sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Erick Thohir diminta awasi anak BUMN yang IPO di 2020

Dua BUMN karya dipastikan akan mengantar anak usahanya melantai di bursa pada 2020.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 03 Jan 2020 15:43 WIB
Erick Thohir diminta awasi anak BUMN yang IPO di 2020

Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana mengantar anak usahanya untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2020 seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI).

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengatakan, dengan adanya rencana ini, Menteri BUMN Erick Thohir harus mengecek rekam jejak pemangku jabatan di BUMN ataupun anak usaha BUMN yang akan melakukan initial public offering (IPO)

"Yang paling penting itu tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dulu. Karena kalau kita lihat dari beberapa kasus BUMN, integritas menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan," kata Janson saat ditemui di BEI, Jakarta, Jumat (3/1).

Janson melanjutkan, faktor GCG dan integritas menjadi yang paling mengkhawatirkan dari perusahaan BUMN dalam tiga hingga empat tahun terakhir. Hal ini, mengingat skandal beberapa BUMN seperti Garuda Indonesia dan Asuransi Jiwasraya yang jajaran direksinya menyalahgubakan jabatan dan mengabaikan kepentingan publik.

Prospek ke depan

Dari catatan Alinea.id, Wijaya Karya pada Agustus 2019 menyatakan, dua anak usahanya, yakni WIKA Realty dan WIKA Industri dan Konstruksi (WIKON) akan IPO pada semester I-2020. 

WIKA Realty adalah anak usaha WIKA yang didirikan pada 2000 dan bergerak dalam sektor ralty, jasa properti, dan jasa lainnya keculai jasa bidang hukum dan pajak. Sedangkan WIKON juga didirikan tahun 2000 dan bergerak di bidang industri, perdagangan suku cadang mobil, alat teknik, mekanikal, elektrikal, bahan-bahan konstruksi serta usaha jasa konstruksi.

Sementara, Adhi Karya akan mengantar dua anak usahanya IPO, yaitu Adhi Persada Gedung (APG) yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan Adhi Commuter Property (ACP) yang bergerak di bidang properti.

Sponsored

Janson melihat anak usaha BUMN di sektor konstruksi dan properti memiliki prospek yang cukup menarik apabila tercatat (listed) di bursa. Sebab, anak usaha BUMN karya ini sangat berpotensi mendapatkan proyek yang besar. Sebagaimana diketahui, anggaran pembangunan infrastruktur yang telah disepakati pemerintah pada 2020 sebesar Rp419,2 triliun.

Apalagi, lanjut Janson, dengan memperhatikan pertumbuhan laba per saham atau earning per share (EPS) emiten-emiten di sektor properti mencapai 7%-9% pada 2019, dibandingkan dengan pertumbuhan EPS Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya sebesar 4%-5%.

"Jadi emiten BUMN yang terkait konstruksi dan properti masih cukup menarik untuk bisa listed di BEI tahun ini," ujar Jasnon.

Sementara itu, Analis dari Artha Sekuritas Nugroho Fitriyanto mengatakan dari anak-anak usaha BUMN, yang berpotensi untuk prospektif berasal dari anak-anak usaha emiten-emiten konstruksi yang memiliki utang cukup tinggi.

"Dengan melantai di bursa, diharapkan dapat memperbaiki struktur permodalan anak-anak usaha tersebut serta mendapatkan permodalan yang cukup untuk melanjutkan proyek yang saat ini tengah berjalan," kata Nugroho melalui pesan instan.

Berita Lainnya