sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kemenperin: Ekspor industri logam dasar di kuartal I-2021 sebesar US$5,87 miliar

Permintaan terhadap produk baja di pasar ekspor mengalami peningkatan hingga kuartal pertama tahun ini.

Hermansah
Hermansah Senin, 26 Jul 2021 21:22 WIB
Kemenperin: Ekspor industri logam dasar di kuartal I-2021 sebesar US$5,87 miliar

Industri baja memberikan kontribusi signfikan bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan pada investasi, penyerapan tenaga kerja, hingga sumbangsih nilai ekspornya. Pada triwulan I -2021, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebagai kelompok penyumbang terbesar pada penanaman modal di sektor manufaktur dengan mencapai nilai Rp27,9 triliun (berkontribusi 12,7%).

Berikutnya, pada Januari-Maret 2021, nilai ekspor industri logam dasar tercatat sebesar US$5,87 miliar atau naik 7% dibanding capaian di periode yang sama tahun lalu mencapai US$5,48 miliar.

“Artinya, industri baja terus memberikan kontribusi besarnya bagi penerimaan devisa, terutama dalam proses hilirisasi atau peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri,” jelas Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/7).

Meskipun di tengah hantaman dampak pandemi Covid-19, permintaan terhadap produk baja di pasar ekspor mengalami peningkatan hingga kuartal pertama tahun ini, seiring dengan berjalannya kegiatan kontruksi.

“Kami juga terus mendorong peningkatan penggunaan produk baja di dalam negeri, karena pembangunan konstruksi di tanah air yang masih terus berjalan,” imbuhnya.

Taufiek mengemukakan, hampir seluruh negara mengalami penurunan produksi baja pada 2020 karena dampak pandemi. Namun hal tersebut tidak terjadi di beberapa negara, seperti China yang produksinya justru meningkat 5,2%. Berikutnya, produksi baja di Turki meningkat 6%, Iran meningkat 13%, dan Indonesia mampu meningkat hingga 30,25% dibandingkan pada 2019.

Adapun kemampuan industri baja nasional, tercemin dari kapasitas produksi bahan baku baja nasional (slab, billet, bloom) saat ini lebih dari 13 juta ton dengan perkiraan produksi 2020 sebesar 11,6 juta ton atau meningkat 30,25% dibanding 2019 yang mencapai 8,9 juta ton. Selain itu, utilisasi pada 2020 juga meningkat hingga 88,38% dari 2019 sebesar 67,86%.

“Sektor industri baja merupakan indikator perekonomian suatu negara. Artinya, kalau industri bajanya tumbuh, tentunya ekonomi kita bisa terbangun dengan kuat. Selain itu, yang penting adalah kita harus mengoptimalkan produk-produk dalam negeri,” tegasnya.

Sponsored

Seiring dengan kebijakan substitusi impor sebesar 35% pada 2022 yang diinisiasi oleh Kemenperin, Indonesia berhasil menekan impor baja hingga 34% pada 2020 dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Berita Lainnya