sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Erick Thohir petakan BUMN terdampak Covid-19

Menteri BUMN Erick Thohir mewaspadai dampak Covid-19 terhadap kelangsungan perusahaan BUMN.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 03 Apr 2020 18:47 WIB
Erick Thohir petakan BUMN terdampak Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah memetakan perusahaan BUMN yang terkena dampak dari pandemi Covid-19 bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Kementerian BUMN mengatakan bank pelat merah di bawah Himpunan Bank milik Negara (Himbara) merupakan salah satu yang terdampak. Menurut Erick, pihaknya akan mewaspadai adanya peningkatan kredit macet atau non performing loan (NPL) akibat relaksasi kredit yang diberikan pemerintah.

Selain Himbara, Kementerian BUMN juga mengantisipasi arus kas PT Pertamina (Persero) dan PLN yang akan terganggu dengan menurunnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"PLN punya bond dolar. Sedangkan Pertamina impor minyak menggunakan dolar, tapi menjualnya dalam bentuk rupiah," ujar Erick dalam rapat kerja virtual bersama anggota komisi VI DPR RI dari Jakarta, Jumat (3/4).

Selanjutnya, Kementerian BUMN juga memetakan adanya penurunan pendapatan untuk BUMN sektor pariwisata dan transportasi. BUMN tersebut seperti PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., PT Kereta Api Indonesia (Persero), Pelabuhan Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero), Angkasa Pura, dan lainnya.

"Ditambah dengan Garuda Indonesia yang memiliki utang jatuh tempo pada Juni 2020 sebesar US$500 juta. Maka sudah pasti cashflow Garuda akan negatif," ujar Erick.

Erick melanjutkan, Garuda Indonesia sebenarnya telah memiliki jalan untuk melunasi utang jatuh tempo tersebut dengan penutupan beberapa rute penerbangan internasional dan penerbangan haji dan umroh.

Awalnya, kata Erick, hal ini berjalan baik. Namun, setelah Covid-19 menjadi pandemi dan beberapa negara tujuan penerbangan Garuda Indonesia menerapkan karantina wilayah (lockdown), hal ini berdampak negatif bagi Garuda Indonesia.

Sponsored

Lebih lanjut, Erick mengatakan, BUMN yang terdampak Covid-19 yakni Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik atau Perum Bulog yang harus melunasi utang jangka pendek mereka.

"Utang ini dikarenakan keterbatasan kas dan penumpukan inventory. Nantinya, bekerja sama dengan Kementerian Sosial, inventory akan digelontorkan sebagai bansos ke rakyat," tuturnya.

Perusahaan BUMN terakhir yang ada dalam pemetaan Erick adalah BUMN Karya yang menghadapi fixed coupon obligasi jangka panjang dengan kondisi tingkat bunga yang rendah saat ini.

"Kami akan bicarakan solusinya dengan Kementerian Keuangan. Kita akan coba mengubah utang jangka pendek BUMN karya ke Himbara jadi utang jangka panjang," ujar Erick.

Menurut Erick, dengan adanya pandemi ini, jumlah dividen Tahun Anggaran 2020 yang ditargetkan sebelumnya, kemungkinan meleset. Erick juga memperkirakan setoran dividen BUMN TA 2021 hanya akan tercapai 50% saja sebelum kembali pulih pada 2022.

"Bahkan dividen tahun 2021 mungkin hanya akan tercapai 50%. Kami harap tahun 2022 bisa kembali stabil," ujar Erick.

Berita Lainnya