," jelas Bambang.

Namun, apabila penyebaran coronavirus berlangsung dalam waktu lama, lanjut Bambang, tak menutup kemungkinan memberikan sentimen negatif pada kelangsungan komoditas batu bara. 

"Kalau sudah enam bulan baru kelihatan. Saya gak tau selesai kapan (virusnya). Kita lihat nanti," ujarnya

Sejauh ini, kata dia, pemerintah belum menerima laporan khusus atas terganggunya kegiatan perdagangan Indonesia - China di sektor mineral dan batu bara akibat penyebaran Covid-19.

"Perusahaan belum ada yang datang ke kami untuk mengurangi produksi atau ekspor ke Tiongkok," kata Bambang.

Sponsored

Sentil HBA Februari

Di sisi lain, Bambang mengungkapkan penyebaran coronavirus ini menyebabkan lesunya industri Tiongkok sehingga berujung pada pasokan (stockpile) yang kian menepis. 

Merosotnya pasokan batu bara Tiongkok mengakibatkan Harga Batu bara Acuan (HBA) pada Februari 2020 ikut terkerek ke angka US$66,89 per ton. 

"Harga batu bara naik sedikit," ungkap Bambang.

Catatan HBA bulan ini naik tipis dibanding Januari yang berada di level US$65,93 per ton atau naik 1,45% (US$0,96 per ton). Ketentuan HBA tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 43 K/32/MEM/2020 dan berlaku sejak 1 Februari 2020.

Faktor lain yang menjadi dominan atas pembentuk HBA adalah bencana kebakaran yang sempat melanda Australia serta meningkatnya permintaan batu bara di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan selama musim dingin. Sementara, India dan Tiongkok membatasi impor dan memanfaakan produksi dalam negerinya sendiri.

HBA Februari akan digunakan untuk penjualan langsung (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batu bara yang umum digunakan dalam perdagangan batu bara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya. 

Berita Lainnya