sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Energi terbarukan bisa jadi andalan masa depan

Perlu pembentukan "green bank" untuk mendanai proyek energi baru terbarukan.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Kamis, 17 Jan 2019 15:09 WIB
Energi terbarukan bisa jadi andalan masa depan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Energi terbarukan menjadi solusi untuk menyikapi naiknya harga komoditi global saat ini. Pemerintah harus dapat mengambil langkah untuk dapat mengandalkan energi terbarukan.

Asosiasi Daerah Penghasil Migas, Andang Bachtiar mengatakan dalam konteks ketahanan energi terkait komoditi yang ada, seharusnya Indonesia dapat mengandalkan energi terbarukan.

Sektor Migas diperkirakan akan berubah ke arah energi terbarukan. Apalagi sumber daya untuk mengarah ke energi terbarukan ada di tangan pemerintah.

"Kita harus mempergunakan energi terbarukan misalnya geothermal. Khusus untuk migasnya sendiri, kita harus mempertahankan produksi dalam konteks sesuai dengan rencana atau lebih dari rencana dengan eksplorasi agresif dan juga
enhanced oil recovery (EOR)," ujar Andang di Restoran Tjikini Lima pada Kamis (17/1).

EOR tidak jalan karena salah satu faktor macetnya investasi, tetapi Andang optimis dan selalu menyuarakan kepada pemerintah untuk memulai energi terbarukan.

"Harus dimulai kalau tidak, kita akan terkena tekanan harga komoditi terus, itu akan sangat terpengaruh," katanya.

Kendati demikian, Andang berharap kepada pemimpin yang terpilih nanti agar dapat fokus pada masalah energi Migas. Misalnya segera membangun kilang minyak.

Sementara Peneliti Alpha Research Database Indonesia Ferdy Hadiman, menyarankan pembentukan "green bank" untuk mendanai proyek energi baru terbarukan.

Sponsored

Peneliti Alpha Research Database Indonesia Ferdy Hadiman di Jakarta, Jumat, mengatakan, proyek energi baru terbarukan (EBT) kerap terbentur pada ketiadaan investor.

"Green bank" akan berperan sebagai sumber pendanaan khusus bagi proyek-proyek EBT.

Hal itu sangat dibutuhkan mengingat sampai saat ini, perbankan dan lembaga keuangan formal masih belum melirik segmen pembiayaan khusus untuk proyek-proyek EBT.

Padahal EBT mendesak dikembangkan karena Indonesia juga mengalami defisit transaksi berjalan akibat harga minyak dan produksi minyak yang semakin sedikit.

"Ini berdampak kepada defisitnya APBN sehingga pemerintah mulai melirik EBT untuk dikembangkan. Sayangnya, peran pemerintah masih belum konsisten dalam isu EBT. Saya melihat pembangkit listrik dengan tenaga EBT tidak dirawat, tidak didayagunakan, bahkan ditinggalkan begitu saja oleh pemerintah, sehingga manfaat EBT belum terasa," katanya.

Keahlian dalam memproduksi EBT adalah suatu keharusan untuk menopang produksi energi nasional.

Beberapa BUMN telah merintis dan mengembangkan EBT seperti salah satunya Waskita Karya yang melalui salah satu anak perusahaannya Waskita Karya Energi saat ini sedang membangun pembangkit listrik dari EBT.

Direktur Teknik dan BD Waskita Karya Energi, Hokkop Situngkir mengatakan, pada dasarnya untuk konsep dan teknologi, Indonesia sudah siap mengembangkan EBT. Industri EBT sangat besar potensinya karena juga dapat melahirkan lapangan kerja baru.

"Sayangnya ada beberapa faktor penghalang, antara lain pemerintah belum konsisten dalam menerapkan regulasi soal EBT sehingga menyulitkan investor. Selain itu infrastuktur belum terintegrasi dan masyarakat belum menganggap EBT sebagai hal penting di masa depan. Harus ada solusi yang jelas, sehingga pengembangan EBT dapat berjalan dengan baik", kata Hokkop yang juga merupakan Ketua Bidang Natural Resources Inovator 4.0 Indonesia. (ant)
 

Berita Lainnya