logo alinea.id logo alinea.id

Pasar volatil, emiten tunda penerbitan saham dan obligasi

"Investor masih khawatir terhadap volatilitas yang ada akibat faktor eksternal.’’

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 10 Sep 2019 18:51 WIB
Pasar volatil, emiten tunda penerbitan saham dan obligasi

Ketidakpastian global yang masih berkepanjangan akibat memanasnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, serta dimulainya era suku bunga rendah memicu minimnya penerbitan saham dan obligasi. 

Direktur Utama PT Bahana Sekuritas Feb Sumandar mengatakan beberapa emiten yang tadinya berencana menerbitkan saham atau pun obligasi, menahan diri lantaran khawatir tak mampu diserap oleh pasar

Ketidakpastian global menyebabkan meningkatnya volatilitas dan tekanan di pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Di domestik, terjadi anomali. Meskipun di tengah tren suku bunga rendah, namun pasar modal belum moncer.  Biasanya, ketika tren suku bunga mengalami penurunan, pasar saham menjadi menarik.

"Namun, hal itu belum maksimal terjadi di pasar keuangan domestik karena investor masih khawatir terhadap volatilitas yang ada, yang lebih banyak diakibatkan oleh faktor eksternal,’’ kata Feb dalam keterangan tertulisnya yang diterima Alinea.id, Selasa (10/9).

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan memasuki awal September, PT Kencana Energi Lestari Tbk. menjadi perusahaan ke-33 yang mencatatkan saham perdana (IPO) di bursa saham Indonesia. Emiten berkode saham KEEN ini, resmi mencatatkan saham perdana dengan melepas 733 juta saham seharga Rp396 per lembar saham, sehingga total perolehan dana mencapai Rp290 miiar.

Diikuti dengan pencatatan obligasi berkelanjutan Indonesia Eximbank IV sebesar Rp1,018 triliun dan sukuk Mudharabah Berkelanjutan Indonesia Eximbank I 2019 sebesar Rp150 miliar. Dengan demikian, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat hingga awal September 2019 mencapai 73 emisi dari 41 emiten dengan nilai mencapai Rp86,1 triliun.

Capain itu cuma beda tipis dibandingkan tahun lalu. Sepanjang tahun 2018 hingga akhir September 2018, ada sebanyak 37 perusahaan yang mencatatkan saham perdana di BEI. Pada periode tersebut, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat mencapai 63 emisi dari 41 perusahaan dengan total nilai sebesar Rp77,71 triliun.

Padahal, di 2018 bank sentral melakukan pengetatan moneter secara bertahap demi menjaga defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman. Sejak Mei 2018, Bank Indonesia (BI) secara bertahap menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-day reserve repo rate (RRR) dari 4,25% menjadi 6%. Angka itu bertahan hingga Juni 2019. 

Sponsored

Kemudian sejak Juli 2019, BI baru melonggarkan moneter dengan memotong BI 7-day RRR masing-masing sebesar 25 basis points (bps) selama dua bulan berturut-turut menjadi 5,5%. Tujuannya, demi mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

"Dalam kondisi ini, sangat diperlukan adanya instrumen pembiayaan alternatif yang membuat investor yakin untuk berinvestasi. Sehingga pada akhirnya diserap oleh pasar meski kondisi pasar keuangan sedang diliputi volatitlitas tapi tidak akan terkena dampaknya," ujar Feb.